Laba Bank Mandiri Tembus Rp 14 T di Q3, Kredit Capai Rp 874 T

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
26 October 2020 12:28
Darmawan Junaidi (Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan penyaluran kredit secara konsolidasi naik 3,79% secara year on year (yoy) menjadi Rp 873,73 triliun pada akhir September 2020 dari periode September 2019 yang sebesar Rp 841,86 triliun.

Manajemen Bank Mandiri menegaskan capaian laju penyaluran kredit itu menjadi cerminan upaya perseroan menjaga kontribusi untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi Indonesia yang terdampak pandemi Covid-19.

Penyaluran kredit produktif perseroan secara bank only tumbuh sebesar 3,88% yoy menjadi Rp 616,37 triliun di September 2020, yang terdiri atas kredit modal kerja sebesar Rp 314,82 triliun dan kredit investasi sebesar Rp 301,55 triliun.


Direktur Utama Bank Mandiri yang baru terpilih pada 21 Oktober lalu, Darmawan Junaidi mengungkapkan, saat ini salah satu fokus penyaluran kredit perseroan adalah membantu para pelaku usaha terdampak covid-19, khususnya pelaku UMKM, untuk mengembalikan usaha yang sempat menurun akibat pandemi Covid-19.

"Kami berharap inisiatif ini dapat ikut mengembalikan optimisme dan memulihkan denyut nadi perekonomian Indonesia yang terdampak pandemi covid-19, kata Darmawan, dalam paparan kinerja Kuartal III-2020, secara virtual, Senin (26/10/2020).

Untuk penyaluran kredit ke segmen wholesale, masih menjadi motor pembiayaan perseroan dengan komposisi sebesar 65,3% atau Rp 492,63 triliun.

Nilai tersebut tumbuh 9,73% dari periode yang sama tahun lalu. Adapun pembiayaan ke sektor usaha mikro, menjadi kontributor lainnya, dengan mencatat pertumbuhan sebesar 13,03% secara tahunan menjadi Rp49,07 triliun.

Darmawan menjelaskan, partisipasi lain Bank Mandiri dalam mendukung pemulihan ekonomi Indonesia juga terlihat pada penyaluran kredit dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang mencapai Rp 42,6 triliun per 30 September 2020 kepada 132.979 debitur.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 132.939 debitur atau 99% diantaranya merupakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Di samping itu, lanjut Darmawan, Bank Mandiri juga telah merestrukturisasi kredit 406.434 debitur UMKM terdampak covid-19 dengan nilai outstanding Rp 47,7 triliun per 30 September 2020 untuk mendukung keberlangsungan usaha.

Secara keseluruhan, total kredit yang direstrukturisasi sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 mencapai Rp 116,4 triliun dari 525.665 debitur.

Dorongan kepada pelaku UMKM juga diberikan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hingga September 2020, Bank Mandiri menyalurkan Rp14,74 triliun atau 83,28% dari target penyaluran tahun ini yang mencapai Rp17,7 triliun, dengan jumlah penerima sebanyak 175.140 debitur.

Dengan demikian, outstanding KUR Bank Mandiri sejak tahun 2015 hingga saat ini mencapai Rp36,0 triliun kepada 1,74 juta debitur.

Laba terkoreksi

Pada 9 bulan tahun ini atau per kuartal III-2020, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih mencapai Rp 14,03 triliun, atau turun 30,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 20,25 triliun di tengah pandemi Covid-19.

Bank Mandiri mencatatkan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai Rp 42,16 triliun, turun 4,1% dari periode yang sama tahun lalu Rp 43,94 triliun.

Total margin bunga bersih (net interest margin/NIM) mencapai 4,68% atau turun 90 basis poin bps) dari sebelumnya 5,58%.

Sementara pendapatan non bunga (non interest income) juga turun tipis 0,3% menjadi Rp 19,59 triliun dari sebelumnya Rp 19,64 triliun.

Adapun pendapatan operasional turun 3,1% mencapai Rp 62,98 triliun dari Rp 64,97 triliun. Sementara itu, beban provisi mencapai Rp 15,69 triliun naik 52,8% dari sebelumnya 10,27 triliun.

Darmawan menambahkan, pihaknya terus memastikan strategi pertumbuhan yang berkesinambungan melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan analisis sektor yang cermat dalam penyaluran kredit.

Rasio Non Performing Loan (NPL) secara gross masih terjaga di level 3,33% secara konsolidasi.

"Guna mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi ke depan, kami juga membangun pencadangan untuk memastikan terjaganya kualitas aset. Per September 2020, rasio coverage CKPN [cadangan kerugian penurunan nilai] konsolidasi kami berada di kisaran 205,15% sebagai antisipasi penurunan kualitas kredit akibat pandemi covid-19," ujarnya.

Dia menegaskan, meski meningkatkan pencadangan, Bank Mandiri memastikan bahwa likuiditas perseroan berada pada level yang aman.

Hal ini didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi yang mencapai 14,92% secara tahunan, menjadi Rp1.024,2 triliun, di mana komposisi dana murah mencapai 61,9%.

Dengan berbagai strategi bisnis tersebut, Bank Mandiri pun mampu menjaga kinerja perseroan dengan pencapaian aset konsolidasi yang sebesar Rp1.407 triliun atau meningkat 10,27% yoy.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading