Amerika 'Membara' Tapi Pasar Masih 'Bergairah', Kok Bisa?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
01 June 2020 16:00
Photographers take pictures of a burning police car in the Brooklyn borough of New York, Saturday, May 30, 2020. Demonstrators took to the streets of New York City to protest the death of George Floyd, a black man who was killed in police custody in Minneapolis on May 25. (AP Photo/Seth Wenig)
Jakarta, CNBC Indonesia - Negeri Adikuasa, Amerika Serikat, tengah dilanda demonstrasi yang mayoritas berujung kerusuhan hingga penjarahan. George Floyd seorang warga kulit hitam yang tewas usai lehernya ditekan dengan lutut oleh polisi Derek Chauvin memicu demonstrasi di berbagai negara bagian AS, hingga akhirnya berujung kerusuhan.

Akibatnya 5 negara bagian Texas, Arizona, Georgia, Missouri dan Minnesota menyatakan status darurat. Sementara itu, 40 kota menerapkan kebijakan jam malam.

Presiden AS, Donald Trump, bersama ibu negara Melania Trump serta putra mereka, Barron dikabarkan sempat dibawa ke banker selama beberapa saat akibat aksi demo yang mengepung Gedung Putih.


Hingga saat ini demonstrasi dan kerusuhan sudah terjadi selama 6 hari di AS. Akibat kerusuhan tersebut, Pentagon mengirimkan 5.000 pasukan Garda Nasional, tentara cadangan AS. Tentara diaktifkan di 15 negara bagian dan Washington DC untuk mengamankan situasi bersama polisi.

Yang menarik, pelaku pasar sepertinya "mengabaikan" kerusuhan yang terjadi di AS. Bursa saham Asia bahkan menguat tajam pada perdagangan hari ini.



Penguatan bursa Asia juga menjalar ke Eropa, di pembukaan perdagangan hari ini, indeks FTSE 100 Inggris melesat 1,4%, CAC 40 Prancis +1,5%, dan FTSE MIB Italia +1,3%, sementara bursa saham Jerman libur pada hari ini.

Bursa saham AS baru akan dibuka malam nanti (Senin pagi waktu AS) tetapi indeks berjangka (futures) Wall Street sudah menguat. Indeks Dow Jones futures menguat 0,45%, kemudian S&P futures +0,4% dan Nasdaq futures +0,24%.

Penguatan indeks berjangka tersebut menjadi indikasi Wall Street malam nanti akan dibuka menguat.



Ada optimisme besar di benak para pelaku pasar jika perekonomian global akan segera bangkit melalui tatanan kehidupan baru "new normal", atau singkatnya roda perekonomian kembali diputar dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Sehingga, efek kerusuhan di AS tidak terlalu mempengaruhi sentimen pelaku pasar.

Pada tahun lalu, kerusuhan juga terjadi di Hong Kong (dengan sebab yang berbeda), bahkan selama berbulan-bulan. tetapi nyatanya, indeks Hang Seng Hong Kong masih mampu mencatat penguatan sepanjang 2019.

hsiFoto: CNBC International



Bahkan jika melihat pergerakan indeks Hang Seng sepanjang tahun, penguatan maupun pelemahan lebih dipengaruhi oleh perkembangan hubungan AS-China khususnya masalah perang dagang.

Berkaca dari pergerakan indeks Hang Seng di kala terjadi kerusuhan, hal yang sama sepertinya terjadi di AS. Pasar sepertinya memiliki keyakinan kerusuhan dan demonstrasi pada akhirnya akan berhasil dihentikan, mungkin akan berpengaruh dalam jangka pendek. Tetapi diputarnya kembali roda perekonomian akan memberikan dampak dalam jangka panjang, sehingga lebih mempengaruhi selera terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar.

Negara-negara di Asia, Eropa hampir semuanya akan memutar kembali roda perekonomiannya dengan melonggarkan kebijakan karantina wilayah (lockdown). China, negara awal virus corona, sudah melonggarkan lockdown sejak bulan Maret lalu, dan memberikan bukti perekonomian bisa segera bangkit. Hal tersebut terlihat dari sektor manufaktur yang kembali berekspansi dalam 3 bulan beruntun setelah mengalami kontraksi tajam di bulan Maret.

Minggu kemarin, purchasing managers' index (PMI) manufaktur China bulan Mei dilaporkan sebesar 50,6. Meski menurun dari bulan sebelumnya 50,8, tetapi masih di atas 50, yang artinya sektor manufaktur China masih berekspansi.



Di bulan Maret, PMI manufaktur China berada di level 52, naik tajam ketimbang bulan Februari sebesar 35,7, yang merupakan kontraksi terdalam sepanjang sejarah.

Singapura juga sudah melonggarkan lockdown atau yang disebut "circuit breaker" mulai hari ini. Australia sudah melonggarkan lockdown secara bertahap sejak pekan kedua Mei lalu, dan akan dibuka penuh pada bulan Juli, dengan catatan tidak ada lonjakan kasus Covid-19.

Di Benua Biru, pelonggaran lockdown juga dilakukan sejak bulan lalu, bahkan beberapa negara sudah berencana membuka kembali industri pariwisata, tetap dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Amerika Serikat, yang sedang dilanda kerusuhan juga sudah memutar kembali perekonomiannya sejak bulan lalu. CNBC Internasional mengumpulkan 5 data yang mengindikasikan perekonomian AS kembali berputar.

Pertama dari pergerakan warga yang berjalan kaki maupun berkendara yang didata dengan Apple Maps, menunjukkan kenaikan signifikan di bulan Mei dibandingkan Maret dan April. Kedua industri restaurant yang mengalami kemerosotan hingga 100% di bulan April sudah kembali beroperasi di beberapa negara bagian. Ketiga, tingkat hunian hotel juga menunjukkan peningkatan. Ke-empat transportasi udara yang bertambah, dan kelima pembelian rumah yang kembali meningkat di bulan Mei dibandingkan tahun lalu setelah merosot lebih dari 30% year-on-year di bulan April.

Roda bisnis yang kembali berputar meski secara perlahan tentunya membuat perekonomian perlahan bisa bangkit dari kemerosotan, sehingga terhindar dari resesi panjang bahkan kemungkinan depresi yang ditakutkan pelaku pasar.


Indonesia Bersiap New Normal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading