MARKET DATA

Laba Emiten Unggas Ramai-Ramai Terbang, JPFA - CPIN Siapa Paling Cuan?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
05 November 2026 15:50
(CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah emiten unggas mencatatkan kinerja moncer hingga kuartal III-2026. Mayoritas perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski kinerja labanya masih beragam.

Dua pemain besar di industri ini, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), bahkan berhasil membukukan laba bersih hingga triliunan rupiah.

Laba bersih CPIN melonjak 54% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp5,18 triliun, sementara JPFA mencatatkan kenaikan laba 34% menjadi Rp3,23 triliun.

Namun, tidak semua emiten unggas menikmati hasil serupa. Dari enam perusahaan yang ditelusuri, ada yang berhasil meningkatkan laba, berbalik untung, hingga masih mencatatkan kerugian.

Dari sisi pendapatan, CPIN masih menjadi yang terbesar dengan perolehan Rp60,20 triliun, disusul JPFA sebesar Rp54,52 triliun.

Namun, pertumbuhan pendapatan tertinggi justru dicatatkan PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU), yang melonjak 62,79% secara tahunan. Kenaikan tersebut belum cukup membawa perusahaan keluar dari kerugian, meski rugi bersihnya sudah menyusut 76,85%.

 

Kondisi berbeda dialami PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk (SIPD). Meski pendapatannya tumbuh 9,3%, perusahaan justru berbalik merugi sebesar Rp59,24 miliar.

Sementara itu, PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) berhasil membukukan laba bersih Rp17,59 miliar setelah mencatatkan kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, pendapatannya turun 9,82% secara tahunan.

Meski berbalik untung, AYAM masih mencatat rugi usaha sekitar Rp806,66 juta. Perolehan laba bersihnya turut ditopang penghasilan lain-lain neto sebesar Rp24,59 miliar.

Sumber Pendapatan Enam Emiten Unggas

Meski sama-sama bergerak di industri perunggasan, keenam emiten tersebut memiliki sumber pendapatan yang berbeda-beda, mulai dari pakan ternak, pembibitan, peternakan ayam, hingga produk olahan.

Pada CPIN, penjualan ayam pedaging menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan nilai Rp26,98 triliun. Bisnis pakan ternak menyusul sebesar Rp20,74 triliun, diikuti ayam olahan Rp8,15 triliun.

Sementara itu, pendapatan JPFA paling banyak berasal dari peternakan komersial sebesar Rp20,73 triliun. Kontribusi berikutnya datang dari pakan ternak Rp15,66 triliun serta produk olahan dan konsumen Rp9,83 triliun.

Berbeda dengan keduanya, MAIN dan SIPD lebih banyak mengandalkan bisnis pakan ternak. Penjualan pakan MAIN mencapai Rp6,75 triliun, sedangkan SIPD sebesar Rp1,82 triliun.

Adapun WMUU memperoleh sebagian besar pendapatannya dari penjualan karkas ayam yang mencapai Rp750,27 miliar. Sementara itu, bisnis anak ayam usia sehari atau day-old chicks (DOC) menjadi penyumbang pendapatan terbesar AYAM, yakni Rp143,89 miliar.

Program MBG Buka Peluang bagi Emiten Unggas

Bisnis keenam emiten tersebut juga menarik dicermati di tengah berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, ayam dan telur menjadi salah satu sumber protein dalam menu program tersebut.

Sejumlah emiten bahkan sudah memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan MBG, meski bentuk keterlibatannya berbeda-beda.

Salah satunya AYAM. Berdasarkan keterangan manajemen pada Maret 2026, perusahaan telah memasok kebutuhan sekitar 50 dapur MBG di wilayah Solo dan Yogyakarta melalui bisnis rumah potong ayam.

JPFA juga telah terlibat dalam penyediaan bahan pangan untuk sejumlah dapur MBG, baik secara langsung maupun melalui koperasi.

Jika kebutuhan pasokan dari dapur MBG terus bertambah, produsen ayam dan telur berpeluang memperluas penjualannya. Peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut juga berpotensi mendorong permintaan anak ayam usia sehari dan pakan ternak, dua bisnis yang turut menjadi sumber pendapatan sejumlah emiten unggas.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular