China Balas Dendam, Tidak Ada Ampun Buat Amerika

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
16 April 2026 21:00
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat mengadakan pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai menyiapkan langkah untuk membatasi pengiriman teknologi Amerika Serikat. Beijing kabarnya tengah mempertimbangkan pembatasan ekspor teknologi canggih untuk produksi panel surya.

Langkah pengetatan ini berisiko mengganggu investasi perusahaan AS dan menghambat perlombaan komputasi berbasis ruang angkasa.

Jika kebijakan ini diterapkan, dampaknya bisa besar. Perusahaan AS seperti Tesla terancam gagal membangun pabrik baru maupun memperluas fasilitas produksi tenaga surya di dalam negeri.

China saat ini menguasai lebih dari 80% komponen panel surya dunia. Negara itu juga menjadi rumah bagi 10 pemasok utama mesin pembuat sel surya global, demikian dikutip dari Reuters, Kamis (16/4/2026).

Langkah ini dinilai sebagai eskalasi baru perang teknologi antara China dan Amerika. Sebelumnya, Beijing juga telah membatasi ekspor rare earth sebagai respons terhadap tarif dari Washington.

Persaingan kini bahkan meluas ke proyek komputasi berbasis ruang angkasa bertenaga surya. CEO Tesla Elon Musk diketahui mendorong pembangunan pusat data orbital untuk menopang kebutuhan listrik kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, raksasa teknologi AS seperti Google dan Amazon juga tengah berinvestasi besar pada tenaga surya dan sistem penyimpanan energi untuk menopang lonjakan kebutuhan daya AI.

Analis memperkirakan China khawatir upaya Tesla membangun industri panel surya di AS akan mengurangi ketergantungan pada pemasok China. Bahkan, Tesla dilaporkan tengah mencari peralatan senilai US$2,9 miliar dari vendor China.

Musk juga menargetkan pembangunan kapasitas manufaktur tenaga surya sebesar 100 gigawatt di Amerika Serikat sebelum 2028. Jika berhasil, langkah ini dapat menciptakan pesaing baru bagi dominasi China.

Perusahaan riset Trivium China menyebut keberhasilan Tesla mencapai swasembada tenaga surya bisa menjadi "mimpi buruk" bagi produsen China.

Pembatasan termasuk larangan pengiriman mesin produksi panel efisiensi tinggi berbasis teknologi HJT atau heterojunction ke Amerika Serikat. Teknologi yang memungkinkan panel menangkap lebih banyak energi matahari dan meningkatkan output listrik.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Akhirnya Menyerah, Buka Pintu Lebar-Lebar buat China


Most Popular
Features