Terlemah Sejak 1990, Lesunya Ekonomi China Ancam Dunia

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
12 February 2019 13:34
Terlemah Sejak 1990, Lesunya Ekonomi China Ancam Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi terbesar kedua di dunia, China, melaporkan angka pertumbuhan yang membuat cemas pasar global.

Produk domestik bruto (PDB) Negeri Tirai Bambu itu hanya tumbuh 6,6% di sepanjang 2018. Laju ini adalah yang paling lambat sejak 1990.



Padahal, China tumbuh rata-rata 10% sejak 1991 dan sempat menyentuh 14% di 2007 lalu.


Untuk kuartal keempat 2018 saja, pertumbuhan China tercatat 6,4% secara tahunan, sesuai dengan perkiraan ekonom dan merupakan penurunan dibandingkan 6,5% yang dicatatkan di kuartal ketiga, dilansir dari CNBC International.

Kepala Biro Statistik China mengatakan sengketa dagang antara negaranya dengan AS telah berdampak pada perekonomian dalam negeri namun efeknya masih bisa dikendalikan, Reuters melaporkan.

Ia mengatakan ekonomi China telah menunjukkan tren yang melambat namun stabil dalam dua bulan terakhir dan semua itu didorong oleh permintaan dalam negeri.

Terlemah Sejak 1990, Lesunya Ekonomi China Ancam DuniaFoto: Infografis/infografis pdb china 2018 tumbuh paling rendah sejak 1990/Aristya Rahadian Krisabella

Memang, pemerintah China tengah berupaya untuk menstabilkan perekonomiannya dengan cara menekan utang serta mengalihkan motor pertumbuhan ekonomi dari perdagangan luar negeri menjadi konsumsi dalam negeri.

Langkah-langkah tersebut memang menjanjikan perekonomian yang lebih stabil di masa depan namun risikonya ekonomi China menjadi tertekan.

Hal ini juga diperparah dengan upaya pemerintah China menekan tingkat polusi di negara itu dengan membatasi operasional sejumlah pabrik.

Segera setelah pengumuman angka pertumbuhan PDB di 21 Januari lalu itu, Presiden Xi Jinping menyerukan kepada seluruh pihak agar mempertahankan kewaspadaan tingginya terhadap situasi "black swan" sementara kondisi "gray rhino" harus ditangkis.

Situasi "black swan" merujuk pada kejadian yang tidak diperkirakan yang biasanya memiliki konsekuensi ekstrem. Sementara itu, "gray rhino" adalah ancaman yang sangat jelas namun terabaikan.


Ia juga mengatakan perekonomian negara itu menghadapi perubahan yang dalam dan rumit, Xinhua News Agency melaporkan, dilansir dari Reuters. Namun, China akan mempertahankan berbagai operasi ekonomi dalam rentang yang wajar dan harus melakukan evaluasi mendalam mengenai dampak potensial terhadap pasar keuangan saat merumuskan kebijakan.

Pelemahan ekonomi China membuat seluruh dunia gemetar. Selain karena ukurannya yang sangat besar, ekonomi Negeri Tirai Bambu yang lesu juga berarti potensi turunnya permintaan barang-barang impor dan komoditas dari seluruh dunia.

Lemahnya permintaan akan berdampak pada perekonomian negara-negara rekan dagangnya termasuk berbagai perusahaan asing yang melakukan bisnis dengan China.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde bahkan menyebut perlambatan ekonomi China memiliki dampak sistemik. "Jika perlambatan terlalu cepat, itu akan menjadi masalah nyata baik di dalam negeri dan mungkin pada basis yang lebih sistemik," ujarnya di sela-sela World Economic Forum akhir Januari lalu.

Tahun ini, nasib perekonomian China masih digelayuti mendung. IMF memperkirakan negara di Asia Timur itu hanya akan tumbuh 6,2% tahun ini dan di 2020.

"Sebagaimana yang terlihat di 2015-2016, kekhawatiran terkait kondisi kesehatan ekonomi China dapat menyebabkan aksi jual yang tiba-tiba dan luas di pasar keuangan dan komoditas yang menekan rekan dagang, eksportir komoditas, serta negara-negara berkembang lainnya," tulis lembaga tersebut dalam World Economic Outlook Update yang dirilis 21 Januari lalu.


Saksikan video mengenai China yang tak lagi perkasa berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]


(dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading