Utang China Merongrong Indonesia? Sebelum Bicara, Cek Datanya

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
15 October 2021 13:30
Ilustrasi Yuan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu jebakan utang China merebak dan menjadi perbincangan hangat. Atas nama ambisi membangun jalur sutera modern (Belt and Road Initiatives), China memberi utang kepada negara-negara berkembang yang kemudian tidak terbayar. Akhirnya China menjadi penguasa di proyek yang dibangun di negara tersebut.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan 2021 Fiscal Monitor Report mengungkapkan total utang dunia mencapai US$ 226 triliun pada 2020. Dengan asumsi US$ 1 setara dengan Rp 3.199.030 triliun. Tiga juta triliun rupiah. Wow...

"Utang pemerintah, rumah tangga, dan perusahaan pada 2020 adalah US$ 226 triliun. Naik US$ 27 triliun dibandingkan 2019. Ini adalah kenaikan tertinggi dalam sejarah," sebut Vitor Gaspar, Director of Fiscal Affairs IMF, dalam paparan saat rilis laporan.


Sebelumnya, Managing Director IMF Kristalina Georgieva sempat mengingatkan soal tingginya risiko utang ini. Pada masa mendatang, beban utang yang tinggi akan membebani seluruh pelaku ekonomi.

"Beban utang ini bisa membebani laju pertumbuhan ekonomi. Beban utang akan membuat pemerintah, korporasi, sampai rumah tangga mengetatkan ikat pinggang," kata Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF, seperti diberitakan AFP.

Oleh karena itu, Georgieva menegaskan bahwa utang harus dikelola secara berkelanjutan (sustainable). Termasuk membuat prosesnya lebih transparan dan mempersiapkan skema restrukturisasi, terutama kepada para kreditur non-tradisional.

Banyak kalangan menilai kreditur non-tradisional yang dimaksud Georgieva adalah China. Ya, Negeri Tirai Bambu memang telah dan sedang gencar memberi utangan kepada berbagai negara terutama untuk pembangunan infrastruktur dalam kerangka Belt and Road Initatives, ambisi membangun jalur sutera modern.

World Pension Council (WPC) mencatat kebutuhan pembiayaan infrastruktur di Asia saja mencapai US$ 900 miliar per tahun selama 10 tahun ke depan. Ini adalah peluang yang dibaca oleh China.

Ada beberapa contoh negara yang mendapat utangan besar dari China. Pertama Pakistan, yang pada 2013 menyepakati proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Mega proyek ini ditaksir bernilai total US$ 62 miliar yang dibiayai oleh China Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang diinisiasi oleh China, Silk Road Fund, dan Industrial and Commercial Bank of China.

Meski nilai total proyek CPEC adalah US$ 62 miliar, tetapi TopLine Securities (perusahaan sekuritas di Pakistan) memperkirakan bahwa total utang yang harus dibayar mencapai US$ 90 miliar. Setiap tahun, pembayaran utang untuk proyek CPEC diperkirakan rata-rata US$ 3,7 miliar hingga 2030.

Kedua adalah negara tetangga Pakistan yaitu Srilanka. Salah satu proyek China di sana yang mendapat sorotan adalah Pelabuhan Magampura Mahinda Rajapaksa.

Pelabuhan ini mulai beroperasi pada November 2010, dan 85% pembangunannya dibiayai oleh Exim Bank of China. Pada 2016, Pelabuhan Magampura Mahinda Rajapaksa hanya mampu memperoleh laba operasional US$ 1,81 juta, tidak cukup untuk membayar utang kepada pihak China.

Akhirnya pemerintah memutuskan untuk mengalihkan hak operasional pelabuhan kepada China Merchant Port Holdings selama 99 tahun. Kesepakatan ini membuat pemerintah menerima dana US$ 1,4 miliar tetapi harus digunakan untuk membayar utang kepada China.

HALAMAN SELANJUTNYA >> Utang China Mencengkeram Indonesia?

Utang China Mencengkeram Indonesia?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading