Alert Hari Ini: Wall Street Rontok, Ekonomi RI Melesat, DHE Direvisi?
-
Pasar keuangan Indonesia kompak menguat kemarin, Kamis (5/11/2026). IHSG melesat 2,25% ke level 5.030,26, rupiah menguat 0,44% ke Rp18.075/US$, sementara yield SBN tenor 10 tahun berada di level 7,740%.
- Wall street ambruk di tengah tekanan saham teknologi
- Perkembangan ekonomi dan kebijakan dalam negeri serta data AS akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada perdagangan kemarin, Kamis (5/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali menembus level 5.000, sementara rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pasar keuangan Indonesia diharapkan dapat melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (6/11/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Kamis (5/11/2026).
IHSG melesat 110,49 poin atau 2,25% ke posisi 5.030,26, melanjutkan penguatan setelah sehari sebelumnya naik 0,32%.
Pada awal perdagangan, IHSG langsung dibuka menguat di level 4.998,34 dan tidak pernah memasuki zona merah sepanjang sesi perdagangan.
Indeks kemudian terus bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi hariannya di 5.072,05 atau menguat sekitar 3,1% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Menjelang akhir perdagangan, penguatan IHSG sedikit berkurang. Meski demikian, indeks tetap berhasil mempertahankan posisinya di atas level psikologis 5.000.
Total volume perdagangan mencapai 22,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10 triliun.
Sebanyak 440 saham menguat, 178 melemah dan 99 stagnan. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 65,53 miliar.
Berdasarkan data Refinitiv, sektor teknologi menjadi pendorong utama penguatan IHSG dengan kenaikan 4,60%. Sektor barang baku (basic materials) turut menguat 3,48%.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang penguatan IHSG, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).
Dari sisi sentimen, penguatan pasar saham terjadi di tengah perhatian investor terhadap hasil pemilu sela AS, anjloknya harga minyak dunia, serta rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026, melampaui konsensus CNBC Indonesia sebesar 5,20%.
Pertumbuhan tersebut juga meningkat dibandingkan kuartal II-2026 yang tercatat sebesar 5,29% YoY.
Dari eksternal, harga minyak dunia yang anjlok lebih dari 8% turut menjadi perhatian investor setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS memunculkan harapan meredanya konflik di Timur Tengah.
Di pasar mata uang, rupiah juga berhasil menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di posisi Rp18.075/US$ atau menguat 0,44% dibandingkan penutupan Rabu (4/11/2026) di Rp18.155/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp18.055 hingga Rp18.170/US$.
Penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,16% ke posisi 101,405.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi pasar.
Selain pertumbuhan ekonomi, BPS juga melaporkan penurunan jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2026.
Jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7,38 juta orang atau turun 77.000 orang dibandingkan Agustus 2025. Sementara itu, jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 1,4 juta orang menjadi 147,9 juta orang.
Data pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan serta penurunan jumlah pengangguran memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.
Dari eksternal, perhatian investor kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan pada Jumat (6/11/2026).
Data tersebut menjadi penting untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan politik AS setelah Partai Demokrat berhasil merebut kendali Kongres dalam pemilu sela, serta pergerakan harga minyak dunia yang mengalami penurunan tajam.
Berbagai perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, aliran modal global, serta arah pasar keuangan Indonesia pada perdagangan akhir pekan.
Di pasar surat berharga negara (SBN), imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat berada di level 7,740% pada perdagangan Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan pergerakan pada grafik Refinitiv, yield SBN 10 tahun tersebut melanjutkan kenaikan dan berada lebih tinggi dibandingkan posisi sehari sebelumnya.
Kenaikan yield tersebut mengindikasikan adanya tekanan pada harga obligasi pemerintah Indonesia.
Sebagai catatan, pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Yield yang naik menunjukkan harga obligasi turun, begitu pula sebaliknya.
Saham-saham Amerika Serikat (AS) rontok pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Penurunan ini menghapus seluruh kenaikan tajam yang terjadi setelah reli pasar menyusul hasil pemilu paruh waktu AS. Investor semakin ramai-ramai meninggalkan saham teknologi di tengah kekhawatiran pembangunan pusat data (data center) akan melambat.
Indeks Nasdaq Composite anjlok 5,52% dan ditutup di level 24.315,00. Indeks yang didominasi saham teknologi tersebut resmi memasuki zona koreksi setelah turun lebih dari 10% dari rekor tertingginya yang dicapai bulan lalu.
Saham Amazon.com dan Alphabet masing-masing turun 2,2%. Indeks Nasdaq 100, yang berisi perusahaan-perusahaan terbesar di Nasdaq, anjlok 6,4% dan menghapus sekitar US$2,5 triliun nilai kapitalisasi pasar.
Aksi jual ini menunjukkan investor mulai memperhitungkan meningkatnya penolakan masyarakat lokal terhadap pembangunan pusat data. Sejumlah analis menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak dan biaya yang harus ditanggung masyarakat AS akibat ekspansi industri tersebut.
"Akan ada banyak penolakan terhadap pembangunan pusat data di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Fasilitas tersebut dapat membebani jaringan listrik dan sistem pasokan air," kata Bruce Zaro, Managing Director Granite Wealth Management di Plymouth, Massachusetts.
Indeks S&P 500 merosot 4,36% ke posisi 7.353,73. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terpangkas 1.833,06 poin atau 3,44% ke level 51.523,06.
Penurunan Dow bahkan menghapus lebih dari seluruh kenaikan yang dicatat dalam reli besar sehari sebelumnya setelah hasil pemilu paruh waktu AS. Ketiga indeks utama Wall Street mencatatkan kinerja harian terburuk sejak April 2025.
Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga terkoreksi 4,45% dan masuk ke zona koreksi.
Saham-saham yang berkaitan dengan perdagangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya industri semikonduktor dan pusat data, kembali tertekan untuk hari kedua berturut-turut.
Investor khawatir kemenangan besar Partai Demokrat di kedua kamar Kongres AS, ditambah keberhasilan mereka dalam sejumlah pemilihan gubernur, dapat memperlambat ekspansi pembangunan pusat data.
Sebagai contoh, Senator Bernie Sanders dari Vermont, yang berkoalisi dengan Partai Demokrat, telah menyerukan moratorium nasional pembangunan pusat data.
Dalam unggahan di platform X pada Rabu malam, Sanders menulis bahwa masyarakat Amerika tidak ingin para oligarki perusahaan teknologi besar merusak lingkungan, memangkas lapangan kerja, dan mengancam masa depan umat manusia.
Saham produsen chip Broadcom dan Nvidia masing-masing anjlok 10% dan 9% pada Kamis. Sementara itu, saham perusahaan perangkat lunak Oracle turun hampir 7%.
Saham semikonduktor lainnya, Qualcomm, juga merosot 9% meskipun perusahaan melaporkan laba yang melampaui ekspektasi analis. Penurunan terjadi setelah proyeksi laba perusahaan ke depan lebih lemah dari perkiraan pasar
ETF semikonduktor iShares Semiconductor (SOXX) terjun lebih dari 12%, mencatatkan penurunan harian terburuk sejak pandemi Covid-19 merebak pada Maret 2020.
Saham perusahaan penyedia infrastruktur cloud generasi baru atau neocloud juga ikut melemah. CoreWeave kehilangan hampir 10%, sementara Nebius dan Iren masing-masing merosot sekitar 15% dan hampir 17%.
Tekanan tersebut muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya penolakan masyarakat terhadap industri pusat data setelah hasil pemilu di sejumlah negara bagian.
Investor kini memilih menarik diri dari pasar hingga mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai dampak pemilu paruh waktu terhadap siklus belanja modal (capital expenditure/capex) AI.
"Investor sedang mengambil jarak hingga mereka mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai dampak pemilu paruh waktu terhadap siklus belanja modal AI. Sektor ini merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar yang kita miliki selama sekitar tiga tahun terakhir," kata Tim Holland, Chief Investment Officer Orion, kepada CNBC International.
Menurutnya, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan dan sikap partai yang meraih kemenangan besar, baik di tingkat federal maupun negara bagian.
Tekanan jual pada Kamis begitu kuat hingga merembet ke sektor lain di pasar saham.
Saham raksasa industri Caterpillar turun 6%, sementara saham sektor keuangan JPMorgan merosot 4%. Saham perusahaan dirgantara Boeing dan produsen pakaian olahraga Nike masing-masing terkoreksi 2%.
"Berbeda dengan kemarin, kini kita melihat aksi jual saham teknologi, dengan skala yang begitu besar, mulai merambat ke pasar secara lebih luas. Tekanan pasar semakin membesar," ujar Keith Lerner, Chief Investment Officer Truist Wealth.
Pada Rabu (4/11/2026), Dow Jones melonjak lebih dari 1.500 poin dan mencatatkan kenaikan harian terbaik sejak April 2025 setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilu paruh waktu AS.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga menguat lebih dari 1%. Namun, saham-saham terkait AI justru berada di bawah tekanan, sementara saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi mencatatkan kenaikan.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (6/11/2026), setelah IHSG dan rupiah kompak menguat kemarin. Perkembangan politik Amerika Serikat (AS) pascapemilu sela serta pergerakan harga minyak dunia masih akan menjadi perhatian utama investor.
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi, hasil rapat OJK, serta arah kebijakan pemerintah terkait insentif investasi dan tax holiday.
Sementara itu, dari eksternal, ambruknya Wall Street dan saham teknologi menjadi perhatian besar.
Lonjakan inflasi produsen Zona Euro dan rilis indeks harga pangan dunia FAO turut menjadi sentimen penting bagi pasar keuangan global.
Berikut sentimen dan perkembangan penting yang perlu dicermati pelaku pasar.
1. OJK Ungkap Kondisi Pasar Keuangan RI, dari Tekanan IHSG hingga Kredit Perbankan
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diumumkan pada Kamis (5/11/2026).
OJK memaparkan sejumlah perkembangan sektor jasa keuangan, mulai dari tekanan pasar modal, pertumbuhan kredit perbankan, hingga penguatan pengawasan.
Berikut sejumlah poin penting dari laporan OJK:
a. IHSG Anjlok 16,7%, Asing Kabur Rp16,88 Triliun
OJK mencatat IHSG terkoreksi 16,7% secara bulanan sepanjang Oktober 2026 hingga ditutup di level 5.057. Tekanan tersebut turut dipengaruhi pengumuman MSCI terkait reklasifikasi pasar Indonesia.
Investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp16,88 triliun. Meski demikian, rata-rata nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp16,31 triliun, sementara jumlah investor pasar modal mencapai 33 juta investor.
b. OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal
Hingga Oktober 2026, OJK telah menjatuhkan sejumlah sanksi administratif, meliputi:
-
Denda Rp2,23 triliun kepada 169 pihak.
-
Enam pencabutan izin dan satu pencabutan tanda terdaftar.
-
Lima perintah tertulis.
OJK juga mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat transparansi kepemilikan saham, khususnya free float, serta meningkatkan pengawasan perdagangan dan menyempurnakan perhitungan IHSG.
c. Kredit Perbankan Tumbuh 13,26%
Penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026, sedikit melambat dari 13,65% pada Agustus.
Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit tercatat sebagai berikut:
-
Kredit investasi: 23,22% YoY.
-
Kredit modal kerja: 11,89% YoY.
-
Kredit konsumsi: 4,86% YoY.
Sementara itu, kredit korporasi tumbuh 21,31% YoY, sedangkan kredit UMKM meningkat 2,68% YoY.
d. OJK Selidiki 15 Pialang Asuransi Ilegal
OJK tengah mendalami 15 entitas yang diduga menjalankan kegiatan pialang asuransi dan reasuransi tanpa izin. Sebanyak empat entitas telah memasuki tahap penyidikan.
Di sisi lain, total aset industri asuransi per September 2026 mencapai Rp1.192 triliun, tumbuh 0,98% YoY.
Rasio kecukupan modal (risk based capital/RBC) asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing mencapai 471,95% dan 331%, jauh di atas ketentuan minimum sebesar 120%.
Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar modal masih menghadapi tekanan, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga. Langkah penguatan pengawasan OJK juga menjadi perhatian investor dalam menilai prospek pasar keuangan domestik.
2. Airlangga Optimistis Ekonomi RI Tetap Solid, Pemerintah Evaluasi Tax Holiday
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai ketahanan ekonomi Indonesia serta keberlanjutan insentif investasi.
Dalam konferensi pers Kamis (5/11/2026), Airlangga menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global, mulai dari gejolak harga minyak dunia, tingginya suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga dampak fenomena El Nino yang mencakup sekitar 61% wilayah Indonesia.
Airlangga juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara G20, seperti China (4,5%), Korea Selatan (3,4%), Jerman (1,2%), dan Jepang (0,7%).
Dari sisi investasi, sejumlah perkembangan penting yang disampaikan pemerintah meliputi:
-
Realisasi investasi kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun dengan penyerapan 745.634 tenaga kerja.
-
Investasi hilirisasi mencapai Rp179,9 triliun, tumbuh 19,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).
-
Realisasi investasi secara kumulatif mencapai Rp1.539,2 triliun atau sekitar 75% dari target.
Selain itu, Airlangga turut menyoroti kelanjutan fasilitas pembebasan pajak atau tax holiday bagi investor.
Pemerintah berencana mengevaluasi dan memperbaiki ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang mengatur insentif tersebut. Namun, belum ada kepastian mengenai waktu penerbitan revisi maupun kemungkinan perpanjangan aturan sebelumnya.
Airlangga juga menegaskan pentingnya menjaga rasio investasi sekitar 30% terhadap PDB dan meningkatkan efisiensi investasi melalui penurunan biaya logistik.
Menurutnya, apabila rasio incremental capital output ratio (ICOR) dapat ditekan ke bawah 4, seperti di sejumlah kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri, pertumbuhan ekonomi berpotensi mencapai 7%-7,5%.
Pemerintah memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi masih akan berlanjut pada kuartal IV-2026.
Bagi pelaku pasar, keberlanjutan insentif investasi dan upaya pemerintah meningkatkan efisiensi ekonomi akan menjadi perhatian dalam menilai prospek pertumbuhan Indonesia ke depan.
3. Aturan DHE Direvisi?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi sinyal pemerintah akan mengumumkan aturan baru Devisa Hasil Ekspor (DHE) pada Jumat (6/11/2026). Namun, ia belum mau membocorkan detail kebijakan tersebut.
"Besok. Tunggu besok," kata Airlangga di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Airlangga mengatakan pemerintah juga tengah menyisir regulasi yang menghambat ekspor dan menyiapkan kebijakan untuk mempermudah impor bahan baku bagi kebutuhan ekspor.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan salah satu fokus perubahan aturan DHE adalah mendorong lebih banyak dolar AS hasil ekspor dikonversi ke rupiah guna memperkuat sektor dan pasar keuangan domestik.
"Kita ingin supaya devisa hasil ekspor tersebut bisa dikonversi lebih tinggi, kemudian menjadi penguatan untuk sektor keuangan atau pasar keuangan kita," kata Suahasil, Selasa (3/11/2026).
Menteri Perdagangan Budi Santoso juga mengonfirmasi adanya perubahan aturan DHE yang nantinya akan disosialisasikan kepada pelaku usaha.
Sebagai catatan, aturan DHE Sumber Daya Alam (DHE SDA) telah direvisi tiga kali sejak Maret 2025. Ketentuan terbaru mengacu pada PP Nomor 21 Tahun 2026 yang berlaku sejak 1 Juni 2026.
4. Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Tertinggi Sejak Kuartal I-2026
Kemarin (05/11/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026, menjadi yang tertinggi sejak kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%.
Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 5,29% YoY, sekaligus melampaui konsensus ekonom yang dihimpun CNBC Indonesia sebesar 5,20%.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ), ekonomi Indonesia tumbuh 1,59%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,73% pada kuartal sebelumnya.
Dari sisi nilai, PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada kuartal III-2026 mencapai Rp6.060,4 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.444,9 triliun.
Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Kedua komponen tersebut secara keseluruhan menyumbang 82,78% terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran sebesar 8,95% YoY, didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.
Dari sisi lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,22% YoY, seiring meningkatnya tingkat hunian hotel serta konsumsi masyarakat di restoran dan rumah makan.
Sektor jasa keuangan dan asuransi menyusul dengan pertumbuhan 8,47%, diikuti jasa lainnya sebesar 8,32%.
Meski demikian, industri pengolahan masih menjadi penopang terbesar perekonomian Indonesia dengan kontribusi mencapai 19,22% terhadap PDB.
Selanjutnya, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbang 13,46%, perdagangan 13,24%, konstruksi 10,20%, serta pertambangan dan penggalian sebesar 9,19%.
Kelima sektor tersebut secara keseluruhan menyumbang sekitar 65,31% terhadap PDB nasional.
Realisasi pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik, khususnya dalam memperkuat optimisme investor terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
Namun, pelaku pasar juga akan mencermati keberlanjutan konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah menjelang akhir tahun, di tengah ketidakpastian ekonomi global.
5. Inflasi Produsen Zona Euro Melonjak 11,1%, Tertinggi Sejak Februari 2023
Dari eksternal, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada lonjakan inflasi produsen di kawasan Zona Euro yang menunjukkan meningkatnya tekanan harga, terutama akibat kenaikan biaya energi.
Berdasarkan data Eurostat yang dirilis Kamis (5/11/2026), indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) Zona Euro naik 11,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026.
Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 10,9%, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Februari 2023.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), harga produsen Zona Euro meningkat 2,5% pada September, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 2,0% pada Agustus.
Sementara itu, harga produsen di seluruh Uni Eropa naik 10,9% YoY dan 2,6% secara bulanan.
Lonjakan harga produsen mencerminkan meningkatnya tekanan biaya produksi yang berpotensi diteruskan kepada konsumen dan mendorong inflasi lebih tinggi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Tekanan inflasi yang bertahan tinggi dapat mempersempit ruang pelonggaran suku bunga dan memengaruhi pergerakan euro serta pasar keuangan global.
6. Cadangan Devisa Indonesia
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia periode Oktober 2026 oleh Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada hari ini, Jumat (6/11/2026) pukul 10.00 WIB.
Sebagai gambaran, cadangan devisa Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, sedikit menurun dibandingkan Agustus sebesar US$146,5 miliar yang merupakan level tertinggi dalam lima bulan.
Penurunan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global.
Meski mengalami penurunan, posisi cadangan devisa masih tergolong memadai, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Rilis cadangan devisa Oktober akan menjadi perhatian investor untuk melihat ketahanan sektor eksternal Indonesia, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan dinamika arus modal asing.
Cadangan devisa yang tetap terjaga diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah dan menghadapi gejolak pasar keuangan global.
7. Klaim Tunjangan Pengangguran AS
Klaim awal tunjangan pengangguran (initial jobless claims) di Amerika Serikat (AS) turun 6.000 menjadi 189.000 pada pekan terakhir Oktober. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 196.000 dan turun dari 195.000 pada pekan sebelumnya setelah revisi.
Jumlah tersebut menyamai level terendah dalam 57 tahun yang terakhir tercatat pada pertengahan Juli. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh meskipun menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat.
Laba perusahaan yang solid dan permintaan domestik yang tetap kuat membantu menekan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, perusahaan masih berhati-hati dalam menambah atau mengurangi tenaga kerja di tengah ketidakpastian perang Iran, tingginya biaya energi, kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta kebijakan perdagangan.
8. Data Tenaga Kerja AS
AS akan mengumumkan sejumlah data tenaga kerja pada hari ini, Jumat (6/11/2026) yakni non-farm payrolls (NFP) dan angka pengangguran Oktober 2026 akan dirilis.
Perekonomian Amerika Serikat (AS) diperkirakan menciptakan 65.000 lapangan kerja baru pada Oktober 2026, meningkat dibandingkan penambahan 29.000 pekerjaan pada September. Sektor swasta diproyeksikan menyumbang 64.000 dari total penambahan tersebut.
Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level 4,2%.
Rata-rata upah per jam (average hourly earnings) diproyeksikan naik 0,3% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan masing-masing 0,1% dan 3% pada September.
Secara keseluruhan, laporan ketenagakerjaan ini diperkirakan menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.
9. Bank Sentral Inggris Naikkan Suku Bunga
Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4% pada November 2026. Keputusan ini diambil dengan suara mayoritas 8-1, sesuai ekspektasi pasar.
Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Agustus 2023. Satu anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC), Catherine Mann, bahkan menginginkan kenaikan lebih agresif sebesar 50 bps menjadi 4,25%.
BoE menegaskan kebijakan suku bunga tidak berada pada jalur yang telah ditentukan sebelumnya. Komite akan terus mengevaluasi data ekonomi dalam setiap pertemuan dan menyesuaikan suku bunga sesuai kebutuhan untuk memastikan inflasi konsumen kembali ke target 2% dalam jangka menengah.
Berikut agenda ekonomi hari ini, Jumat (04/11/2026):
-
Sosialisasi Perkembangan DHE SDA dan Tata Kelola Ekspor SDA Strategis yang dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Keuangan,- Menteri Perdagangan,Dirut PT Danantara Sumberdaya Indonesia, dan Kepala BP BUMN
-
Konferensi Pers Gaharu Bumi Innovation Challenge (GBIC)
-
Bank Indonesia (BI) merilis data cadangan devisa Indonesia periode Oktober 2026.
-
BI merilis Survei Harga Properti Residensial (SHPR) kuartal III-2026.
-
BI merilis data uang primer (M0) adjusted periode Oktober 2026.
-
Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar hari kedua Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026, dengan agenda diskusi mengenai investasi saham, reksa dana, ETF, obligasi, dan pasar modal syariah.
-
Zona Euro merilis data penjualan ritel periode September 2026.
-
Food and Agriculture Organization (FAO) merilis indeks harga pangan dunia periode Oktober 2026, pukul 16.00 WIB.
-
Amerika Serikat (AS) dijadwalkan merilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP), tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah periode Oktober 2026, pukul 20.30 WIB.
-
Kanada merilis data ketenagakerjaan dan tingkat pengangguran periode Oktober 2026.
-
AS merilis indeks sentimen konsumen University of Michigan periode November 2026 (awal), pukul 22.00 WIB.
Berikut agenda korporasi hari ini:
- RUPS Rencana PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk
- RUPS Rencana 31-12-2025 Capitalinc Investment Tbk
- RUPS Rencana PT Puri Sentul Permai Tbk
- RUPS Rencana Garuda Indonesia (Persero) Tbk
- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Segar Kumala Indonesia Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim United Tractors Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
- Tanggal DPS HMETD PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk
- Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Pulau Subur Tbk
Berikut indikator ekonomi terbaru:
(slm/slm) Next Article Hujan Kabar Baik, Cuma AS yang Bikin Cemas: IHSG- Rupiah Lanjut Pesta?