Bos OJK: Potensi Restrukturisasi Kredit Bisa Tembus Rp 600 T

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
16 May 2020 14:12
Ketua OJK Wimboh Santoso saat berkunjung ke Transmedia, Kamsi (12/4/2018). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, berdasarkan 50% dari total kredit UMKM di perbankan yang mencapai Rp 1.100 triliun - Rp 1.200 triliun, maka potensi kredit yang direstrukturisasi bisa mencapai Rp 500 triliun hingga Rp 600 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, sampai dengan 10 Mei 2020, total kredit UMKM yang sudah direstrukturisasi mencapai Rp 167,1 triliun dari 3,42 juta debitur UMKM.

Jumlah tersebut, kata Wimboh masih dinamis dan masih berpotensi bertambah, seiring dengan proses restrukturisasi yang masih dilakukan oleh perbankan saat ini.

"Dengan asumsi, kalau 50% dan perbankan bilang antara 40% sampai 50%. Kredit UMKM direstrukturisasi, angkanya antara Rp 500 triliun sampai Rp 600 triliun," kata Wimboh dalam video conference, Jumat (15/5/2020).



Kendati demikian, dia mengatakan, jumlah kredit yang membutuhkan restrukturisasi cukup besar, tapi kemungkinan tidak semua membutuhkan penyangga likuiditas.

"Misalnya 50 persen restrukturisasi, jumlahnya Rp 500 triliun itu bukan berarti semua butuh penyangga likuiditas. Dan likuiditas yang disanggah itu hanya perhitungan pokok dan bunga. Misalnya dari April sampai Desember sekitar 9 bulan paling banyak itu sudah paling konservatif," jelas dia.

Lebih lanjut, Wimboh mengatakan, kebutuhan likuiditas bank untuk menopang restrukturisasi kredit UMKM tidak begitu besar. Wimboh pun mencoba memberikan ilustrasi.

Misalnya saja, kata Wimboh, potensi kredit UMKM yang membutuhkan restrukturisasi yakni Rp 500 triliun sampai Rp 600 triliun hanya sepertiganya atau sebesar Rp 200 triliun.

Asumsinya, suku bunga kredit UMKM selama satu tahun sebesar 15%. Namun karena restrukturisasi yang dihitung misalnya saja dari bulan April-Desember 2020, maka suku bunga yang membutuhkan restrukturisasi dalam 9 bulan kurang lebih 12%.


"Suku bunga 12% itu dikalikan Rp200 triliun. Kalau itu 9 bulan, tapi ini belum tentu juga 9 bulan, jadi perhitungannya tidak begitu besar [kebutuhan likuiditas]. Tetapi kami belum sampai detail, itu tadi hanya gambaran," paparnya.

Salah satu bank penyalur kredit UMKM terbesar, kata Wimboh adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Ia menyatakan, BRI memiliki likuiditas yang kuat untuk melakukan restrukturisasi kredit tersebut.


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading