Diborong Investor, Saham Konstruksi Pelat Merah Melesat

Market - Putra, CNBC Indonesia
15 February 2021 13:04
Pekerja mengerjakan proyek Infrastruktur LRT di Kawasan Cawang-Pancoran, Jakarta, Senin (5/11). Menurut data rilis BPS Kontruksi pada Triwulan ketiga tumbuh 5,79%. bisa dilihat, bahwa 5,79% ini lebih bagus dibandingkan triwulan kedua 2018 yang sebesar 5,73%. Yang disebabkan tumbuh karena Produksi semen meningkat, penjualan semen di dalam negeri penjualannya bagus. Kemudian ada peningkatan belanja modal pemerintah untuk gedung bangunna, jalan, irigasi, yang kenaikan cukup signifikan. Dan pembangunan infrastruktur berlangsung di berbagai daerah baik  meneruskan yang berlangsung, maupun pembangunan yang sudah ada. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten sektor konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan apresiasinya pada perdagangan hari ini (15/2/21) setelah libur Hari Raya Imlek dan melanjutkan kenaikan hari sebelumnya.

Setelah sempat mengalami tekanan dua pekan lalu,saham-saham konstruksi kembali menghijau seiring dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melesat 0,82%.

Sejatinya, sebelum melesat pada perdagangan hari ini, saham-saham konstruksi pelat merah sempat terkoreksi parah bahkan menyentuh level terendah yang diijinkan oleh regulator alias ARB (penurunan maksimal 7% dalam sehari) dua pekan lalu.


Setelahnya saham emiten konstruksi kembali melesat setelah Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, saat ini sudah sudah ada investasi senilai US$ 9,5 miliar atau setara dengan Rp 133 triliun (kurs Rp 14.000/US$) yang siap masuk ke Sovereign Wealth Fund (SWF) yang kini bernama Indonesia Investment Authority (INA).

Airlangga menjelaskan, INA merupakan sebagai alternatif pembiayaan dan memberikan kepastian hukum beberapa investor global untuk berinvestasi di Indonesia.

Dana sebesar US$ 9,5 miliar yang siap mengalir ke SWF tersebut berasal dari United States International Development Finance Corporation (US DFC), Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Caisse de depot et placement du Wuebec (CDBQ)-Canada (Quebec Deposit and Investment Fund), dan perusahaan pengelolaan aset asal Belanda yakni APG-Netherland.

"Investor global telah mengirimkan letter of interest dan komitmen dari US DFC, JBIC, CDBQ Canada, APG Netherland dengan akumulasi letter of interest US$ 9,5 miliar," jelas Airlangga dalam Indonesia Economic Outlook 2021, Senin (8/2/2021).

Simak gerak emiten konstruksi pada perdagangan hari ini.

Data perdagangan mencatat, seluruh emiten konstruksi berhasil menghijau dengan apresiasi hari ini dipimpin oleh emiten BUMN Karya yakni PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang berhasil naik 5,02% ke level Rp 1.570/unit.

Penguatan lain juga dibukukan juga oleh PT PP Tbk (PTPP) yang terapresiasi 4,84% ke level harga Rp 1.840/unit meskipun Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menjatuhkan sanksi kepada PT Pembangunan Perumahan (Persero) sebesar Rp 1 miliar.

Dalam siaran resminya, KPPU menjelaskan sanksi tersebut diberikan kepada PTPP karena terlambat memberitahukan pengambilan saham PT Centurion Perkasa Iman (PTCPI).

PTPP sendiri dikabarkan tidak terima dengan putusan ini dan akan naik banding.

Sedangkan emiten BUMN Konstruksi lain yakni PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga naik 3,86% ke level Rp 1.615/unit. Selanjutnya saham BUMN karya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menjadi BUMN konstuksi dengan penguatan paling minor yakni terapresiasi 2,28% di level Rp 2.020/unit.

SWF adalah mandat dari UU Cipta Kerja. Dengan adanya SWF yang diberi nama Indonesia Investment Authority (INA), RI akan punya kendaraan investasi yang besar. Tak hanya itu, ambisi untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur pun akan menjadi lebih mulus.

Pemerintah diperkirakan akan menyuntikkan modal awal Rp 75 triliun dengan dana Rp 30 triliun berasal dari kas, aset negara, saham BUMN, dan piutang negara. Pada tahap pertama, SWF diharapkan bisa menghimpun dana hingga Rp225 triliun.

Sejauh ini UEA, IDFC (International Development Finance Corporation) dan Softbanktelah berkomitmen untuk memberikan US$ 52 miliar.

SWF diprediksi akan menguntungkan saham konstruksi karena akanmenjadi sumber pembiayaan baru bagi emiten kontraktor BUMN yang saat ini memiliki utang (leverage) yang tinggi.

Di sisi lain kontrak baru berpotensi meningkat seiring dengan keberlanjutan pembangunan infrastruktur. Outlook untuk sektor konstruksi di tahun ini dinilai positif. Apalagi pemerintah kembali meningkatkan anggaran untuk infrastruktur hingga lebih dari Rp 400 triliun dari APBN.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading