Tanggapan Istana Soal Defisit Neraca Dagang Januari

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
15 February 2019 17:42
Tanggapan Istana Soal Defisit Neraca Dagang Januari
Jakarta, CNBC Indonesia - Istana Negara buka suara mengenai defisit neraca perdagangan Januari yang tercatat paling parah setidaknya dalam 12 tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Januari mencatatkan defisit US$1,16 miliar lantaran kinerja ekspor domestik yang turun cukup signifikan.



Kinerja ekspor Indonesia di Januari mencapai US$13,87 miliar atau turun 4,70% yoy, sementara kinerja impor domestik selama periode tersebut mencapai US$15,03 miliar.


Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika menilai anjloknya kinerja ekspor disebabkan oleh penurunan harga komoditas. Meskipun volume ekspor meningkat, namun rata-rata agregat ekspor turun cukup tajam.

"Penurunan signifikan terjadi pada barang ekspor nonmigas yang terkoreksi hingga 18% yoy, meskipun untuk migas telah terjadi kenaikan harga 30% yoy," ungkap Erani, Jumat (15/2/2019).

"Dengan dominasi ekspor nonmigas hingga 95%, maka nilai ekspor Januari 2019 secara keseluruhan tertekan cukup tinggi," tegasnya.

Neraca Dagang Jebol, Istana Salahkan Kondisi GlobalFoto: Infografis/Melihat Jebloknya neraca Dagang indonesia di 2018/Arie Pratama

Hal ini, kata Erani, disebabkan karena permintaan global yang belum meningkat. Menurut dia, persoalan ini memang kerap terjadi di awal tahun, mengingat belum ada permintaan yang signifikan.

"Selain itu, masalah perang dagang dan penghentian sementara pelayanan publik di AS lumayan menekan prospek ekonomi dunia, termasuk perdagangan global," katanya.

Sebagai informasi, Tim Riset CNBC Indonesia mengumpulkan data defisit neraca dagang Indonesia sepanjang bulan Januari. Data terjauh yang bisa dikumpulkan adalah untuk tahun 2008.

Ternyata, defisit neraca dagang periode Januari 2019 adalah yang terparah dalam setidaknya 12 tahun terakhir. Sebagai catatan, biasanya bulan Januari justru menghasilkan surplus.


Dalam 12 tahun terakhir, hanya empat kali neraca dagang membukukan defisit di Januari sementara surplus tercatat sebanyak delapan kali selama periode tersebut.

Erani memperkirakan kinerja neraca perdagangan Indonesia ke depan akan semakin baik, ditopang dari penurunan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah yang makin kompetitif, dan berbagai langkah diversifikasi ekspor.

Apalagi, sambungnya, berbagai kebijakan pemerintah untuk mengendalikan impor diklaim sudah cukup berhasil, terlihat dari kinerja impor yang menurun.

"Pemerintah akan terus memantau seluruh variabel ekonomi secara reguler, termasuk neraca perdagangan," tegas Erani.


Saksikan pernyataan BPS mengenai kondisi neraca dagang RI di Januari berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading