Khasiat Vaksin Sinovac 65,3% di Indonesia, Apa Maksudnya?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
12 January 2021 10:15
Infografis/ Rekam Jejak Sinovac yang Vaksinnya Datang ke RI/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi memberikan lampu hijau untuk menggunakan vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi China Sinovac melalui emergency use authorization (EUA). Dalam konferensi pers virtualnya BPOM menyebut efikasi vaksin Covid-19 Sinovac di RI sebesar 65,3%.

Sebenarnya apa arti dari efikasi dan angka 65,3% tersebut?

Efikasi merujuk pada khasiat atau kemanjuran suatu vaksin maupun obat. Menurut Center for Disease Control & Prenvention (CDC) efikasi dinyatakan sebagai proporsi reduksi kemungkinan terjangkitnya infeksi penyakit dikalangan kelompok yang divaksinasi. 


Angka efikasi diperoleh dari kondisi yang cenderung terkontrol seperti melalui uji klinis. Secara matematis, efikasi diperoleh dengan membandingkan risiko terjangkitnya penyakit suatu kelompok yang divaksinasi terhadap yang tidak divaksinasi.

Rumus Efficacy Rate :

(Tingkat Risiko Terjangkitnya Penyakit Kelompok Tanpa Vaksin - Tingkat Risiko Terjangkitnya Penyakit Kelompok Divaksinasi)/Tingkat Risiko Terjangkitnya Penyakit Kelompok Tanpa Vaksin

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas mari melihat kasus cacar air (Varicella) di kalangan anak sekolah Oregon pada 2002 silam yang datanya diperoleh CNBC Indonesia dari Tugwell BD, et al (2004) berikut.

Mengacu pada data di atas maka ada 18 dari 152 anak yang divaksinasi terjangkit Varicella di Oregon pada 9 kelas. Artinya tingkat risiko kelompok ini adalah 11,8% (18/152). Kemudian untuk kelompok yang tidak divaksinasi sebesar 42,9% (3/7).

Menggunakan rumus yang sudah tertera di atas maka diperoleh efikasi vaksin Varicella sebesar 72,5% ((42,9-11,8)/42,9). Secara sederhana anak-anak pada kelompok yang divaksinasi berpotensi terjangkit cacar air 72,5% lebih rendah dibandingkan yang tidak.

Apabila menggunakan kasus di Indonesia, artinya orang-orang yang divaksinasi dengan CoronaVac memiliki potensi 65,3% lebih rendah untuk terjangkit Covid-19. 

Seberapa tinggi efikasi vaksin Covid-19 yang lain?

Apabila dibandingkan dengan kandidat vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan lain, maka efikasi vaksin Sinovac yang diuji di Tanah Air merupakan yang paling rendah. 

Sebagai informasi, hasil uji klinis di Turki dan Brazil dilaporkan memiliki tingkat keampuhan masing-masing 91,25% dan 78%. Namun laporan Reuters yang terbaru menyebutkan bahwa efikasi vaksin Covid-19 buatan Sinovac secara umum lebih rendah dari 60%.

Bahkan jika dibandingkan dengan pengembang lain, efikasi vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang diuji di RI juga lebih rendah. Moderna, Pfizer & BioNTech, Gamaleya Research Institute hingga AstraZeneca masing-masing mengklaim vaksin buatannya memiliki efikasi mencapai 90%, bahkan lebih.

Namun mengingat kondisi perkembangan Covid-19 di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan dan tak ada efek samping serius pada kelompok yang diberi vaksin CoronaVac, maka BPOM memutuskan untuk merestui EUA. Lagipula efikasi yang dilaporkan saat ini sudah berada di atas ambang 50% yang ditetapkan oleh WHO.

Hanya saja ada dua hal yang harus dicermati. Pertama adalah jumlah peserta uji klinis di RI yang lebih rendah yaitu 1.620 orang dibanding Brazil dan Turki yang melibatkan sampai 13 ribu orang.

Kedua adalah terkait dengan uji klinis yang terus berjalan dan angka efikasi di atas masih mengacu pada data interim (awal). Masih akan ada update khasiat vaksin Covid-19 ke depannya. Ke depan, Pemerintah & BPOM perlu mensosialisasikan update informasi hasil uji klinis secara transparan kepada publik.

Faktor yang Berpengaruh terhadap Efikasi Vaksin
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading