Internasional

Sempat Dipesan Garuda, Bombardier Kini PHK 2.500 Pekerja

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
06 June 2020 11:15
FILE PHOTO: A plane flies over a Bombardier plant in Montreal, Quebec, Canada on January 21, 2014. REUTERS/Christinne Muschi/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Pabrikan pesawat dan kereta api asal Kanada, Bombardier Inc menyatakan perseroan akan memangkas 2.500 pekerja, atau sekitar 11% dari total tenaga kerja di unit bisnis penerbangan, karena dampak signifikan dari pandemi coronavirus yang menghantam bisnis aviasi global.

Perusahaan ini tercatat di Bursa Toronto, dengan kode saham BBD.B, dengan harga saham diperdagangkan di level 0,49 dolar Kanada per saham dan kapitalisasi pasar mencapai 775,9 juta dolar Kanada, mengacu data CNBC.

Industri penerbangan menjadi salah satu sektor yang paling terpukul oleh pandemi Covid-19, membuat permintaan perjalanan udara ambles dan memaksa beberapa produsen pesawat, termasuk Boeing Co dan Airbus SE untuk memotong produksinya karena pelanggan (termasuk maskapai penerbangan) menunda pemesanan.


Bombardier's Global 7500, the first business jet to have a queen-sized bed and hot shower, is shown during a media tour in Montreal, Quebec, Canada, December 19, 2018. Picture taken December 19, 2018.  REUTERS/Christinne MuschiFoto: Bombardier's Global 7500 (REUTERS/Christinne Muschi)
Bombardier's Global 7500, the first business jet to have a queen-sized bed and hot shower, is shown during a media tour in Montreal, Quebec, Canada, December 19, 2018. Picture taken December 19, 2018. REUTERS/Christinne Muschi

"Kami sekarang dihadapkan dengan keputusan sulit untuk menyesuaikan ukuran bisnis kami, mengingat adanya gangguan dalam rantai pasokan serta perkiraan penurunan pengiriman unit hingga 30% dibanding tahun lalu akibat pandemi," kata David Coleal, Presiden Bombardier Aviation, dalam sebuah memo kepada para pekerja soal PHK, dilansir Reuters, Sabtu (6/6/2020).

Juru bicara Bombardier Aviation, Mark Masluch mengatakan perusahaan mulai mengurangi produksi, tetapi dia tidak memberikan spesifik terkait dengan informasi pemutusan hubungan kerja (PHK) ini.


Bombardier, yang memiliki hampir 60.000 karyawan di unit penerbangan dan kereta api, mengatakan akan menyiapkan biaya hingga US$ 40 juta terkait dengan PHK atau setara dengan Rp 560 miliar (asumsi kurs Rp 14.000/US$).

Perusahaan, yang baru-baru ini keluar dari bisnis pesawat komersial, sedang dalam proses menjual bisnis relnya ke perusahaan pembuat kereta Prancis, Alstom dengan nilai divestasi mencapai 6,2 miliar euro atau US$ 7,02 miliar, setara dengan Rp 98 triliun.

Dengan divestasi bisnis kereta api, maka Bombardier akan fokus pada bisnis utamanya sebagai pembuat jet bisnis.

The International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAMA) atau Asosiasi Internasional Ahli Mesin dan Pekerja Aerospace mengatakan PHK Bombardier ini akan mempengaruhi 717 anggotanya di Montreal yang sekarang mendapat manfaat dari program subsidi upah darurat yang dilaksanakan oleh pemerintah Kanada dalam mengatasi dampak Covid-19.

Serikat pekerja Bombardier mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ada cara bagi Bombardier untuk menghindari PHK jika perusahaan memperpanjang program subsidi upah darurat, yang berlangsung hingga akhir Agustus.

Masluch mengatakan perusahaan perlu bertindak cepat untuk memberikan informasi yang diperlukan tentang PHK.

Bombardier adalah pabrikan pesawat yang juga dipesan oleh maskapai Indonesia, salah satunya maskapai penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Namun, April lalu, manajemen Garuda mengungkapkan akan menerapkan sejumlah strategi efisiensi guna bertahan di tengah dampak pandemi virus corona (Covid-19).

Selain melakukan relaksasi keuangan, Garuda juga akan negosiasi pembayaran sewa pesawat kepada lessor dan mengembalikan jenis pesawat yang tidak digunakan lagi, yakni CRJ1000 Bombardier.

Tak hanya itu, induk usaha PT Citilink Indonesia dan PT GMF AeroAsia Tbk (GMFI) ini juga akan mengembalikan jenis pesawat yang tidak digunakan lagi, yakni CRJ1000 Bombardier.

"Kita juga sedang pengembalian CRJ yang kita grounded, kita terbangkan jauh lebih merugikan. Ongkos kita grounded setahun 50 juta dolar [Rp 775 miliar]. Ini waktu terbaik negosiasi sewa pesawat kita, kita minta pesawat tersebut diambil aja, kita punya fleet dan konfigurasi lebih pas," kata Direktur Utama Garuda Irfan Setiaputra, dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (29/4/2020).

Sebelumnya, Desember tahun lalu, Garuda dikabarkan gencar mencari pembeli untuk armada pesawat Bombardier CRJ1000 pabrikan Kanada yang dipesan pada 2012 silam.

Laporan keuangan 2019 GIAA menunjukkan Garuda didukung 18 armada Bombardier CRJ1000 Next Gen, sementara armada paling banyak yakni Boeing B737-800 sebanyak 73 unit dan Airbus A330-300 sebanyak 17 unit, sisanya jenis lainnya.

[Gambas:Video CNBC]





(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading