China Kurangi Porsi US Treasury, IHSG Bakal Melemah Lagi?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 May 2019 08:54
China Kurangi Porsi US Treasury, IHSG Bakal Melemah Lagi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih rentan pada perdagangan Jumat akhir pekan ini (17/5/2019). Berembusnya kabar China yang akan menjual kepemilikan obligasi pemerintah AS, US Treasury, bakal menjadi katalis negatif bagi pergerakan bursa saham Tanah Air.

Kamis Kemarin, IHSG kembali terkoreksi cukup dalam 1,42% ke level 5.895,74 kendati Bank Indonesia tetap memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 6%, menandai pelemahan IHSG dalam 4 hari beruntun.

Berbeda nasib dengan IHSG, mayoritas bursa saham utama di Asia justru ditransaksikan di teritori positif: Indeks Shanghai naik 0,58%, Straits Times menguat 0,51%, Hang Seng stagnan 0,02%. Sementara itu, Kospi Koresl anjlok 1,2% dan Nikkei 225 terkoreksi 0,59%.


Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, sentimen kabar China yang akan menjual kepemilikan US Treasury-yang saat ini sebagai pemilik obligasi terbesar-dalam kurun waktu 2 tahun bakal menjadi batu sandungan bagi IHSG untuk kembali menguat.

"Tentu hal ini akan menjadi salah satu senjata yang dimiliki China terhadap perang dagang dengan AS," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas, Jumat (17/5/2019).

Dalam 12 bulan terakhir, kepemilikan China atas T-Bond milik AS tersebut telah turun sebesar U$ 67,2 miliar atau setara dengan 5,6%. Saat ini China masih memiliki sekitar 7% atau U$1,12 triliun dari total obligasi pemerintah AS tersebut, turun cukup dalam dari sebelumnya sebesar 12%.

Lembaga jasa keuangan asal Swiss, UBS juga memproyeksikan apabila pengurangan tersebut dilakukan bertahap, maka berpotensi untuk menaikkan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sebanyak 0,4 poin.

Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI tetap memantau risiko global dan stabilitas ekonomi dalam menentukan ruang untuk kebijakan moneter yang akomodatif. Kebijakan moneter itu juga diharapkan sejalan dengan inflasi yang rendah dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Pejabat bank sentral Indonesia juga turut mencemaskan potensi yang terjadi akibat dampak dari perang dagang AS-China.

Bank Indonesia mematok pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) akan berada di kisaran 5 - 5,4%, dengan angka defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) berada di 2,5%-3% dari PDB 2019. Angka itu didukung dengan tingkat inflasi yang diprediksi berada di 2,5%- 4,5%.


"Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG masih berpotensi bergerak melemah dan diperdagangkan pada level 5.820-5.910," tulis Pilarmas.

Senada dengan Pilarmas, Panin Sekuritas menyebutkan IHSG pada perdagangan Jumat ini diprediksi kembali turun dengan penjualan investor asing dalam jumlah besar.


Meski sebelumnya, pasar sempat rebound sesaat terimbas keputusan suku bunga acuan BI, namun IHSG kembali amblas kemarin.

Di sisi lain, tulis Panin, ada informasi beredar bahwa BPJS bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia untuk masuk ke pasar, maka keberadaan mereka dapat membantu meredam penurunan IHSG.

"IHSG sendiri sudah memasuki oversold [jenuh jual], dengan memperhatikan pergerakan kemarin, maka IHSG berpotensi mengulang pola yang sama. Hari ini IHSG berpotensi bergerak variatif dalam kisaran 5.800 - 6.000," tulis Panin Sekuritas.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading