Buat Apa Banyak Unicorn & Decacorn Jika Picu Krisis?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 January 2020 18:25
Startup jumbo dengan status unicorn dan decacorn tak jamin sudah untung, bahayanya malah bisa bikin bubble.
Jakarta, CNBC Indonesia - Punya perusahaan rintisan atau startup dengan valuasi miliaran dolar saat ini menjadi impian banyak orang di Indonesia. Namun apa gunanya punya startup dengan nilai selangit kalau cuma bikin 'bubble' alias krisis?

Kata 'startup' pasti sudah tak asing lagi di telinga orang Indonesia. Apalagi kalangan milenial. Banyak kalangan muda tanah air yang punya impian untuk membangun startup dan bisa jadi sesukses Go-jek, Tokopedia, Traveloka atau Bukalapak.

Namun sebenarnya makhluk apakah startup itu? Kenapa banyak orang punya impian untuk membangun startup?


Kalau mencari kata 'startup' di Google, maka akan muncul 1,24 miliar hasil pencarian. Dari sekian banyak definisi, pada dasarnya startup adalah perusahaan yang baru saja dibangun dan belum lama beroperasi. Karena baru seumur jagung biasanya startup masih belum mampu mencetak untung atau belum balik modal (breakeven).


Secara metrik keuangan suatu perusahaan dinamakan startup ketika arus kas dan labanya masih minus, tetapi top line atau pendapatannya sedang tumbuh. Karena masih belum untung, startup butuh sokongan dana dari investor untuk mendanai berbagai aktivitas bisnis.

Startup saat ini diidentikkan dengan perusahaan yang menggunakan teknologi sebagai model bisnis. Sebut saja bisnis ojek online yang saat ini di Indonesia didominasi oleh Gojek dan Grab. Contoh model bisnis yang lain adalah e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Lazada dll.

Startup digital menjamur di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Banyaknya startup digital di Indonesia tak terlepas dari menariknya pasar Indonesia untuk bisnis digital ini.

Coba bayangkan, Indonesia memiliki lebih dari 260 juta penduduk dan menyumbang lebih dari 30% populasi Asia Tenggara. Indonesia juga merupakan negara berkembang dengan total populasi consuming class yang terus tumbuh.

Study lembaga konsultan global McKinsey menyebutkan orang dengan penghasilan bersih setahun US$ 3.600 di Indonesia jumlahnya pada 2020 mencapai 85 juta orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus tumbuh.

Dengan bertambahnya populasi consuming class tiap tahunnya, konsumsi domestik akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Faktor lain yang membuat pasar Indonesia menarik adalah kultur masyarakatnya yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, terutama teknologi digital. Hal ini terlihat dari jumlah pengguna internet dan ponsel pintar yang tiap tahunnya terus tumbuh.


Menjamurnya Startup Digital di RI
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading