IMF: Perlambatan Ekonomi China Bisa Picu Bahaya Sistemik

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
24 January 2019 20:45
IMF: Perlambatan Ekonomi China Bisa Picu Bahaya Sistemik
Jakarta, CNBC Indonesia- Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde, di panel Davos mengatakan bahwa perlambatan ekonomi China saat ini masih 'logis'.

Tapi ia juga memperingatkan perlambatan itu bisa menimbulkan risiko besar jika penurunan terus terjadi dan semakin cepat.

Berbicara di World Economic Forum (WEF), Lagarde mengatakan, ekonomi China yang melambat sedang jadi perhatian. Meskipun tampaknya masih terkendali.





"Bahwa perlambatan ekonomi China wajar. Itu logis, itu benar dan saya pikir masih bisa dikendalikan oleh otoritas China," katanya kepada Geoff Cutmore dari CNBC, dilansir dari CNBC Internasional, Kamis (24/01/2019).


Dow Jones Industrial Average merosot 300 poin setelah China melaporkan pertumbuhan ekonominya yang paling lambat dalam hampir tiga dekade terakhir.

Perang perdagangan yang telah berlangsung lama dengan AS makin menambah kekhawatiran bahwa negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu bisa melambat lebih dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Jika perlambatan terlalu cepat, itu akan menjadi masalah nyata baik di dalam negeri dan mungkin pada basis yang lebih sistemik," tambah Lagarde.

Berbicara juga di panel, Hugo Shong, ketua pendiri IDG Capital. Perusahaannya adalah perusahaan investasi global pertama yang memasuki China pada 1990-an dan investor awal Baidu, Tencent dan Xiaomi. Shong mengatakan, dia saat ini tidak memiliki kekhawatiran nyata untuk kondisi ekonomi China.

"Ya, di masa lalu anda berbicara tentang pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) 8%. Sekarang kami memiliki 6,6% dan saya pikir, mengingat ukuran ekonominya, itu adalah angka yang cukup bagus," katanya.


Pertumbuhan dunia menurun
IMF merevisi dan menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini pada Senin kemarin. Sekaligus memperingatkan bahwa ekspansi bisnis yang gencar beberapa tahun terakhir, terlihat akan kehilangan momentum di tahun ini.

Alasan revisi ini terkait dengan kondisi ekonomi dunia yang masih terbawa perang dagang antara AS dan China, juga karena indikasi pelemahan industri otomotif Jerman yang terdampak kebijakan emisi, serta lemahnya permintaan domestik Italia.


Pada Senin, China mengatakan pertumbuhan ekonomi resminya berada pada 6,6% pada 2018, laju paling lambat sejak 1990.
  (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading