MARKET DATA
Newsletter

Alert Hari Ini: Wall Street Rontok, Ekonomi RI Melesat, DHE Direvisi?

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
06 November 2026 06:30
Ilustrasi SBN ritel. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi SBN ritel. (Dok. Pexels)

Saham-saham Amerika Serikat (AS) rontok pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Penurunan ini menghapus seluruh kenaikan tajam yang terjadi setelah reli pasar menyusul hasil pemilu paruh waktu AS. Investor semakin ramai-ramai meninggalkan saham teknologi di tengah kekhawatiran pembangunan pusat data (data center) akan melambat.

Indeks Nasdaq Composite anjlok 5,52% dan ditutup di level 24.315,00. Indeks yang didominasi saham teknologi tersebut resmi memasuki zona koreksi setelah turun lebih dari 10% dari rekor tertingginya yang dicapai bulan lalu.

Saham Amazon.com dan Alphabet masing-masing turun 2,2%. Indeks Nasdaq 100, yang berisi perusahaan-perusahaan terbesar di Nasdaq, anjlok 6,4% dan menghapus sekitar US$2,5 triliun nilai kapitalisasi pasar.

Aksi jual ini menunjukkan investor mulai memperhitungkan meningkatnya penolakan masyarakat lokal terhadap pembangunan pusat data. Sejumlah analis menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak dan biaya yang harus ditanggung masyarakat AS akibat ekspansi industri tersebut.

"Akan ada banyak penolakan terhadap pembangunan pusat data di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Fasilitas tersebut dapat membebani jaringan listrik dan sistem pasokan air," kata Bruce Zaro, Managing Director Granite Wealth Management di Plymouth, Massachusetts.

Indeks S&P 500 merosot 4,36% ke posisi 7.353,73. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terpangkas 1.833,06 poin atau 3,44% ke level 51.523,06.

Penurunan Dow bahkan menghapus lebih dari seluruh kenaikan yang dicatat dalam reli besar sehari sebelumnya setelah hasil pemilu paruh waktu AS. Ketiga indeks utama Wall Street mencatatkan kinerja harian terburuk sejak April 2025.

Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga terkoreksi 4,45% dan masuk ke zona koreksi.

Saham-saham yang berkaitan dengan perdagangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya industri semikonduktor dan pusat data, kembali tertekan untuk hari kedua berturut-turut.

Investor khawatir kemenangan besar Partai Demokrat di kedua kamar Kongres AS, ditambah keberhasilan mereka dalam sejumlah pemilihan gubernur, dapat memperlambat ekspansi pembangunan pusat data.

Sebagai contoh, Senator Bernie Sanders dari Vermont, yang berkoalisi dengan Partai Demokrat, telah menyerukan moratorium nasional pembangunan pusat data.

Dalam unggahan di platform X pada Rabu malam, Sanders menulis bahwa masyarakat Amerika tidak ingin para oligarki perusahaan teknologi besar merusak lingkungan, memangkas lapangan kerja, dan mengancam masa depan umat manusia.

Saham produsen chip Broadcom dan Nvidia masing-masing anjlok 10% dan 9% pada Kamis. Sementara itu, saham perusahaan perangkat lunak Oracle turun hampir 7%.

Saham semikonduktor lainnya, Qualcomm, juga merosot 9% meskipun perusahaan melaporkan laba yang melampaui ekspektasi analis. Penurunan terjadi setelah proyeksi laba perusahaan ke depan lebih lemah dari perkiraan pasar

ETF semikonduktor iShares Semiconductor (SOXX) terjun lebih dari 12%, mencatatkan penurunan harian terburuk sejak pandemi Covid-19 merebak pada Maret 2020.

Saham perusahaan penyedia infrastruktur cloud generasi baru atau neocloud juga ikut melemah. CoreWeave kehilangan hampir 10%, sementara Nebius dan Iren masing-masing merosot sekitar 15% dan hampir 17%.

Tekanan tersebut muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya penolakan masyarakat terhadap industri pusat data setelah hasil pemilu di sejumlah negara bagian.

Investor kini memilih menarik diri dari pasar hingga mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai dampak pemilu paruh waktu terhadap siklus belanja modal (capital expenditure/capex) AI.

"Investor sedang mengambil jarak hingga mereka mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai dampak pemilu paruh waktu terhadap siklus belanja modal AI. Sektor ini merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar yang kita miliki selama sekitar tiga tahun terakhir," kata Tim Holland, Chief Investment Officer Orion, kepada CNBC International.

Menurutnya, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan dan sikap partai yang meraih kemenangan besar, baik di tingkat federal maupun negara bagian.

Tekanan jual pada Kamis begitu kuat hingga merembet ke sektor lain di pasar saham.

Saham raksasa industri Caterpillar turun 6%, sementara saham sektor keuangan JPMorgan merosot 4%. Saham perusahaan dirgantara Boeing dan produsen pakaian olahraga Nike masing-masing terkoreksi 2%.

"Berbeda dengan kemarin, kini kita melihat aksi jual saham teknologi, dengan skala yang begitu besar, mulai merambat ke pasar secara lebih luas. Tekanan pasar semakin membesar," ujar Keith Lerner, Chief Investment Officer Truist Wealth.

Pada Rabu (4/11/2026), Dow Jones melonjak lebih dari 1.500 poin dan mencatatkan kenaikan harian terbaik sejak April 2025 setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilu paruh waktu AS.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga menguat lebih dari 1%. Namun, saham-saham terkait AI justru berada di bawah tekanan, sementara saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi mencatatkan kenaikan.

(slm/slm)


Most Popular
Features