MARKET DATA
Newsletter

Alert Hari Ini: Wall Street Rontok, Ekonomi RI Melesat, DHE Direvisi?

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
06 November 2026 06:30
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2026 di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana Lantai III, Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2026). (CNBC Indonesia/Dovana H
Foto: Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2026 di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana Lantai III, Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2026). (CNBC Indonesia/Dovana Hosiana)

Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (6/11/2026), setelah IHSG dan rupiah kompak menguat kemarin. Perkembangan politik Amerika Serikat (AS) pascapemilu sela serta pergerakan harga minyak dunia masih akan menjadi perhatian utama investor.

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi, hasil rapat OJK, serta arah kebijakan pemerintah terkait insentif investasi dan tax holiday.

Sementara itu, dari eksternal, ambruknya Wall Street dan saham teknologi menjadi perhatian besar.

Lonjakan inflasi produsen Zona Euro dan rilis indeks harga pangan dunia FAO turut menjadi sentimen penting bagi pasar keuangan global.

Berikut sentimen dan perkembangan penting yang perlu dicermati pelaku pasar.

1. OJK Ungkap Kondisi Pasar Keuangan RI, dari Tekanan IHSG hingga Kredit Perbankan

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diumumkan pada Kamis (5/11/2026).

OJK memaparkan sejumlah perkembangan sektor jasa keuangan, mulai dari tekanan pasar modal, pertumbuhan kredit perbankan, hingga penguatan pengawasan.

Berikut sejumlah poin penting dari laporan OJK:

a. IHSG Anjlok 16,7%, Asing Kabur Rp16,88 Triliun

OJK mencatat IHSG terkoreksi 16,7% secara bulanan sepanjang Oktober 2026 hingga ditutup di level 5.057. Tekanan tersebut turut dipengaruhi pengumuman MSCI terkait reklasifikasi pasar Indonesia.

Investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp16,88 triliun. Meski demikian, rata-rata nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp16,31 triliun, sementara jumlah investor pasar modal mencapai 33 juta investor.

b. OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

Hingga Oktober 2026, OJK telah menjatuhkan sejumlah sanksi administratif, meliputi:

  • Denda Rp2,23 triliun kepada 169 pihak.

  • Enam pencabutan izin dan satu pencabutan tanda terdaftar.

  • Lima perintah tertulis.

OJK juga mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat transparansi kepemilikan saham, khususnya free float, serta meningkatkan pengawasan perdagangan dan menyempurnakan perhitungan IHSG.

c. Kredit Perbankan Tumbuh 13,26%

Penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026, sedikit melambat dari 13,65% pada Agustus.

Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit tercatat sebagai berikut:

  • Kredit investasi: 23,22% YoY.

  • Kredit modal kerja: 11,89% YoY.

  • Kredit konsumsi: 4,86% YoY.

Sementara itu, kredit korporasi tumbuh 21,31% YoY, sedangkan kredit UMKM meningkat 2,68% YoY.

d. OJK Selidiki 15 Pialang Asuransi Ilegal

OJK tengah mendalami 15 entitas yang diduga menjalankan kegiatan pialang asuransi dan reasuransi tanpa izin. Sebanyak empat entitas telah memasuki tahap penyidikan.

Di sisi lain, total aset industri asuransi per September 2026 mencapai Rp1.192 triliun, tumbuh 0,98% YoY.

Rasio kecukupan modal (risk based capital/RBC) asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing mencapai 471,95% dan 331%, jauh di atas ketentuan minimum sebesar 120%.

Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar modal masih menghadapi tekanan, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga. Langkah penguatan pengawasan OJK juga menjadi perhatian investor dalam menilai prospek pasar keuangan domestik.

2. Airlangga Optimistis Ekonomi RI Tetap Solid, Pemerintah Evaluasi Tax Holiday

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai ketahanan ekonomi Indonesia serta keberlanjutan insentif investasi.

Dalam konferensi pers Kamis (5/11/2026), Airlangga menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global, mulai dari gejolak harga minyak dunia, tingginya suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga dampak fenomena El Nino yang mencakup sekitar 61% wilayah Indonesia.

Airlangga juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara G20, seperti China (4,5%), Korea Selatan (3,4%), Jerman (1,2%), dan Jepang (0,7%).

Dari sisi investasi, sejumlah perkembangan penting yang disampaikan pemerintah meliputi:

  • Realisasi investasi kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun dengan penyerapan 745.634 tenaga kerja.

  • Investasi hilirisasi mencapai Rp179,9 triliun, tumbuh 19,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).

  • Realisasi investasi secara kumulatif mencapai Rp1.539,2 triliun atau sekitar 75% dari target.

Selain itu, Airlangga turut menyoroti kelanjutan fasilitas pembebasan pajak atau tax holiday bagi investor.

Pemerintah berencana mengevaluasi dan memperbaiki ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang mengatur insentif tersebut. Namun, belum ada kepastian mengenai waktu penerbitan revisi maupun kemungkinan perpanjangan aturan sebelumnya.

Airlangga juga menegaskan pentingnya menjaga rasio investasi sekitar 30% terhadap PDB dan meningkatkan efisiensi investasi melalui penurunan biaya logistik.

Menurutnya, apabila rasio incremental capital output ratio (ICOR) dapat ditekan ke bawah 4, seperti di sejumlah kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri, pertumbuhan ekonomi berpotensi mencapai 7%-7,5%.

Pemerintah memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi masih akan berlanjut pada kuartal IV-2026.

Bagi pelaku pasar, keberlanjutan insentif investasi dan upaya pemerintah meningkatkan efisiensi ekonomi akan menjadi perhatian dalam menilai prospek pertumbuhan Indonesia ke depan.

3. Aturan DHE Direvisi?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi sinyal pemerintah akan mengumumkan aturan baru Devisa Hasil Ekspor (DHE) pada Jumat (6/11/2026). Namun, ia belum mau membocorkan detail kebijakan tersebut.

"Besok. Tunggu besok," kata Airlangga di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Airlangga mengatakan pemerintah juga tengah menyisir regulasi yang menghambat ekspor dan menyiapkan kebijakan untuk mempermudah impor bahan baku bagi kebutuhan ekspor.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan salah satu fokus perubahan aturan DHE adalah mendorong lebih banyak dolar AS hasil ekspor dikonversi ke rupiah guna memperkuat sektor dan pasar keuangan domestik.

"Kita ingin supaya devisa hasil ekspor tersebut bisa dikonversi lebih tinggi, kemudian menjadi penguatan untuk sektor keuangan atau pasar keuangan kita," kata Suahasil, Selasa (3/11/2026).

Menteri Perdagangan Budi Santoso juga mengonfirmasi adanya perubahan aturan DHE yang nantinya akan disosialisasikan kepada pelaku usaha.

Sebagai catatan, aturan DHE Sumber Daya Alam (DHE SDA) telah direvisi tiga kali sejak Maret 2025. Ketentuan terbaru mengacu pada PP Nomor 21 Tahun 2026 yang berlaku sejak 1 Juni 2026.

4. Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Tertinggi Sejak Kuartal I-2026

Kemarin (05/11/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026, menjadi yang tertinggi sejak kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%.

Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 5,29% YoY, sekaligus melampaui konsensus ekonom yang dihimpun CNBC Indonesia sebesar 5,20%.

Secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ), ekonomi Indonesia tumbuh 1,59%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,73% pada kuartal sebelumnya.

Dari sisi nilai, PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada kuartal III-2026 mencapai Rp6.060,4 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.444,9 triliun.

Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Kedua komponen tersebut secara keseluruhan menyumbang 82,78% terhadap perekonomian nasional.

Sementara itu, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran sebesar 8,95% YoY, didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.

Dari sisi lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,22% YoY, seiring meningkatnya tingkat hunian hotel serta konsumsi masyarakat di restoran dan rumah makan.

Sektor jasa keuangan dan asuransi menyusul dengan pertumbuhan 8,47%, diikuti jasa lainnya sebesar 8,32%.

Meski demikian, industri pengolahan masih menjadi penopang terbesar perekonomian Indonesia dengan kontribusi mencapai 19,22% terhadap PDB.

Selanjutnya, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbang 13,46%, perdagangan 13,24%, konstruksi 10,20%, serta pertambangan dan penggalian sebesar 9,19%.

Kelima sektor tersebut secara keseluruhan menyumbang sekitar 65,31% terhadap PDB nasional.

Realisasi pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik, khususnya dalam memperkuat optimisme investor terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.

Namun, pelaku pasar juga akan mencermati keberlanjutan konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah menjelang akhir tahun, di tengah ketidakpastian ekonomi global.

5. Inflasi Produsen Zona Euro Melonjak 11,1%, Tertinggi Sejak Februari 2023

Dari eksternal, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada lonjakan inflasi produsen di kawasan Zona Euro yang menunjukkan meningkatnya tekanan harga, terutama akibat kenaikan biaya energi.

Berdasarkan data Eurostat yang dirilis Kamis (5/11/2026), indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) Zona Euro naik 11,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026.

Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 10,9%, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Februari 2023.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), harga produsen Zona Euro meningkat 2,5% pada September, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 2,0% pada Agustus.

Sementara itu, harga produsen di seluruh Uni Eropa naik 10,9% YoY dan 2,6% secara bulanan.

Lonjakan harga produsen mencerminkan meningkatnya tekanan biaya produksi yang berpotensi diteruskan kepada konsumen dan mendorong inflasi lebih tinggi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Tekanan inflasi yang bertahan tinggi dapat mempersempit ruang pelonggaran suku bunga dan memengaruhi pergerakan euro serta pasar keuangan global.

6. Cadangan Devisa Indonesia 

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia periode Oktober 2026 oleh Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada hari ini, Jumat (6/11/2026) pukul 10.00 WIB.

Sebagai gambaran, cadangan devisa Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, sedikit menurun dibandingkan Agustus sebesar US$146,5 miliar yang merupakan level tertinggi dalam lima bulan.

Penurunan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global.

Meski mengalami penurunan, posisi cadangan devisa masih tergolong memadai, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Rilis cadangan devisa Oktober akan menjadi perhatian investor untuk melihat ketahanan sektor eksternal Indonesia, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan dinamika arus modal asing.

Cadangan devisa yang tetap terjaga diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah dan menghadapi gejolak pasar keuangan global.

7. Klaim Tunjangan Pengangguran AS

Klaim awal tunjangan pengangguran (initial jobless claims) di Amerika Serikat (AS) turun 6.000 menjadi 189.000 pada pekan terakhir Oktober. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 196.000 dan turun dari 195.000 pada pekan sebelumnya setelah revisi.

Jumlah tersebut menyamai level terendah dalam 57 tahun yang terakhir tercatat pada pertengahan Juli. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh meskipun menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat.

Laba perusahaan yang solid dan permintaan domestik yang tetap kuat membantu menekan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, perusahaan masih berhati-hati dalam menambah atau mengurangi tenaga kerja di tengah ketidakpastian perang Iran, tingginya biaya energi, kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta kebijakan perdagangan.

8. Data Tenaga Kerja AS

AS akan mengumumkan sejumlah data tenaga kerja pada hari ini, Jumat (6/11/2026) yakni non-farm payrolls (NFP) dan angka pengangguran Oktober 2026 akan dirilis.

Perekonomian Amerika Serikat (AS) diperkirakan menciptakan 65.000 lapangan kerja baru pada Oktober 2026, meningkat dibandingkan penambahan 29.000 pekerjaan pada September. Sektor swasta diproyeksikan menyumbang 64.000 dari total penambahan tersebut.



Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level 4,2%.

Rata-rata upah per jam (average hourly earnings) diproyeksikan naik 0,3% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan masing-masing 0,1% dan 3% pada September.

Secara keseluruhan, laporan ketenagakerjaan ini diperkirakan menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.

9. Bank Sentral Inggris Naikkan Suku Bunga

Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4% pada November 2026. Keputusan ini diambil dengan suara mayoritas 8-1, sesuai ekspektasi pasar.

Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Agustus 2023. Satu anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC), Catherine Mann, bahkan menginginkan kenaikan lebih agresif sebesar 50 bps menjadi 4,25%.

BoE menegaskan kebijakan suku bunga tidak berada pada jalur yang telah ditentukan sebelumnya. Komite akan terus mengevaluasi data ekonomi dalam setiap pertemuan dan menyesuaikan suku bunga sesuai kebutuhan untuk memastikan inflasi konsumen kembali ke target 2% dalam jangka menengah.

(slm/slm)


Most Popular
Features