Mutasi Corona B117 Inggris Masuk Karawang, Ini Kata Satgas

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
04 March 2021 18:30
Keterangan Pers Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku, Kantor Presiden, 9 Februari 2021

Jakarta, CNBC Indonesia- Pemerintah baru saja mengumumkan adanya varian baru corona yang ditemukan di Inggris yakni B117. Kementerian Kesehatan menemukan dua kasus varian baru corona Inggris ini, setelah melakukan pemeriksaan terhadap 462 sample dengan metode Whole Genome Sequence (WGS).

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan terkait pengamanan pintu-pintu masuk Indonesia, dan sistem pemantauan yang ada. Menanggapi hal ini, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan dunia ini saling berkaitan sehingga Indonesia tidak bisa selamanya membatasi mobilisasi antar negara. Jika pembatasan mobilisasi antar negara dilakukan terus menerus, maka akan mengancam pergerakan sosial dan ekonomi di Indonesia.

"Secara diplomasi Indonesia memiliki perjanjian perjalanan dengan berbagai negara. Prinsipnya kejadian ini jadi pelajaran berharga untuk meningkatkan pencegahan masuknya imported case, baik di pintu kedatangan, akurasi alat testing, prosedur karantina, dan Whole Genome Sequence (WGS)," kata Wiku, Kamis (04/02/2021).


Wiku mengatakan, diperlukan kerja sama antar lembaga yang ada untuk mencegah hal ini berulang. Saat ini, berbagai ilmuwan di dunia mengamati penyebaran virus, termasuk perubahan spikes yang menempel pada reseptor untuk memperbanyak diri.

Di Indonesia, sampai saat ini menurut Eijkman, dari jumlah WGS yang ada, ditemukan varian D614G ditemukan sejak April 2020. Baru pada Februari 2021 ditemukan dua laporan WGS yang memiliki varian B117 dari sampel.

"Studi semacam ini bisa membantu kita memahami perubahan bentuk dapat berpengaruh pada luas sebaran, respons pengobatan dan efektivitas vaksin. Berita baiknya sebagian besar mutasi tidak secara material mengubah kemampuan virus untuk menimbulkan penyakit begitu juga efektivitas vaksin secara signifikan," kata Wiku.

Dia menegaskan, semakin sedikit mutasi virus yang ada maka semakin efektif vaksin yang ada dan bisa bekerja dengan baik. Wiku mengingatkan masyarakat tidak bisa hanya menunggu hasil temuan ilmuwan yang menyatakan apakah varian tersebut berbahaya atau pola distribusinya, namun harus dilakukan upaya pencegahan dengan protokol kesehatan.

"Kita harus proaktif melindungi diri sendiri dengan cara membatasi mobilitas tidak perlu sehingga tidak ada penularan dan bisa mencegah mutasi. Tingkat infeksi yang tinggi memperbesar adanya varian baru," jelas Wiku.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading