Mau Harian atau Bulanan, Kurs Riyal Arab Saudi Melemah!

Syariah - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 April 2021 17:20
A station attendant returns Saudi Riyal cash to customer after he refuels his car at a gas station in Riyadh, Saudi Arabia, Monday, Dec. 9, 2019. (AP Photo/Amr Nabil)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar riyal Arab Saudi melemah melawan rupiah pada perdagangan Jumat (30/4/2021), sekaligus membukukan pelemahan mingguan dan bulanan. Aliran modal yang mulai masuk lagi ke Indonesia membuat rupiah mampu menguat.

Melansir data Refinitiv, riyal pada perdagangan hari ini melemah tipis 0,03% ke Rp 3.850/US$. Sementara sepanjang pekan ini pelemahan tercatat sebesar 0,54%. Dengan demikian, riyal sudah melemah dalam 2 pekan beruntun. Selain itu, sepanjang bulan ini riyal juga melemah 0,57%.

Pelemahan riyal tersebut mengikuti dolar Amerika serikat (AS). Sepanjang pekan ini dolar AS melemah 0,55% juga membukukan pelemahan selama 2 pekan dan sepanjang bulan April.


Arab Saudi menerapkan kebijakan fixed exchange rate mata uang riyal terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak tahun 1986. US$ 1 ditetapkan setara 3,75 riyal.

Dengan kebijakan tersebut naik turunnya nilai tukar riyal melawan rupiah menjadi sama persis dengan dolar AS melawan rupiah, meski dengan persentase yang berbeda. Bagaimana pun kondisi perekonomian Arab Saudi, pergerakan mata uangnya akan selalu copy paste dari dolar AS.

Di sisi lain, aliran modal mulai masuk lagi ke pasar obligasi Indonesia yang membuat rupiah perkasa. Di pasar sekunder, melansir data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sepanjang bulan ini hingga 26 April terjadi capital inflow di pasar obligasi sekitar Rp 8,8 triliun.

Hal tersebut tentunya menjadi kabar bagus, setelah terjadi capital outflow Rp 20 triliun sepanjang bulan Maret.

Dari pasar primer, hasil lelang Surat Utang (SUN) pemerintah Selasa lalu mulai ramai peminat. Incoming bid mencapai Rp 52,75 triliun, sedangkan pada lelang SUN sebelumnya sebesar Rp 42,97 triliun.

Pemerintah menetapkan target indikatif sebesar Rp 30 triliun dan yang dimenangkan sebesar Rp 28 triliun lebih baik dari lelang sebelumnya Rp 24 triliun.

Hal tersebut terjadi setelah yield obligasi (Treasury) Amerika Serikat (AS) yang mulai turun dari level tertinggi sejak Januari 2020. Penurunan tersebut membuat selisih yield dengan SUN kembali melebar, sehingga aliran modal perlahan kembali ke Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading