Ada Bank Jangkar, Saham-saham Bank RI Babak Belur

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
16 May 2020 11:20
Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan mekanisme bantuan likuiditas bernama Bank Anchor atau Bank Jangkar atau dalam aturan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun disebut dengan Bank Peserta.

Jadi bank-bank yang selama ini menjadi supplier di pasar uang antarbank (PUAB) nantinya akan menjadi bank anchor atau Bank Jangkar. Tujuan penunjukan Bank Jangkar ini adalah sebagai penyedia likuiditas bagi bank-bank yang mengalami masalah likuiditas akibat Covid-19.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan Bank Jangkar alias Bank Peserta ini akan menjadi bank yang menerima penempatan dana dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Mekanisme bantuan likuiditas ini akan didapatkan Bank Pelaksana dengan menggadaikan kreditnya kepada Bank Jangkar. Hal ini dilakukan jika bank tersebut sudah mentok dari sisi likuiditas dan kondisinya sudah tak memungkinkan lagi melakukan gadai atau repurchase agreement (repo) SBN (surat berharga negara) yang dimilikinya kepada Bank Indonesia (BI).


Wimboh menjelaskan, mekanisme penyangga likuiditas ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dalam PP itu disebutkan, penanganan kebutuhan likuiditas dipenuhi dari kapasitas internal bank terlebih dahulu melalui PUAB/Repo/PLJP (pinjaman likuiditas jangka pendek) Bank Indonesia sebelum mengajukan permintaan bantuan likuiditas dari pemerintah.

Pemerintah kemudian menempatkan dana yang ditujukan untuk memberikan dukungan likuiditas kepada perbankan di Bank Peserta alias Bank Jangkar ini.

Risiko yang ditanggung pemerintah terhadap bank di mana pemerintah menempatkan dananya itu dijamin oleh LPS.

Kemudian Bank Pelaksana mengajukan proposal penyangga likuiditas kepada Bank Peserta. Khusus Perusahaan Pembiayaan dan BPR (bank perkreditan rakyat) juga bisa mengajukan proposal penyangga likuiditas kepada Bank Pelaksana.

Risiko kredit dari penempatan likuiditas ke Bank Pelaksana dimitigasi dengan agunan kredit lancar dan dijamin LPS.

"Di dalam PP 23 itu, disebutkan Bank Peserta ini nanti bisa memberikan ruang pinjaman ke bank lain atau Bank Pelaksana dengan underlying-nya atau dengan jaminannya kredit-kredit yang direstrukturisasi tadi," kata Wimboh, dalam teleconference, Jumat (15/5/2020).

Jadi simpelnya, mekanisme bantuan likuiditas ini akan didapatkan Bank Pelaksana dengan menggadaikan kreditnya kepada Bank Peserta. Hal ini dilakukan jika bank tersebut sudah mentok dari sisi likuiditas dan kondisinya sudah tak memungkinkan lagi melakukan repo SBN ke BI.


Sementara itu, Kemenkeu nantinya akan menempatkan sejumlah dana menjadi deposito di bank-bank jangkar. Dana ini bersumber dari penerbitan surat utang yang akan diserap oleh Bank Indonesia.

Adanya Bank Jangkar ini ternyata direspons negatif oleh pelaku pasar pada penutupan perdagangan Jumat kemarin (15/5/2020), ditambah memang ada sentimen dari penurunan kinerja sektor perbankan di kuartal I dari bank-bank pemerintah, dan data neraca perdagangan RI yang buruk.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore kemarin ditutup di zona merah meskipun saat pembukaan sempat dibuka menguat 0,21% ke level 4.523,53, akhirnya ditutup turun 0,14% ke level 4.507,60.

Penurunan ini sangat disayangkan karena berberapa bursa Asia lain mengalami kenaikan setelah rilis data produksi industri China yang mengalami kenaikan signifikan sebesar 3,9% angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan yang hanya sebesar 1,5%, apalagi bila dibandingkan dengan bulan lalu yaitu kontraksi sebesar 1,1%. Perbaikan ini terjadi karena pabrik-pabrik di China sudah mulai beroperasi setelah dilonggarkanya karantina.

Investor nampaknya cuek dengan sentimen positif ini dan lebih memilih fokus kepada rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) soal neraca dagang tadi pagi yang menunjukkan bahwa impor dan ekspor di Indonesia pada April lalu tumbuh lebih lambat dari ekspektasi dan terjadi defisit neraca dagang.



Pada perdagangan kemarin, investor asing kembali melanjutkan aksi jual bersih yang sangat masif sebanyak Rp 1,06 triliun. Saham yang paling banyak dijual asing hari ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang sahamnya dijual bersih asing sebanyak Rp 465 miliar yang menyebabkan saham ini terkoreksi sebesar 4,68% ke level harga Rp 2.240/saham.

Selain BRI, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga minus hingga 5,65% di level Rp 3.340/saham, asing keluar Rp 46 miliar. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pun turun menjadi Rp 3.760/saham atau terkoreksi 4,81% dan asing jual bersih Rp 125 miliar di semua pasar.

Sementara bank swasta dengan kapitalisasi terbesar yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga turun 2,74% di level Rp 23.925/saham, asing keluar Rp 412 miliar di semua pasar.

[Gambas:Video CNBC]


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading