Pangkas 30% Staf, AirAsia Siap Lepas Saham ke Taipan Korsel

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
07 June 2020 09:35
FILE PHOTO: AirAsia Group CEO Tony Fernandes speaks during a news conference at the AirAsia headquarters in Sepang, Malaysia December 13, 2017. REUTERS/Lai Seng Sin/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) terbesar di Asia Tenggara, AirAsia Group Berhad, berencana mengurangi jumlah tenaga kerja hingga 30% seiring dengan rencana sang pendiri, Tony Fernandes, yang mempertimbangkan melepas 10% saham perusahaan untuk mendapatkan dana segar.

Grup maskapai yang sahamnya tercatat di Bursa Kuala Lumpur ini memang tengah dirundung tekanan cukup berat yang juga menimpa industri penerbangan secara global akibat pandemi virus corona (Covid-19).

AirAsia bahkan memangkas sisa gaji para staf hingga mencapai 75% guna bertahan di tengah hantaman dampak Covid-19 ini. Efisiensi ini mencakup pengurangan 60% dari awak kabin dan pilot AirAsia dan afiliasinya, termasuk AirAsia X. Grup AirAsia kini beroperasi di Malaysia, Thailand, Indonesia, Jepang, India, dan Filipina.

Hampir 20.000 karyawan Grup ini sudah dievaluasi kembali secara individual sejak Januari berdasarkan skala gaji dan kinerja, dan gelombang PHK diperkirakan masih terus berlanjut hingga akhir Juli.

Beberapa sumber Asia Nikkei mengungkapkan bahwa maskapai ini, di mana porsi mayoritas saham dipegang Tony Fernandes, berpotensi menjual 10% saham baru guna mendapatkan dana segar. Kabarnya tiga konglomerasi Korea Selatan, yang dipimpin SK Corp, akan menyerap saham baru tersebut.


Penjualan saham baru AirAsia tidak akan memerlukan persetujuan dari rapat umum pemegang saham karena pemegang saham telah diberi mandat bagi AirAsia untuk meningkatkan jumlah saham baru hingga 10% pada rapat pemegang umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 27 Juni 2019.

CEO AirAsia Group Tony Fernandes saat ditemui di RedQ AirAsia Headquarter, Kuala Lumpur, (CNBC Indonesia/Shalini)Foto: CNBC Indonesia/Shalini
CEO AirAsia Group Tony Fernandes saat ditemui di RedQ AirAsia Headquarter, Kuala Lumpur, (CNBC Indonesia/Shalini)

Surat kabar Malaysia, The Star melaporkan bahwa konglomerat terbesar ketiga di Korea Selatan, SK Corp, berpotensi menyerap penerbitan saham baru AirAsia dengan harga 1 ringgit. Aksi korporasi ini bakal menarik dana hingga US$ 78,4 juta atau sekitar Rp 1,09 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$) untuk maskapai ini. 

Mengacu data perdagangan Jumat (5/6/2020), saham AirAsia di Bursa Kuala Lumpur (KLSE) diperdagangkan di level RM 0.86 /saham. Aksi korporasi penerbitan saham baru ini akan dilakukan dengan skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (Non-HMETD) alias private placement.

SK Corp, yang fokus bisnisnya di industri energi dan telekomunikasi melalui 95 anak perusahaannya, membukukan pendapatan US$ 213,6 miliar atau Rp 2.990 triliun pada tahun lalu dan didukung oleh aset senilai $ 257,9 miliar atau Rp 3.611 triliun.

"Semua proposal sedang dibahas oleh Dewan Direksi, dengan keputusan dapat diharapkan segera minggu depan," kata seorang sumber kepada Nikkei, dilansir Sabtu (6/6/2020).

Sementara itu, karyawan yang tersisa juga menerima kebijakan pemotongan gaji berkisar antara 15% -75%. Fernandes pun memangkas pengeluaran modal AirAsia, dan modal kerja semua maskapai yang beroperasi dalam grup ini.

Fernandes dan co-founder maskapai, Kamarudin Meranun bahkan sudah setuju tidak mengambil gaji mereka dalam jangka menengah di tengah situasi sulit ini.

"Anggaran untuk departemen telah dipotong sementara pemotongan gaji diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun depan," kata sumber itu. "AirAsia hanya mengharapkan situasi membaik pada 2022."

"Bonus, kenaikan gaji dan insentif telah ditunda sementara hanya tunjangan perjalanan dan gaji pokok yang dibayarkan," kata sumber itu.

Penjualan anak usaha

Sumber lain yang dekat dengan Fernandes juga mengatakan kepada Nikkei bahwa Fernandes juga tengah menjajaki penjualan anak usaha maskapai penerbangan yang tidak menguntungkan di Jepang dan India.

"Dia [Fernandes] terbuka untuk mengurangi pertaruhan [bisnis] atau bahkan keluar dari Jepang dan India, karena kompleksitas industri dalam negeri dan biaya yang membengkak jika dibandingkan dengan penjualan," sumber itu, yang menolak disebutkan namanya.

Fernandes tidak merespons pertanyaan langsung dari Nikkei.

The Bangkok Post melaporkan pada Mei lalu bahwa Thai AirAsia juga sedang menjajaki merger dengan beberapa maskapai domestik guna bertahan dari dampak pandemi.

Pemerintah Malaysia juga berupaya menyalurkan lebih dari US$ 350 juta atau Rp 4,9 triliun ke tiga maskapai utama di sana yakni AirAsia, Malaysia Airlines, dan Malindo Airways sebagai bagian dari paket penyelamatan ekonomi.

[Gambas:Video CNBC]




Di Indonesia, AirAsia Rumahkan 873 Pekerja, Potong Gaji 328 Orang
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading