Trump Akhirnya Menyerah, Buka Pintu Lebar-Lebar buat China

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
01 January 2026 07:45
Bendera Tiongkok dan AS ditampilkan pada papan sirkuit cetak dengan chip semikonduktor. (REUTERS/Florence Lo//File Photo)
Foto: Bendera Tiongkok dan AS ditampilkan pada papan sirkuit cetak dengan chip semikonduktor. (REUTERS/Florence Lo//File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Donald Trump akhirnya melunak dalam kebijakan kerasnya terhadap China. Washington dilaporkan memberikan lampu hijau berupa lisensi tahunan kepada raksasa chip Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, untuk membawa peralatan manufaktur semikonduktor ke fasilitas mereka di China hingga 2026.

Keputusan ini dinilai sebagai kompromi besar di tengah perang teknologi AS-China yang selama ini dikenal agresif.

Mengutip Reuters, dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebutkan, izin ini menjadi bentuk kelonggaran sementara setelah pemerintah AS sebelumnya mencabut sejumlah keringanan lisensi ekspor bagi perusahaan teknologi global.



Langkah tersebut menandai perubahan pendekatan Washington, yang kini menerapkan sistem persetujuan tahunan untuk ekspor alat pembuat chip ke China. Skema ini menggantikan kebijakan lama berupa validated end user status, fasilitas khusus yang memungkinkan perusahaan mengirim peralatan chip ke China tanpa harus mengajukan lisensi ekspor setiap kali.

Status istimewa tersebut akan resmi berakhir pada 31 Desember, sehingga setiap pengiriman peralatan manufaktur chip asal AS ke pabrik di China setelah tanggal tersebut tetap memerlukan izin ekspor. Namun, pemberian lisensi tahunan ini dinilai pasar sebagai sinyal bahwa AS tak sepenuhnya menutup pintu bagi aktivitas industri semikonduktor di Negeri Tirai Bambu.

Sebelumnya, Samsung, SK Hynix, dan TSMC termasuk perusahaan yang paling diuntungkan dari pengecualian kebijakan pembatasan ekspor chip AS ke China. Kini, meski pengawasan diperketat, Washington tampak memilih jalur pragmatis ketimbang konfrontatif total.

Samsung dan SK Hynix menolak memberikan komentar terkait kebijakan ini. Sementara itu, TSMC belum merespons permintaan konfirmasi. Departemen Perdagangan AS juga belum memberikan pernyataan resmi karena berada di luar jam kerja.

Di sisi lain, pemerintahan Trump secara terbuka menyatakan tengah meninjau ulang kontrol ekspor yang dinilai terlalu longgar pada era Presiden Joe Biden. Tujuannya untuk membatasi akses China terhadap teknologi canggih asal Amerika Serikat.



Samsung Electronics, produsen chip memori terbesar di dunia, serta SK Hynix yang berada di peringkat kedua, menjadikan China sebagai salah satu basis produksi utama mereka, khususnya untuk chip memori konvensional.

Produk tersebut saat ini mengalami lonjakan harga seiring meningkatnya permintaan dari pusat data kecerdasan buatan (AI) dan semakin ketatnya pasokan.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article AS Tabuh Genderang Perang Baru dengan China, Raksasa Korsel Terseret


Most Popular
Features