DeBio Dinobatkan Jadi Healthtech Innovation of The Year

Tech - Arif Gunawan & Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
15 November 2021 12:59
DeBio Network Raih 'Healthtech Innovation of The Year'

Jakarta, CNBC Indonesia - Media ekonomi dan terintegrasi CNBC Indonesia menggelar CNBC Indonesia Awards 2021 'The Best Technology Companies' sebagai wujud apresiasi dan kinerja yang telah diraih para pelaku ekonomi dan dunia usaha sepanjang tahun 2021.

Terobosan di bidang teknologi yang telah dilakukan DeBio Network dinobatkan sebagai 'Healthtech Innovation of The Year'. Penghargaan ini diberikan secara virtual kepada CEO Debio Network Pandu Sastrowardoyo.

"Terima kasih banyak untuk nominasinya dan juga awardnya. Health Tech sangat penting bagi Indonesia dengan penduduk kita yang banyak. Kita harus fokus health tech, ini akan mendorong Debio Network untuk terus berkarya Bukan hanya di Indonesia tapi secara internasional untuk membantu masyarakat," kata Pandu dalam sambutannya, Senin (15/11/2021).


Dia menambahkan data kesehatan seharusnya dipegang oleh pasien dan bagi yang menghasilkan data harus memiliki kedaulatan data tersebut, terutama terkait tes genetik.

"Itulah yang kami percaya di Debio Network, terima kasih kepada CNBC Indonesia," kata dia.

Tes genetika sendiri merupakan terobosan di sektor kesehatan karena memungkinkan identifikasi "bakat penyakit" dan kerentanan seseorang berdasarkan struktur DNA (deoxyribonucleic acid). Namun sayang, risiko 'diskriminasi genetika' masih mengintai.

Di Indonesia, tes genetika lebih dikenal masyarakat sebagai proses medis ketika seseorang (baca: artis di tayangan infotainment) ingin memastikan keabsahan keturunan yang dimilikinya. Istilah lazimnya adalah tes DNA.

Padahal, tes demikian juga memiliki manfaat untuk mengetahui risiko penyakit di masa mendatang, sehingga bisa mencegahnya sejak dini. Tidak heran, permintaannya terus meningkat satu dasawarsa terakhir.

Meski demikian, praktik tes genetika seringkali dibayangi risiko yang terjadi pada dua aspek. Pertama, aspek privasi ketika seseorang hendak mengajukan tes tersebut. Kedua, yang juga terpenting, adalah aspek keamanan penyimpanan data.

Dalam beberapa kasus, kebocoran data hasil tes genetika bisa dimanfaatkan perusahaan asuransi untuk memberikan harga premi yang tinggi bagi seseorang yang data genetikanya menunjukkan kerentanan besar akan penyakit kronis. Atau, bahkan menolak individu tersebut dari layanan asuransi kesehatan. Istilahnya: diskriminasi genetika.

Kasus demikian marak terjadi di negara maju bahkan sejak akhir tahun 1990-an. Di Amerika Serikat (AS), survei terhadap 917 orang yang menjalani tes genetika menunjukkan bahwa 200 di antaranya, atau seperlima lebih mengalami diskriminasi genetika atas layanan asuransi dan bahkan perusahaan pemberi kerja.

Akibatnya, mayoritas masyarakat Amerika dalam survei yang dilaporkan oleh National Human Genome Research Institute tersebut menolak melakukan tes genetika. Porsinya tak tanggung-tanggung, yakni: mencapai 85%. Inilah yang menjadi kendala dan risiko terbesar tes genetika.

Melihat problem tersebut, Pandu Sastrowardojo, seorang pegiat teknologi blockchain lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB)-pun mengambil rencana tindak, menyusun whitepaper-semacam kerangka proyek pengembangan platform berbasis teknologi blockchain, dan membangun platform besar bernama Decentralized Bio Network (DeBio Network).

Semula bernama Degenics, DeBio tercatat sejarah sebagai perusahaan rintisan (startup) pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk pengujian genetik, analisis bioinformatika, dan pengujian biomedis.

Blockchain memungkinkan penyusunan platform data bioinformatika dan medis yang terdesentralisasi untuk mensinergikan organisasi medis sembari menjamin anonimitas dan kedaulatan penggunanya di seluruh jalur data biomedis.

Jamin Anonimitas dan Keamanan Data

Dirancang untuk mencegah penyalahgunaan data genetik, startup tersebut memastikan privasi dan keamanan pengguna dengan menggunakan teknologi tambahan yakni komputasi privasi untuk riset dan pengembangan (research and development/R&D).

Setelah membangun prototipe di Ethereum, DeBio Network beralih ke substrat untuk mendapat keuntungan dari integrasi yang mulus dengan Polkadot, yaitu protokol yang dapat diskalakan dan dioperasikan. Perseroan lantas menggandeng Protokol Kilt guna memasukkan Kredensial KILT dalam platform DeBio Network.

Kilt adalah protokol blockchain sumber terbuka (open source), yang merupakan bagian dari ekosistem Polkadot dan Kusama yang dibangun di atas kerangka kerja pengembangan Substrat Parity Technologies. Kolaborasi yang dibangun sejak 6 Mei 2021 tersebut mengutamakan anonimitas untuk data medis dan bioinformatika.

Kilt akan berfungsi sebagai dasar infrastruktur akreditasi laboratorium dan fasilitas biomedis agar bisa menanamkan kredensial pada hasil tes medis, hasil perunutan genom, dan kolaborasi antar lab. Dalam dunia blockchain, kredensial ini penting untuk memastikan privasi dan keamanan data di ekosistem atau jaringan yang terdesentralisasi.

Persyaratan penyimpanan juga merupakan elemen penting untuk platform DeBio Network, karena beberapa file perurutan genom dapat mencapai ukuran lebih dari satu gigabit. DeBio pun menggunakan InterPlanetary File System (IPFS), protokol untuk menyimpan dan berbagi data dalam sistem file terdistribusi, untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan dan kinerjanya.

Dengan proyek tersebut, DeBio menciptakan kolam raksasa data seseorang yang telah melakukan tes genetika. Hanya saja, di mata publik, kolam tersebut hanya akan berisi data-data yang valid, terukur, riil tetapi secara bersamaan bersifat anonim.

Hal ini akan menguntungkan pemilik data maupun kalangan akademisi yang perlu mengakses data genetika untuk keperluan studi. Siapapun termasuk perusahaan asuransi tak bisa membuka kredensial pemilik data tersebut, sehingga privasi pemilik data terjamin.

Kami menilai proyek perseroan sebagai startup pertama yang membangun aplikasi healthtech data tes genetika ini merupakan milestone penting dalam sejarah pemanfaatan teknologi blockchain di Tanah Air, khususnya di industri kesehatan.

DeBio Network terpilih menjadi pemenang penghargaan kategori "Healthtech Innovation of The Year" di ajang CNBC Indonesia Award 2021. Perseroan menjadi nominee tunggal, karena tidak ada startup sejenis yang memiliki whitepaper serupa dengan yang mereka kembangkan.

Untuk mencapai penilaian tersebut, Tim Riset CNBC Indonesia melakukan kajian dan analisis terhadap pengembangan platform healthtech di Tanah Air. Proses penilaian dilakukan pada Oktober melalui riset kualitatif berbasis data sekunder dari publikasi resmi perseroan, data pemerintah, serta media monitoring terhadap 10 media utama nasional.

Semoga penghargaan ini mendorong DeBio untuk mengakselerasi proyek penting bagi peningkatan layanan kesehatan di Indonesia tersebut, dan menjadi solusi atas persoalan keamanan data medis tak hanya di Tanah Air tapi juga di kancah global.

 


[Gambas:Video CNBC]

(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading