Newsletter

AS Rusuh 7 Hari, Tapi Bara Optimisme Mungkin Lambungkan IHSG

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 June 2020 06:27
Police officers arrest a protester Sunday, May 31, 2020, in Los Angeles, during a demonstration over the death of George Floyd, who died May 25 after he was pinned at the neck by a Minneapolis police officer. (AP Photo/Ringo H.W. Chiu)
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri libur Hari Lahir Pancasila Senin (1/6/2020) kemarin, saat pasar global sedang ceria. Bursa saham, yang menjadi indikator selera terhadap risiko (risk appetite), baik di Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat (AS) kompak menguat.

Padahal di Amerika Serikat sedang terjadi demonstrasi yang berujung kerusuhan. 5 negara bagian mengumumkan status darurat, sementara 40 kota menerapkan jam malam. Presiden AS, Donald Trump bahkan dikabarkan sempat di bawah ke bungker untuk beberapa saat akibat kondisi yang tak kondusif di gedung putih. Belasan ribu pasukan militer Garda Nasional juga sudah diterjunkan guna meredam bara amarah di Negeri Paman Sam.




Kenapa bursa saham global mampu menguat meski sedang terjadi rusuh di AS akan dibahas pada halaman 3 dan 4, yang masih akan menjadi penggerak pasar keuangan dalam negeri hari ini, Selasa (2/6/2020). Selain itu, pelaku pasar global yang kini optimis rupiah akan terus menguat akan dibahas pada halaman 5.

Flashback ke belakang, pasar keuangan dalam negeri juga menghijau pada pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,57% ke level 4.753,612, yang merupakan level tertinggi dalam 7 pekan terakhir. Kemudian rupiah menguat 0,72%, ke Rp 14.575/US$ yang menjadi level terkuat sejak 12 Maret lalu. Rupiah juga membukukan penguatan dalam 7 dari 8 pekan terakhir.



Sementara dari pasar obligasi, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun stagnan di 7,676%.

Pelaku pasar menyambut baik rencana pemerintah memutar kembali roda perekonomian dengan menerapkan tatanan kehidupan baru (new normal), singkatnya roda perekonomian kembali diputar dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Dalam skema new normal di bidang perdagangan, sejumlah pusat perbelanjaan akan dibuka kembali secara bertahap. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebut ada 5 fase atau tahapan yang akan diterapkan.



"Setiap minggu kita lihat, karena kita mau menggerakkan Ekonomi secara cepat. Mungkin dan supaya tak ada distorsi yang lain-lain karena kita harus meningkatkan atau menghidupkan segera yang kemarin banyak pusat perbelanjaan tutup, dan pasar tradisional, dan ini kita harus buka minggu depan dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Agus seperti dikutip CNBC Indonesia dari Rekaman Humas Kemendag, Jumat (29/5/2020).

Fase pertama akan dimulai pekan ini dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pembukaan kembali pasar rakyat dengan pembatasan pengunjung maksimal 50% dari kapasitas. Pedagang bergiliran berjualan dengan jarak maksimal 1,5 meter.
b. Toko swalayan tetap buka dengan menerapkan jarak di antrean. Pada fase ini, departemen store belum boleh beroperasi.
c. Restoran atau rumah makan diperbolehkan membuka layanan makan di tempat atau dine in dengan kapasitas pengunjung maksimal 30%. Sedangkan kafe belum boleh beroperasi.
d. Toko obat atau farmasi beroperasi penuh.
e. Mal, restoran di rest area, salon/spa, tempat hiburan/pariwisata belum boleh beroperasi.

Kemudian fase kedua akan dimulai pekan depan, fase ketiga, keempat, dan kelima akan menyusul di minggu-minggu berikutnya dengan beberapa penambahan ketentuan. Di fase kedua misalnya, akan ada evaluasi untuk membuka kembali departemen store, kemudian fase ketiga tempat hiburan boleh kembali beroperasi dengan jumlah pengunjung yang dibatasi, dan fase keempat jumlah pengunjung di beberapa sektor bisa ditambah.

Fase kelima akan menjadi evaluasi secara menyeluruh, dan diharapkan kegiatan perdagangan dapat beroperasi secara penuh di akhir Juli atau awal Agustus.

Dengan diputarnya kembali roda bisnis, diharapkan dapat meminimalisir bahkan membangkitkan perekonomian secara perlahan, meski harus berhati-hati agar tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga memberikan dorongan penguatan bagi rupiah pada pekan lalu.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini kemarin mengatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya, kembali ke level sebelum pandemi Covid-19 terjadi di kisaran Rp 13.600-13.800/US$.



"Ke depan nilai tukar rupiah akan menguat ke fundamentalnya. Fundamental diukur dari inflasi yang rendah, current account deficit (CAD) yang lebih rendah, itu akan menopang penguatan rupiah. Aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) juga memperkuat nilai tukar rupiah" kata Perry, Kamis (28/5/2020).

"Kami yakni nilai tukar rupiah masih undervalue, dan berpeluang terus menguat ke arah fundamentalnya" tegas Perry.

Pernyataan Perry tersebut berbeda dengan sebelumnya yang mengatakan rupiah akan berada di kisaran Rp 15.000/US$ di akhir tahun. Rupiah kini disebut akan menguat ke nilai fundamentalnya, sehingga memberikan dampak psikologis ke pasar jika Mata Uang Garuda masih berpeluang menguat lebih jauh.

[Gambas:Video CNBC]



Wall Street Lanjutkan Laju Impresif
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5 6
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading