Analisis Fundamental

Emiten Batu Bara Babak Belur di 2019, Adakah Harapan di 2020?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
02 April 2020 15:41
Laba bersih emiten batu bara RI tergerus signifikan pada 2019. Tahun 2020 masih akan diwarnai dengan pelemahan permintaan akibat corona
Jakarta, CNBC Indonesia - Di sepanjang tahun 2019, emiten batu bara Tanah Air membukukan penurunan laba bersih akibat turunnya pendapatan yang dibarengi dengan meningkatnya beban biaya.

Prospek batu bara tahun ini masih terlihat buram dengan adanya wabah corona atau COVID-19 yang jadi pandemi global.

Tahun 2019 bukan tahun yang mudah dilalui oleh emiten batu bara Tanah Air. Emiten pertambangan batu bara RI membukukan penurunan pendapatan pada 2019 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year on year/yoy).


Penurunan pendapatan diakibatkan oleh pelemahan harga batu bara terutama dengan nilai kalori tinggi (> 6.300 Kcal/Kg) yang berdampak pada penurunan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) batu bara.

Pada 2019 harga batu bara termal Newcastle (6.000 Kcal/Kg) anjlok lebih dari 30%. Emiten yang memiliki portofolio produk batu bara berkalori tinggi seperti PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG) merasakan benar dampak dari pelemahan harga batu bara berkalori tinggi.

Di sepanjang tahun 2019, ITMG mencatatkan penurunan ASP sebesar 20,1% (yoy), sehingga membukukan penurunan pendapatan total sebesar 14,5% (yoy).

Walau ASP emiten batu bara pelat merah yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan penurunan, tetapi peningkatan volume penjualan mengakibatkan kenaikan pendapatan (+2,9% yoy).

Penurunan pendapatan yang dialami oleh sektor batu bara RI ternyata tidak dibarengi dengan penurunan biaya produksinya. Malah pos ini membengkak, sehingga berakibat pada tergerusnya margin perusahaan.

Laba bersih dari emiten pertambangan batu bara Tanah Air di tahun 2019 anjlok drastis. Bahkan ada yang anjlok hingga lebih dari 100%. Pelemahan harga batu bara yang terjadi pada 2019 memicu perusahaan untuk melakukan efisiensi operasi.



Salah satu caranya adalah dengan menyesuaikan nisbah kupas (stripping ratio). Stripping ratio adalah perbandingan antara volume masa batuan yang dibongkar (lapisan tanah tertutup) dengan batu bara yang diambil.

Karena kegiatan ini memakan biaya yang besar dalam kegiatan pertambangan, maka perusahaan berupaya untuk menurunkan nilai nisbah kupasnya. Bagi perusahaan tambang batu bara yang memiliki nisbah kupas rendah seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), hal ini menjadi keuntungan kompetitif dari segi beban biaya.





[Gambas:Video CNBC]



Prospek 2020 Masih Suram
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading