Ini Penyebab Bunga Pinjaman Tinggi Versi Fintech

Tech - Gita Rossiana, CNBC Indonesia
06 March 2018 17:07
Ini Penyebab Bunga Pinjaman Tinggi Versi Fintech
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspektasi pemberi pinjaman (lender) turut menentukan suku bunga kredit yang dipatok oleh penyedia layanan pinjaman meminjam berbasis teknologi (peer to peer lending/P2P lending). Pasalnya, pemberi pinjaman menganggap P2P lending sebagai lahan investasi sehingga mereka mengharapkan suku bunga yang lebih tinggi ketimbang yang didapat di instrumen konvensional.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Adrian Gunadi mengungkapkan, suku bunga kredit tergantung ekspektasi imbal hasil yang didapat dari investor. "Jadi ada sistem makro ekonomi berupa supply dan demand," kata dia saat ditemui di acara Konferensi Pers di Centennial Tower, Selasa (6/3/2018).
 
Dia mengungkapkan, para investor ini menganalisa sebelum berinvestasi di P2P lending. Adrian mencontohkan, apabila seseorang berinvestasi di deposito suku bunga yang ditawarkan bisa sekitar 4%. Sementara apabila di obligasi pemerintah suku bunganya bisa sekitar 13-14%."Kalau mereka mau investasi, mereka berharap suku bunga yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah,"kata dia.
 
Hal ini pulalah yang menyebabkan asosiasi menilai, penetapan suku bunga kredit di fintech lending tidak bisa mengacu pada suku bunga acuan di BI. "Oke kalau diterapkan begitu, tapi ada yang mau ambil tidak?"kata dia.

 Padahal tingginya suplai atau investasi yang diperoleh oleh P2P lending mempengaruhi pembentukan suku bunga. Apabila tidak banyak lender yang mau meminjamkan uangnya, maka suku bunga kredit juga akan tetap tinggi.
 
Kendati memang, penyedia P2P lending mengantisipasi peningkatan suku bunga ini dengan menarik dana luar negeri. Hal ini juga dimungkinkan dalam POJK No.77 tentang Layanan Pinjam Meminjam Berbasis Teknologi.


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading