Asing Obral 3 Saham BUMN Konstruksi, Serok Cuan Dulu!

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
09 February 2021 10:39
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah melesat pada perdagangan Senin (8/2/2021), saham emiten konstruksi bergerak mixed pada perdagangan sesi I Selasa (9/2/2021) pagi ini. Tercatat tiga saham BUMN konstruksi dilepas asing yang ambil untung dulu (profit taking) dan membuat harganya terkoreksi. 

Padahal sehari sebelumnya, ada kabar masuk investasi senilai US$ 9,5 miliar atau setara dengan Rp 133 triliun (kurs Rp 14.000/US$) ke Sovereign Wealth Fund (SWF) yang kini bernama Indonesia Investment Authority (INA). Hal ini menjadi katalis positif untuk saham sektor konstruksi.

Pergerakan saham kontruksi yang beragam juga didorong oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing di beberapa saham konstruksi.


Simak pergerakan harga saham konstruksi dan net sell asing.

Tercatat, di posisi pertama ada saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT), di mana investor asing melakukan aksi jual bersih di pasar reguler sebesar Rp 7,93 miliar.

Saham WSKT pada perdagangan sesi I melemah 0,94% ke level Rp 1.580/unit. Nilai transaksi saham WSKT mencapai Rp 147,3 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 92,7 juta lembar saham.

Selanjutnya di posisi kedua diduduki oleh saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Investor asing pun melakukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 4,9 miliar. Adapun saham WIKA terpantau melemah 0,99% pada pagi hari ini.

Nilai transaksi saham WIKA mencapai Rp 45,5 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 22,5 juta lembar saham.

Sedangkan di posisi terakhir ada saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang dilego oleh asing di pasar reguler sebanyak Rp 23 juta. Saham JSMR sendiri pagi ini bergerak cenderung flat di level Rp 4.600/unit.

Adapun nilai transaksi saham JSMR pada pagi hari ini mencapai Rp 4,2 miliar dengan dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 917 ribu lembar saham.

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, saat ini sudah sudah ada investasi senilai US$ 9,5 miliar atau setara dengan Rp 133 triliun (kurs Rp 14.000/US$) yang siap masuk ke Sovereign Wealth Fund (SWF) yang kini bernama Indonesia Investment Authority (INA).

Airlangga menjelaskan, INA merupakan sebagai alternatif pembiayaan dan memberikan kepastian hukum beberapa investor global untuk berinvestasi di Indonesia.

Dana sebesar US$ 9,5 miliar yang siap mengalir ke SWF tersebut berasal dari United States International Development Finance Corporation (US DFC), Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Caisse de depot et placement du Wuebec (CDBQ)-Canada (Quebec Deposit and Investment Fund), dan perusahaan pengelolaan aset asal Belanda yakni APG-Netherland.

"Investor global telah mengirimkan letter of interest dan komitmen dari US DFC, JBIC, CDBQ Canada, APG Netherland dengan akumulasi letter of interest US$ 9,5 miliar," jelas Airlangga dalam Indonesia Economic Outlook 2021, Senin (8/2/2021).

SWF adalah mandat dari UU Cipta Kerja. Dengan adanya SWF yang diberi nama Indonesia Investment Authority (INA), RI akan punya kendaraan investasi yang besar. Tak hanya itu, ambisi untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur pun akan menjadi lebih mulus.

Pemerintah diperkirakan akan menyuntikkan modal awal Rp 75 triliun dengan dana Rp 30 triliun berasal dari kas, aset negara, saham BUMN, dan piutang negara. Pada tahap pertama, SWF diharapkan bisa menghimpun dana hingga Rp225 triliun.

Sejauh ini UEA, IDFC (International Development Finance Corporation) dan Softbank telah berkomitmen untuk memberikan US$ 52 miliar.

SWF diprediksi akan menguntungkan saham konstruksi karena akan menjadi sumber pembiayaan baru bagi emiten kontraktor BUMN yang saat ini memiliki utang (leverage) yang tinggi.

Di sisi lain kontrak baru berpotensi meningkat seiring dengan keberlanjutan pembangunan infrastruktur. Outlook untuk sektor konstruksi di tahun ini dinilai positif. Apalagi pemerintah kembali meningkatkan anggaran untuk infrastruktur hingga lebih dari Rp 400 triliun dari APBN.


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading