Internasional

China Krisis Energi hingga Properti, Apa Kabar Ekonominya?

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
15 October 2021 15:55
Ilustrasi bendera China. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan akan melambat pada kuartal ketiga menurut jajak pendapat analis. Ini akibat meningkatnya krisis energi dan guncangan pasar properti, melemahkan negara ini pada saat pemulihan pasca-Covid.

Sebanyak 12 orang analis yang disurvei AFP. mengatakan pertumbuhan diperkirakan akan mencapai 5,0% untuk Juli-September 2021. Ini mewakili perlambatan tajam dari 7,9% dalam tiga bulan sebelumnya.


Mereka juga menurunkan ekspektasi pertumbuhan setahun penuh menjadi 8,1% dari 8,5% yang diprediksi dalam jajak pendapat Juli. Angka resmi akan dirilis pada Senin (18/10/2021) mendatang.

Analis mengatakan perlambatan pertumbuhan China berasal dari pengetatan kebijakan pada beberapa bidang utama, termasuk sektor properti dan dorongan untuk mengurangi emisi karbon.

Christina Zhu dari Moody's Analytics mengatakan perlambatan dalam investasi properti dan harga rumah dapat menekan pertumbuhan karena investasi real estat menyumbang bagian besar dari investasi aset tetap. Diketahui sektor ini menyumbang lebih dari 40% dari total PDB.

"Dua risiko utama untuk sisa tahun ini adalah masalah utang pasar properti dan kekurangan listrik," kata Zhu.

Sementara Oxford Economics mengatakan aktivitas real estat perumahan telah melambat berkat peraturan yang diperketat dan kebijakan kredit untuk pengembang, bersama dengan panduan kepada bank untuk memperlambat pinjaman hipotek.

Kerja keras perusahaan raksasa properti Evergrande juga menyeret sentimen di antara calon pembeli. Evergrande kini memiliki tumpukan utang senilai lebih dari US$ 300 miliar.

Krisis energi juga berkontribusi dalam turunnya pertumbuhan ekonomi China. Penjatahan listrik dalam beberapa minggu terakhir, bersama dengan melonjaknya biaya bahan baku dan dorongan iklim dari pemerintah, menyebabkan berkurangnya kegiatan pertambangan dan produksi manufaktur.

"Gangguan seperti itu tidak hanya akan menekan pasar tenaga kerja dan konsumsi domestik, tetapi juga memiliki efek riak pada perdagangan dan harga global," ujar Zhu.

Banjir yang menutup tambang batu bara awal Oktober ini, dengan cuaca ekstrem telah menghancurkan sektor tersebut. Rangkaian penguncian wilayah (lockdown) setelah munculnya beberapa kasus infeksi juga membuat kota-kota besar terhenti.

Tetapi ekonom UBS percaya China akan lebih menyempurnakan kebijakan untuk menghindari krisis listrik yang tajam, pasca memperkenalkan pedoman untuk meningkatkan produksi dan impor batubara. Menurut mereka, pukulan aktual terhadap PDB akan tergantung pada bagaimana ini dikelola.

Sementara itu, pemerintah berusaha mengalibrasi ulang ekonomi menjadi ekonomi yang digerakkan oleh konsumen dan jauh dari investasi dan ekspor.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading