Internasional

Credit Suisse: Ada Peluang Investasi di China, Singapura, RI

Market - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
19 November 2018 18:25
Credit Suisse: Ada Peluang Investasi di China, Singapura, RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham Asia telah dilanda gelombang ketidakpastian yang berasal dari ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China tahun ini.

"Pasar Asia turun 15% tahun ini karena perselisihan perdagangan AS-Cina dan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi," kata Suresh Tantia, ahli strategi investasi di Credit Suisse, kepada CNBC "Street Signs", Jumat (16/11/2018).



Ekonomi Asia pasti akan mengalami perlambatan tahun depan, tambahnya.

Indeks MSCI Asia tanpa Jepang telah jatuh lebih dari 20% dari level tertinggi di 2018 dan Tantia melihat peluang di tengah gejolak.

"Saya suka pasar Asia karena saya pikir ada perbedaan besar antara fundamental dan harga," katanya. "Harga telah bergerak jauh di depan fundamental."

"Anda melihat gambaran pendapatan untuk pasar Asia, kita masih melihat sekitar 10% pertumbuhan untuk 2019. Valuasi sangat murah dan tahun ini, kita telah melihat arus keluar dari ekuitas Asia senilai US$30 miliar (Rp 437,5 triliun) yang kali terakhir kita lihat di 2008," kata Tantia.

"Saya pikir China, Singapura, Indonesia, semua pasar ini terlihat cukup menarik," kata Tantia.

Untuk China, Tantia mengakui bahwa perang dagang yang sedang berlangsung di negara itu dengan AS merupakan "masalah yang sangat kompleks."

"Pandangan kami adalah bahwa Presiden Xi dan Presiden Trump akan menyetujui beberapa jenis kerangka di mana mereka akan mengadakan negosiasi dan perjanjian ini dan bisa datang di G-20," katanya, mengacu pada pertemuan yang diharapkan antara kedua pemimpin di Argentina.

Credit Suisse: Ada Peluang Investasi di China, Singapura, RIFoto: infografis/nilai kapitalisasi bursa saham dunia/aristya rahadian krisabella
"Ini adalah gambaran yang cukup layak mengingat harapan gencatan senjata di perdagangan AS, stabilisasi dalam momentum ekonomi dan pertumbuhan pendapatan yang sehat," kata Tantia. "Itu sebabnya saya pikir ini saat yang tepat untuk membeli saham China."

Singapura adalah pasar yang "menderita" akibat perang perdagangan AS dan upaya mendinginkan pasar properti, kata Tantia. Saham-saham negara ini telah menjadi "pasar ASEAN yang berkinerja terburuk tahun ini," tambahnya, meskipun ada stabilitas pada ekonomi dan mata uangnya. "


Anda punya ekonomi yang stabil, Anda memiliki valuasi yang menarik dan juga, hasil dividen yang sangat tinggi."

"Tahun depan, jika gencatan senjata terkait perdagangan terjadi antara AS dan China, pasar Singapura benar-benar bisa mengungguli," tambahnya, dilansir dari CNBC International.

Sehubungan dengan Indonesia, Tantia mengatakan langkah kebijakan bank sentral untuk menstabilkan rupiah sudah mulai membuahkan hasil.



Sebelumnya pada bulan September, rupiah jatuh ke level terlemahnya dalam lebih dari 20 tahun di tengah kekhawatiran atas pasar negara berkembang.

"Saya pikir pasar Indonesia dapat terus mengungguli, mengingat valuasi tetap, Anda tahu, cukup masuk akal, pertumbuhan laba jauh lebih sehat dengan melihat 10% pertumbuhan selama 12 bulan ke depan," katanya. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading