Bos AstraZeneca Bawa Kabar Baik Vaksin Corona, Apa Itu?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
17 June 2020 06:54
Julie Janke, a medical technologist at Principle Health Systems and SynerGene Laboratory, helps sort samples for different tests Tuesday, April 28, 2020, in Houston. The company, which opened two new testing locations Tuesday, is now offering a new COVID-19 antibody test developed by Abbott Laboratories. (AP Photo/David J. Phillip)

Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Executive Officer (CEO) AstraZeneca PLC, perusahaan farmasi Inggris, mengungkapkan bahwa vaksin coronavirus potensial yang tengah dikembangkan perusahaan kemungkinan akan memberikan perlindungan terhadap tertularnya virus Covid-19 selama sekitar satu tahun.

"Kami pikir itu [vaksin] akan melindungi selama sekitar satu tahun," kata CEO AstraZeneca, Pascal Soriot kepada penyiar Bel RTL, stasiun radio Belgia, dilansir CNBC International, Rabu (17/6/2020).

AstraZeneca sudah memulai uji coba manusia terhadap vaksin yang dikembangkan bersama Oxford University ini. Uji coba fase I di Inggris akan segera berakhir dan uji coba fase III sudah dimulai.


Manajemen AstraZeneca pada Sabtu lalu mengungkapkan bahwa mereka telah menandatangani kontrak dengan Prancis, Jerman, Italia dan Belanda untuk memasok 400 juta vaksin potensial dari perusahaan untuk pasar Uni Eropa. Selain itu, perseroan juga telah menyetujui kesepakatan dengan Inggris dan Amerika Serikat (AS).

"Jika semuanya berjalan dengan baik, kami akan mendapatkan hasil uji klinis pada Agustus atau September. Kami memproduksi secara paralel. Kami akan siap mengirimkan mulai Oktober jika semuanya berjalan dengan baik," kata Soriot.

Italia, Jerman, Belanda dan Prancis diketahui sepakat membayar setoran awal sebesar 750 juta euro atau US$ 843,2 juta (setara Rp 12 triliun, asumsi kurs Rp 14.000/US$) untuk sekitar 300 juta dosis vaksin potensial yang diproduksi AstraZeneca.

CEO AstraZeneca Pascal Soriot/doc.AstraZenecaFoto: CEO AstraZeneca Pascal Soriot/doc.AstraZeneca
CEO AstraZeneca Pascal Soriot/doc.AstraZeneca

Hal ini diungkapkan Kementerian Kesehatan Italia sebagaimana dilansir Reuters, Senin (15/6/2020). Kantor berita Italia juga melaporkan negara-negara itu akan memiliki opsi untuk membeli 100 juta dosis vaksin lanjutan.

Khusus Italia, Negeri Pizza ini akan membayar sebesar 185 juta euro (setara dengan Rp 3 triliun, asumsi kurs Rp 16.100/euro) untuk 75 juta dosis vaksin yang sedang dikembangkan oleh Oxford University.

Namun Ketika dimintai komentar lebih lanjut tentang kesepakatan ini, juru bicara perusahaan farmasi asal Inggris ini mengatakan kepada CNBC International bahwa "AstraZeneca tidak mengungkapkan informasi keuangan apa pun sehubungan dengan perjanjian itu."

Perusahaan mengatakan terbuka untuk berkolaborasi dengan perusahaan lain "untuk memenuhi komitmen perusahaan dalam mendukung akses ke vaksin secara nirlaba alias tanpa keuntungan selama pandemi. Perseroan juga mengantisipasi bahwa biaya pembuatan vaksin akan diimbangi dengan dana dari pemerintah.

Vaksin Covid-19 milik AstraZeneca yang bernama AZD1222 ini sedang menjalani uji klinis fase 2/3 dengan melibatkan sekitar 10.000 sukarelawan dewasa dalam uji coba tahap akhir di Inggris. Vaksin, bernama AZD1222, pada awalnya dikembangkan oleh Oxford di Inggris dan AstraZeneca bekerjasama dengan mitra industri farmasi untuk memproduksi dan mendistribusikan obat

AstraZeneca adalah perusahaan farmasi yang merupakan hasil merger dari perusahaan Swedia Astra AB dan perusahaan Britania, Zeneca Group PLC. Perusahaan tercatat di Bursa New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading