Stimulus AS Mandek Lagi, Harga SBN Tenor 10-15 Tahun Melesat!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
22 October 2020 19:50
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Kamis (22/10/2020) ditutup variatif, seiring dengan masih terkoreksinya bursa saham global dan domestik akibat kabar dari stimulus corona di AS yang kembali "mundur".

Pergerakan harga SBN hari ini cenderung variatif, tercatat SBN tenor 1, 5 dan 30 tahun mengalami pelemahan harga, ditandai dengan naiknya imbal hasil (yield).

Sedangkan sisanya, yakni SBN tenor 10, 15 dan 20 tahun mengalami kenaikan harga dan penurunan yield


Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara turun 1,2 basis poin ke level 6,608% pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Pergerakan harga SBN yang cenderung bervariatif didorong oleh sentimen negatif dari kabar stimulus corona di AS yang yang dikabarkan "mundur kembali".

Pelaku pasar memantau pembicaraan seputar stimulus AS dengan ketakpastian yang terus membayang terkait bisa-tidaknya kesepakatan diraih sebelum 3 November. Namun demikian, komentar Kepala Staff Ketua DPR Nancy Pelosi, Drew Hammill, menjanjikan optimisme baru.

"Juru bicara dan Menteri Keuangan Mnuchin berbincang pada pukul 14:30 selama 48 menit. Pembahasan hari ini membawa kita kian dekat dengan penandatanganan legislasi stimulus," tulis Hammill dalam akun Twitter setelah penutupan pasar Wall Street.

Keduanya, lanjut dia, berencana bertemu lagi besok (Kamis waktu AS). Gedung Putih dan Partai Demokrat terus mempersempit jurang perbedaan seputar prioritas kesehatan, tapi masih banyak yang harus diselesaikan.

Namun, kabar dari Iran bakal bertindak untuk mencampuri pemilihan presiden (pilpres) AS dan Rusia telah mendapatkan informasi seputar pemilih membuat sentimen negatif yang telah ada menjadi bertambah. Hal ini menjadikan pelaku pasar semakin khawatir terkait sentimen yang datang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading