Mau Disuntik Rp 3,4 T, Saham Solusi Bangun Kena Auto Reject!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
23 April 2020 12:34
Truk semen siang mendistribusikan produk (dok. Semen Indonesia)
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham perusahaan semen anak usaha PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), yakni PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) atau SBI yang sebelumnya bernama PT Holcim Indonesia, tiba-tiba melesat mencapai level batas atas auto reject sebesar 25% menjadi Rp 1.300/saham.

Rencana investor asal Jepang, Taiheiyo Cement Corporation (TCC) yang bakal menyuntikkan modal senilai US$ 220 juta atau Rp 3,41 triliun (asumsi kurs Rp 15.500/US$) ke SBI tampaknya menjadi sentimen penggerak penguatan saham ini.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada penutupan sesi I, Kamis ini (23/4/2020), saham SMCB melesat 25% di level Rp 1.300/saham dari harga penutupan Rabu kemarin di level Rp 1.040/saham. Nilai transaksi saham ini masih cenderung rendah yakni Rp 300,67 juta dengan volume perdagangan 232.100 saham.


Penguatan ini membuat saham SMCB dalam sebulan terakhir melesat 52,94% dan year to date atau tahun berjalan naik 10,17%. Penguatan saham emiten semen yang dulunya bernama PT Semen Cibinong Tbk ini terjadi bersama dengan dua emiten lain yang juga melesat sangat tinggi, yakni PT Kedaung Indah Tbk (KICI) 30,26% dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) 25%.

Adapun saham SMGR naik 0,72% di level Rp 6.950/saham.


Direktur SBI Agung Winarto, mengatakan suntikan modal Taiheiyo ini akan dilakukan melalui penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue).

Nantinya perusahaan Jepang ini setidaknya akan memiliki 15% saham di SBI usai transaksi tersebut dilakukan. Perusahaan akan meminta restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang rencananya akan dilaksanakan pada Juli atau Agustus mendatang.

"Kurang lebih 15%, jadi itu nanti ada saham baru yang dikeluarkan SBI yang nanti kurang lebih setara 15% jadi kepemilikan TCC di SBI dan kepemilikan publik dari dari 7,6 miliar akan meningkat," kata Agung kepada CNBC Indonesia, Rabu (22/4/2020).

Agung mengatakan, targetnya aksi korporasi ini akan dirampungkan selambatnya di akhir 2020. Nantinya dana segar dari aksi ini akan digunakan SBI untuk menambah modal kerja perusahaan

Dia mengatakan, dengan masuknya pemegang saham baru ini perusahaan akan mendapatkan pasar penjualan baru untuk semen yang diproduksinya dengan memanfaatkan pasar ekspor yang sudah dimiliki TCC.

"Itu kan perusahaan terkemuka, selain semen dan sustainability, mereka hebat dalam pengembangan daur ulang dan juga green company. Kita memiliki value sama dengan mereka," terang dia.

Adapun pelaksanaan rights issue ini nantinya juga akan meningkatkan kepemilikan saham publik di perusahaan. Saat ini pemegang saham perusahaan terdiri dari Semen Indonesia sebesar 98,30% dan publik 1,69%.

[Gambas:Video CNBC]


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading