Internasional

Gara-gara Moody's, Lira Turki Kembali Anjlok 3%

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
29 August 2018 19:02
Mata uang Turki diperdagangkan di 6,4 lira per dolar AS sekitar Rabu pagi waktu setempat atau Rabu sore waktu Indonesia atau melemah sekitar 3%.
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Turki, lira, belum juga menunjukkan tanda-tanda bangkit dari keterpurukannya. Lira kembali melemah hari Rabu (29/8/2018) beberapa jam setelah Moody's menurunkan peringkat 20 lembaga keuangan Turki.

Mata uang ini telah tertekan oleh kecemasan investor akan kebijakan moneter bank sentral Turki di tengah kritik tajam Presiden Recep Tayyip Erdogan. Namun, tekanan itu semakin kuat bulan ini setelah Amerika Serikat (AS) berseteru dengan Turki mengenai penahanan pendeta AS Andrew Brunson.

[Gambas:Video CNBC]

Lira telah kehilangan hampir separuh nilainya terhadap dolar AS sebulan terakhir dan sekita 40% sejak awal tahun ini, tulis AFP.


Mata uang Turki diperdagangkan di 6,4 lira per dolar AS sekitar Rabu pagi waktu setempat atau Rabu sore waktu Indonesia atau melemah sekitar 3%.

Gara-gara Moody's Lira Turki Kembali Anjlok 3%Foto: Mata Uang Lira/REUTERS/Murad Sezer


Setelah libur panjang pekan lalu, lira kembali tergelincir hari Senin dan para ekonom menegaskan bahwa kekhawatiran terkait kesehatan perekonomian Turki masih membayangi.


Lembaga pemeringkat internasional Moody's menurunkan peringkat 14 bank Turki hari Selasa sebesar satu peringkat dan empat lainnya, termasuk bank besar Denizbank dan Is Bank, sebanyak dua peringkat.

Bank sentral Turki pada hari Rabu pagi menegaskan akan menyediakan seluruh likuiditas yang dibutuhkan perbankan setelah melipatgandakan batas pinjaman untuk transaksi overnight bagi bank yang efektif berlaku hari Rabu.

Sementara itu, indeks keyakinan perekonomian juga jatuh menjadi 83,9 di Agustus dari 92,2 di Juli dan 104,9 di Januari. Level di bulan Agustus adalah yang terendah sejak Maret 2009.

Indeks di bawah 100 menunjukkan pesimisme terhadap kondisi perekonomian.

Bank sentral Turki membuat keputusan mengejutkan dengan tidak menaikkan suku bunga acuannya meskipun inflasi telah menembus 16%.

Dalam sebuah wawancara dengan media Hurriyet, Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak, yang merupakan menantu Erdogan, mengatakan dia tidak melihat ancaman besar terhadap ekonomi dari krisis lira Turki.

"Kami tidak melihat risiko besar pada ekonomi atau sistem keuangan Turki," katanya kepada wartawan pada penerbangannya kembali dari Paris awal pekan ini, seperti dilansir Reuters.
(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading