Studi Temukan Efek Samping Baru dari Vaksin Sinovac & Pfizer

Tech - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 August 2021 17:50
FILE - In this Monday, March 16, 2020 file photo, a patient receives a shot in the first-stage study of a potential vaccine for COVID-19, the disease caused by the new coronavirus, at the Kaiser Permanente Washington Health Research Institute in Seattle. On Friday, March 20, 2020, The Associated Press reported on stories circulating online incorrectly asserting that the first person to receive the experimental vaccine is a crisis actor. All participants who volunteered for the test were screened and had to meet a set list of criteria. They were not hired as actors to simulate a role. (AP Photo/Ted S. Warren)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah The Lancet Infectious Diseases menyebutkan, vaksin buatan Sinovac Biotech, Coronavac lebih berisiko menyebabkan Bell's palsy (lumpuh wajah) usai disuntikkan kepada penggunanya.

Situs Alodokter menyebutkan, Bell's palsy adalah kelumpuhan pada otot wajah yang menyebabkan salah satu sisi wajah tampak melorot. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba, namun biasanya tidak bersifat permanen.

Penelitian ini melibatkan 28 kasus Bell's Palsy yang dikonfirmasi secara klinis setelah suntikan CoronaVac Sinovac dilaporkan di antara hampir 452.000 orang yang menerima dosis pertama vaksin, dan 16 kasus setelah vaksin Pfizer/BioNtech terdeteksi dari lebih dari 537.000 orang.


"Temuan kami menunjukkan peningkatan risiko Bell's palsy secara keseluruhan setelah vaksinasi CoronaVac," menurut penelitian tersebut, dilansir Reuters, Selasa (17/8/2021).

Lebih lanjut, penelitian itu menguraikan, efek yang menguntungkan dan protektif dari vaksin COVID-19 yang tidak aktif jauh lebih besar daripada risiko efek samping yang umumnya sembuh sendiri.

Penelitian yang dilakukan di Hong Kong menilai risiko efek samping dalam 42 hari setelah vaksinasi.

Mekanisme Bell's palsy pada pasien setelah vaksinasi tidak jelas, penelitian tersebut mengakui, menyerukan penyelidikan lebih lanjut.

"Bell's Palsy setelah vaksinasi jarang terjadi, dan sebagian besar gejalanya ringan dan membaik dengan sendirinya," kata perwakilan Sinovac Liu Peicheng, dalam tanggapan tertulis.

Liu mengatakan, Sinovac belum mendeteksi risiko Bell's Palsy dalam analisis data dari otoritas Pengendalian Penyakit China, Pusat Pemantauan Uppsala dari Organisasi Kesehatan Dunia, atau basis data unitnya untuk kejadian buruk setelah imunisasi.

"Menurut data saat ini, manfaat dan perlindungan CoronaVac jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi," kata Liu. "Masyarakat harus divaksinasi penuh tepat waktu dengan CoronaVac untuk mencegah infeksi COVID-19 dan memblokir penularan virus."


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading