Sebuah Renungan

Sebenarnya Indonesia Sudah Siap Belum sih Hadapi Corona?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 March 2020 16:06
Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah kasus infeksi virus corona (COVID-19) di tanah air terus bertambah dan menjadi ancaman bagi perekonomian nasional. Stimulus fiskal disiapkan dan kelonggaran moneter diberikan untuk meredam dampak COVID-19 terhadap perekonomian domestik.

Namun apakah hal itu sudah cukup? Apakah Indonesia berarti sudah siap menghadapi wabah ganas yang diyakini berasal dari China ini? Mari kita ulas poin per poinnya.





Jumlah korban akibat wabah COVID-19 di dalam negeri terus bertambah dengan laju 30,3% per harinya. Kasus COVID-19 muncul pertama kali di Indonesia pada 2 Maret 2020. Kala itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan dua orang Indonesia pertama yang terjangkit COVID-19.

Dalam 23 hari berselang, pertambahan jumlah kasus semakin tinggi. Per kemarin (24/3/2020) jumlah kasus COVID-19 di dalam negeri sudah mencapai 686 orang dengan 55 orang dinyatakan meninggal dunia.

Artinya rata-rata ada penambahan jumlah kasus kurang lebih 30 dalam sehari dalam kurun waktu kurang dari satu bulan ini. Berbagai sumber memperkirakan bahwa puncak wabah ini akan terjadi di bulan April atau Mei saat bulan Ramadan nanti.

Berdasarkan kajian Pusat Pemodelan Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB), model pertambahan jumlah kasus di Indonesia menyerupai Korea Selatan. Dokumen tersebut memperkirakan jumlah kasus di Indonesia bisa mencapai lebih dari 8.000.






Tingkat keparahan dan seberapa lama wabah ini merebak di tanah air tentu berpengaruh terhadap aktivitas perekonomian. Akibat merebaknya wabah ini, prospek ekonomi Indonesia pada 2020 menjadi suram. Banyak ekonom memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh di bawah 5%.

Bahkan jika jumlah kasus terus bertambah signifikan dan wabah tak segera dapat ditangani, pertumbuhan ekonomi tanah air bukan tak mungkin untuk nyungsep lebih dalam. Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyampaikan, akibat wabah COVID-19 ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 0%, alias tak tumbuh.

"Dengan skenario tersebut, kami melihat pertumbuhan ekonomi tentu dari covid-19 ini apabila masalahnya lebih berat, seperti kalau durasi covid-19 bisa lebih dari 3-6 bulan, dan kemudian terjadi lockdown dan perdagangan internasional bisa drop di bawah 30 persen. Sampai dengan beberapa penerbangan drop sampai 75-100 persen, maka skenario bisa menjadi lebih dalam. Pertumbuhan ekonomi bisa mencapai di antara 2,5 persen bahkan sampai ke nol persen," paparnya.



"Sampai saat ini, kami juga belum bisa menyampaikan berapa resize-nya karena, penganan COVID-19, kita juga berharap adanya penemuan vaksin anti virus. Kalau bisa dilakukan cepat, tentu ini akan dampaknya pendek," imbuh Sri Mulyani.




"Oleh karena itu yang kita lakukan melakukan persiapan berdasarkan kemungkinan terjadi. Pak Presiden meminta skenario itu untuk disiapkan, apa artinya bila ekonomi di atas 4%, apa artinya kalau tumbuh di bawah 4%. Apa itu di atas 3% atau di bawah 3%. Dan apakah kemudian mendekati yang lebih rendah," katanya.



"Kita nggak mengharapkan itu terjadi. Makanya langkah-langkah safety net dan sektor usaha supaya tetap berjalan, harus dilakukan. Ini fokus yang kita lakukan bersama Pak Menko Perekonomian dan OJK," tegasnya.



[Gambas:Video CNBC]




Stimulus Fiskal Dipersiapkan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5 6
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading