"Ternak" Dolar AS Lagi Boncos, Ini Dia Mata Uang yang Cuan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 October 2020 18:43
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) sedang mengalami tekanan belakangan ini, tercermin dari indeksnya yang terus menurun. Tidak hanya itu, ke depannya dolar AS juga diprediksi akan merosot, oleh karena itu "ternak" dolar AS tentunya berisiko merugikan.

Pada perdagangan Rabu (21/10/2020), pukul 16:28 WIB indeks dolar AS melemah 0,28% ke Rp 92,809. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini sudah menurun sejak Jumat pekan lalu, hingga hari ini total penurunannya 1,12%.

Dolar AS tertekan akibat harapan cairnya stimulus fiskal di AS pekan ini. Stimulus fiskal (seandainya cair) memberikan pukulan ganda bagi dolar AS. Pertama, jumlah uang yang beredar di perekonomian akan meningkat, secara teori nilai tukar dolar menjadi melemah.


Yang kedua, stimulus tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, perekonomian AS diharapkan bisa segera bangkit. Saat sentimen pelaku pasar membaik, dolar AS yang menyandang status safe haven menjadi tidak menarik.

Nancy Pelosi, Ketua DPR (House of Representatif) sudah memulai perundingan dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin sejak awal pekan lalu.

Pelosi yang berasal dari Partai Demokrat mengatakan setelah berbicara dengan Mnuchin dia berharap kesepakatan stimulus corona dapat dicapai pada akhir pekan ini.

Kepala staf Gedung Putih Mark Meadows, juga mengatakan Pelosi dan Mnuchin akan melanjutkan perundingan di hari Rabu, dan berharap melihat adanya beberapa kesepakatan sebelum akhir pekan.

Meski demikian, masih belum diketahui berada nilai stimulus fiskal tersebut. Partai Demokrat yang menguasai DPR AS mengusulkan US$ 2,2 triliun, yang dianggap terlalu besar oleh Pemerintah AS yang mengusulkan US$ 1,8 triliun.

Kabar baiknya, Presiden Donald Trump, memberikan sinyal akan menyetujui stimulus yang lebih besar ketimbang yang diajukan Partai Demokrat.

"Saya akan menyetujui stimulus yang lebih besar dari diajukan Partai Demokrat," kata Trump, sebagaimana dilansir Investing, Rabu (21/10/2020).

Namun, Trump tentunya mendapat tantangan dari partainya sendiri, Partai Republik, yang bahkan menyatakan proposal stimulus US$ 1,8 miliar Pemerintah AS terlalu besar.
Untuk diketahui, DPR AS dikuasai oleh Partai Demokrat, dan Senat AS dikuasai Partai Republik. Sehingga meski DPR-Pemerintah AS sepakat dengan nilai stimulus fiskal, tetap saja harus mendapat persetujuan Senat agar bisa cair.

Hal tersebut yang menyebabkan sulitnya stimulus fiskal gelombang kedua ini cair. Akan tetapi, cepat atau lambat stimulus tersebut tentunya akan cair karena diperlukan untuk membangkitkan perekonomian AS.

Jika pekan ini tidak cair, maka kemungkinan besar akan cari setelah pemilu presiden AS 3 November mendatang, setelah resmi siapa akan menjadi orang nomer 1 di AS, apakah petahana Donald Trump, atau penantangnya Joseph 'Joe' Biden.

Hasil survei Reuters menunjukkan the greenback diramal akan melemah hingga tahun depan.

Hasil survei Reuters terhadap 75 analis di bulan September lalu menunjukkan sebanyak 31% memprediksi harga dolar AS masih akan merosot hingga tahun depan.

Sementara itu, sebanyak 32% dari total yang merespon survei Reuters meramal tren penurunan dolar AS akan berhenti kurang dari 3 bulan.

Mata Uang Eropa Bisa Jadi Primadona, Poundsterling
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading