Parah Bat! 7 Kasus Gagal Bayar Ini Bikin Boncos Rp 49 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
16 November 2020 15:17
Nasabah Indosurya saat sidang Verifikasi Bilyet di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (19/6/2020)  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gagal bayar lagi. Sektor finansial dan investasi Tanah Air lagi-lagi mendapat sentimen negatif dengan tambahan kasus gagal bayar yang dilakukan perusahaan keuangan.

Setelah sebelumnya ramai perusahaan asuransi, kini giliran perusahaan investasi yakni PT Indosterling Optima Investa (IOI), salah satu entitas di bawah Grup Indosterling yang dibangun oleh Sean William Hanley.

Ini adalah kasus gagal bayar dari salah satu produk investasi yang dikelola IOI, yakni Indosterling High Yield Promissory Notes (HYPN). Produk investasi ini menjanjikan imbal hasil atau return investasi 9% hingga 12% setiap tahun.


Promissory notes (PN) atau surat sanggup bayar adalah surat berharga komersial yang diterbitkan oleh korporasi non-bank berbentuk surat sanggup (promissory note) dan berjangka waktu sampai dengan 1 tahun yang terdaftar di Bank Indonesia. Definisi ini tertuang dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 20/1/PADG/2018.

Kasus Indosterling ini sebetulnya bukan persoalan baru lantaran CNBC Indonesia pernah memberitakan awal sinyal gagal bayar ini pada Mei silam. Saat itu, Indosterling Optima Investa tengah menyampaikan skema restrukturisasi atas produk HYPN atau surat sanggup bayar yang diterbitkan perusahaan.

Dalam dokumen yang diperoleh CNBC Indonesia, skema ini disampaikan kepada pemegang HYPN mengacu pada surat yang disampaikan manajemen pada 14 Mei 2020 perihal pemberitahuan rencana restrukturisasi.

Namun kasus gagal bayar yang cukup menyita perhatian publik ialah PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

CNBC Indonesia mencatat, ada sedikitnya 7 kasus gagal bayar yang sempat terjadi, baik dari perusahaan investasi, asuransi jiwa, hingga koperasi simpan pinjam (KSP). Nilainya, berdasarkan laporan keuangan, pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan pengakuan nasabah diprediksi mencapai Rp 44,9 triliun, di antaranya termasuk potensi kerugian negara Jiwasraya Rp 16,8 triliun.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings bahkan menyebut, beberapa kasus gagal bayar yang menjadi perhatian publik itu menghasilkan kerugian hingga US$ 3,5 miliar atau setara Rp 49 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

"Kegagalan terkait tata kelola telah menghasilkan kerugian hingga US$ 3,5 miliar bagi investor sejak 2018," tulis Fitch 6 Juli silam.

"Serangkaian kasus gagal bayar baru-baru ini akibat kegagalan tata kelola perusahaan di industri keuangan di Indonesia," tulis Fitch Ratings.

NEXT>>Dari Jiwasraya, Kresna Life, hingga Indosterling

Dari Jiwasraya hingga Kresna Life
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading