Internasional

Kelesuan Pasar Bayangi Antrean IPO di Bursa Hong Kong

Market - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
28 September 2018 16:01
Kelesuan Pasar Bayangi Antrean IPO di Bursa Hong Kong
Hong Kong, CNBC Indonesia - Jumlah perusahaan yang mengajukan pencatatan sahamnya di bursa Hong Kong telah melonjak hampir tiga kali lipat tahun ini, sebagian didorong oleh sektor teknologi China yang sedang berkembang. Namun, mereka harus bersaing dengan pasar yang lebih lemah, yang bisa merugikan transaksi.

Hong Kong sedang menuju ke tahun penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) yang besar, didorong oleh reli pasar di akhir tahun lalu dan perubahan listing yang didesain untuk menarik perusahaan-perusahaan teknologi dan bioteknologi dengan pertumbuhan pesat.



Sepanjang tahun ini, 214 perusahaan sudah mengajukan pencatatan saham di bursa Hong Kong, naik 170% dari tahun lalu ketika hanya terdapat 79 permohonan pengajuan, menurut data Thomson Reuters.

Kota penghubung keuangan itu juga menyusul volume IPO New York, dengan kumpulan dana sebesar US$27,7 miliar (Rp 412,3 triliun) sepanjang tahun ini, dilansir dari Reuters.

"Lebih banyak yang baru dimulai ketimbang yang akan diselesaikan," kata Stephen Peepels, Kepala Sekuritas AS, Asia-Pasifik untuk firma hukum Hogan Lovells. "Kemungkinan permintaan investor tidak cukup untuk mengambil semua IPO yang sudah diumumkan sepanjang 2018."

Tingginya minat perusahaan untuk melantai atau go public juga dipicu oleh sifat bisnis, terutama bisnis dari China, yang cenderung lebih mudah, berkembang pesat dan membutuhkan uang tunai. Hal tersebut menandai perubahan dari tahun-tahun sebelumnya ketika IPO utama di Hong Kong dilakukan oleh badan usaha milik negara China.

Meskipun begitu, para bankir memprediksi beberapa dari mereka sebenarnya bisa memilih untuk menggalang dana secara tertutup dan menunda rencana IPO selama pasar masih mengalami kesulitan.

Bursa Hong KongFoto: REUTERS/Bobby Yip/File Photo
Bursa Hong Kong
"Kemungkinan Anda akan melihat beberapa transaksi lebih kecil yang sedikit melenceng dari jadwal mereka," kata Sunil Dhupelia, Kepala Sindikat Ekuitas Asia kecuali Jepang di Credit Suisse.

Di seluruh Asia, perusahaan sudah menggalang dana US$70,5 miliar melalui IPO dalam tiga kuartal pertama tahun 2018, naik 23% dari periode yang sama tahun lalu dan merupakan yang tertinggi sejak 2014.

Namun kinerja di Hong Kong tidak imbang. Beberapa transaksi yang lebih besar masih diperdagangkan di bawah harga IPO, misalnya saham produsen ponsel pintar Xiaomi yang melantai di bulan Juli dengan IPO teknologi terbesar di dunia selama empat tahun.

"Berinvestasi di IPO Hong Kong belum mendorong keuntungan investor selama 6-7 bulan terakhir yang telah berkontribusi terhadap sentimen umum dan sensitivitas valuasi," kata Finlay Wright, Direktur Pasar Modal Ekuitas di Rothschild Global Advisory. "Rasanya hanya memerlukan beberapa transaksi yang tidak sukses untuk merusak kepercayaan dan menghantam semua yang masih mengantre."


Tensi Perdagangan

Lemahnya bursa di tengah tensi perdagangan global, yang sangat memukul pasar negara berkembang, telah membebani banyak transaksi dan membuat investor lebih selektif.

"Ketika pasar jatuh, banyak investor yang akan memilih untuk tidak berpartisipasi di IPO karena harga saham perusahaan kemungkinan akan anjlok di bawah harga IPO saat mulai diperdagangkan," kata Jian Shi Cortesi, Manajer Portfolio Ekuitas Asia untuk investasi GAM.

Bursa Hong KongFoto: Reuters/Tyrone Siu
Bursa Hong Kong
Volvo Cards dan pemiliknya di China yaitu Geely di awal bulan ini menunda rencana untuk mencatatkan saham produsen mobile asal Swedia itu karena tensi perdagangan Sino-AS, serta turunnya saham otomotif.

Meskipun begitu, perusahaan-perusahaan dari kawasan masih mengantre untuk melantai, mulai dari aplikasi tiket film China yaitu Maoyen Weying sampai Tencent Music, perusahaan streaming musik milik raksasa teknologi China Tencent Holdings.

Pekan lalu, saham perusahaan layanan pengiriman makanan sampai penjualan tiket online Meituan Dianping naik 5% dalam debutnya di Hong Kong. Hal itu pun mengirim sinyal positif ke perusahaan-perusahaan lain yang masih mengantre, meski saham perusahaan itu kemudian diperdagangkan di bawah harga IPO.

"Sisi pembelian ingin mengakses China. Mereka menginginkan akses ke konsumen," kata Aaron Arth, Kepala Kelompok Keuangan untuk Asia kecuali Jepang di Goldman Sachs, merujuk pada pelemahan pasar.




"Sementara beberapa transaksi bisa tampil lebih baik, sebagian besar investor akan mengatakan dalam jangka panjang, perusahaan-perusahaan ini akan menunjukkan pertumbuhan dan penciptaan nilai."

Goldman menduduki posisi wahid untuk penggalangan ekuitas di kawasan, diikuti oleh Morgan Stanley dan Citigroup. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading