Jangan Tiru! Banyak Anak Muda RI Merasa 'Sakti' Kebal Corona

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
02 October 2020 10:02
Warga melintas kawasan Stasiun MRT BNI City, Jakarta, Selasa (26/5). Usai libur Hari Raya Idulfitri 1441 H sejumlah pekerja sudah terlihat masuk. Pemerintah telah mengambil keputusan untuk menggeser cuti bersama Lebaran 2020 akibat wabah virus corona (Covid-19). Dengan begitu, jadwal libur hari raya hanya berlaku sampai H+1 Lebaran atau pada pada 25 Mei 2020, termasuk untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pantauan CNBC Indonesia  penerapan normal yang baru atau new normal terlihat diberlakukan di sarana transportasi umum guna menunjang aktivitas warga yang bekerja di tengah pandemi virus Corona baru (COVID-19). Untuk diketahui, panduan bekerja di situasi new normal tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia- Banyak anak muda yang menganggap tidak akan terkena virus Covid-19 sehingga seringkali abai terhadap protokol kesehatan. Padahal itu anggapan itu tak benar. Semua orang bisa terinfeksi virus corona.

Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Turro Wongkaren mengatakan kebanyakan anak muda terutama pria, merasa memiliki daya tahan tubuh yang baik dan harus ada strategi yang menyasar masyarakat secara tepat.

Pendekatan untuk setiap masyarakat pun tidak bisa sama, karena masing-masing wilayah biasanya memiliki tokoh panutan yang berbeda. Untuk itu penting bagi pemerintah dan Satgas Covid-19 untuk merangkul role model atau panutan yang ada di masyarakat, dari tokoh agama, politik, selebriti, hingga pemangku kepentingan yang memiliki pengaruh kuat.


"Pendekatan yang dilakukan adalah melihat di masing-masing wilayah karena pasti ada komunitas tertentu dari adat, pekerjaan, kumpulan dokter, kumpulan ekonom, atau komunitas berdasarkan hobi. Ini memiliki karakteristik sendiri atau leader orang-orang yang dianggap penting dan mempengaruhi," ujar Turro, seperti dikutip Jumat (02/10/2020).

Selain itu, sebagian dari masyarakat masih ada yang percaya diri tidak akan terpapar Covid-19, yang terlihat dari survei yang dilakukan BPS bahwa 17% responden percaya diri tidak akan terjangkit virus ini.

Satgas Penanganan Covid-19 pun memahami keragaman masyarakat Indonesia membuat penerimaan terhadap suatu informasi tidak sama, termasuk soal Covid-19.

"Ada yang karena mendapatkan informasi yang salah, tapi ada juga yang merasa itu tidak akan menyerang mereka karena hanya berlaku untuk kalangan tertentu misalnya. Tugas kita semua untuk menyadarkan Covid-19 tidak pandang bulu, tapi harus dilihat mereka siapa aja dan bagaimana mereka sampai pada ide mereka tidak akan terkena Covid-19," jelas Turro.

Selain itu dengan adanya Satgas yang membidangi perubahan perilaku diharapkan bisa menjadi contoh yang baik dan benar-benar membawa perubahan di masyarakat. Turro mengatakan perubahan perilaku yang menurutnya pernah berhasil di masyarakat ada dua yakni program KB dan commuter line.

"Seperti kereta api Commuter Line, dulu ada yang naik hingga atas kereta sekarang tidak. Yang dibutuhkan adalah satu kata dalam melakukan ini semua, dan informasi yang benar," ujarnya.

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan, mulai dari menegur masyarakat yang tidak menjalankan perubahan perilaku seperti #pakaimasker, #cucitanganpakaisabun, dan #jagajarakhindarikerumunan. Kemudian strategi memberikan insentif bagi yang sudah menjalankan, dapat juga juga dengan strategi hukuman.

"Kami harapkan punishment tidak perlu banyak digunakan. Kami mulai mengumpulkan influencer dan kepala stasiun tv supaya di masyarakat semua cara pandangnya sama. Role modelnya menggunakan perilaku sama dan memilih influence yang sangat berpengaruh mereka memberikan informasi dan mengingatkan," katanya.

[Gambas:Video CNBC]




[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading