MARKET DATA
Newsletter

Misi Selamatkan IHSG Mulai Berhasil, Bola Panas Kini Ada di Tangan BI!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 October 2026 06:25
Infografis/Emiten Sultan! Ini 10 Raja Dividen RI, yang Punya Sahamnya Kaya/Ilham Restu
Foto: Infografis/Emiten Sultan! Ini 10 Raja Dividen RI, yang Punya Sahamnya Kaya/Ilham Restu

Pada perdagangan hari ini, pelaku pasar keuangan Indonesia masih akan diselimuti oleh sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.

Perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada hari ini.

Sementara dari luar negeri, keputusan bank sentral China yang kembali mempertahankan suku bunga dan perkembangan pasar tenaga kerja Inggris juga menjadi perhatian pelaku pasar.

1. Aksi Borong Saham BUMN, Danantara Siap Masuk Pasar?

Saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya ramai-ramai menguat pada perdagangan Selasa (20/10/2026), seiring kebangkitan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah mengalami kejatuhan tajam selama dua hari sebelumnya.

Berdasarkan data Stockbit, sebanyak 20 saham BUMN dan anak usahanya kompak ditutup di zona hijau. Tidak ada satu pun saham pelat merah yang aktif diperdagangkan berakhir melemah, sementara enam saham lainnya masih berada dalam status suspensi.

Penguatan paling besar dicatatkan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang melesat 19,28% ke level Rp990 per saham.

Disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang terbang 16,38% ke Rp2.060, serta PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) yang naik 11,86% ke Rp66.

Saham-saham BUMN di sektor pertambangan dan energi juga mencatat kenaikan tajam, seperti PT Timah Tbk (TINS), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang sama-sama menguat lebih dari 10%.

Dari sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melonjak 9,84%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menguat 9,82%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 8,78%.

BBRI menjadi saham BUMN dengan nilai transaksi terbesar, yakni mencapai Rp1,87 triliun.

Secara keseluruhan, nilai transaksi 20 saham BUMN tersebut mencapai sekitar Rp6,34 triliun, dengan BBRI, BMRI, dan TLKM menyumbang hampir Rp4,6 triliun.

Sementara itu, enam saham BUMN lainnya masih berada dalam status penghentian sementara perdagangan atau suspensi, yakni ADHI, INAF, PTPP, WIKA, WSBP, dan WSKT.

Penguatan saham-saham pelat merah tersebut ikut mendorong kenaikan IHSG yang ditutup melesat 5,65% ke level 5.278,89.

Kenaikan indeks juga ditopang sektor infrastruktur yang melonjak 8,8%, disusul sektor keuangan sebesar 6,4% dan barang baku sebesar 4,6%.

Salah satu sentimen yang mendorong optimisme pasar datang dari rencana Danantara untuk menambah kepemilikan saham pada sejumlah perusahaan BUMN.

Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan kesiapan Danantara untuk meningkatkan kepemilikan pada saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menilai sejumlah perusahaan di bawah naungan Danantara masih memiliki kondisi keuangan yang baik, meskipun harga sahamnya mengalami penurunan tajam.

Menurut Rosan, kondisi tersebut justru membuka peluang investasi jangka panjang.

"Justru melihat ini adalah opportunity untuk kita investasi jangka panjang," ujar Rosan, dikutip dari CNBC Indonesia.

Rosan mencontohkan saham-saham perbankan yang saat ini memiliki valuasi relatif rendah. Bahkan, rasio price to book value (PBV) sejumlah saham bank rata-rata sudah berada di bawah satu kali, meskipun kondisi perbankan nasional dinilainya masih sehat dan menawarkan dividen yang menarik.

Danantara berencana melakukan pembelian saham secara bertahap, dengan tetap memperhatikan kondisi pasar.

Rencana tersebut muncul setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar akibat pengumuman MSCI yang membuka kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Sebagai pengingat, IHSG sebelumnya anjlok 11,57% pada Jumat (16/10/2026) dan kembali melemah 3,64% pada Senin (19/10/2026).

Di tengah tekanan tersebut, otoritas pasar modal juga telah mengumumkan sejumlah langkah perbaikan, termasuk rencana BEI mengeluarkan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.

Presiden Prabowo Subianto juga meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat penegakan aturan terhadap pelanggaran di pasar modal, termasuk praktik perdagangan saham yang dilakukan secara terkoordinasi.

Kini, perhatian investor akan tertuju pada pelaksanaan rencana pembelian saham oleh Danantara dan apakah penguatan saham-saham BUMN dapat berlanjut dalam beberapa perdagangan mendatang.

2. Menanti Keputusan BI, Pasar Ramal Suku Bunga Akan Naik

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya pada Rabu (21/10/2026), setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari sejak Selasa kemarin.

Keputusan kali ini menjadi perhatian pelaku pasar, terutama setelah rupiah sempat kembali menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dan pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar akibat pengumuman MSCI.

Berdasarkan hasil polling CNBC Indonesia Research terhadap 13 institusi keuangan, sebanyak 10 responden memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%.

Sementara itu, tiga responden lainnya memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%.

Jika BI benar-benar menaikkan suku bunga, keputusan tersebut akan menjadi kenaikan pertama setelah BI mempertahankan bunga selama tiga bulan berturut-turut.

Sebagai catatan, sepanjang Mei hingga Juni 2026, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps, dari 4,75% menjadi 5,75%, untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi.

Tekanan pasar juga berasal dari kekhawatiran investor terhadap kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai tekanan tersebut tidak lagi hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga berpotensi meluas ke pasar obligasi dan nilai tukar.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan mulai meluas dari pasar saham ke pasar obligasi dan nilai tukar," ujar Josua kepada CNBC Indonesia.

Menurutnya, kenaikan suku bunga dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan mengurangi risiko keluarnya modal asing.

Namun, kenaikan suku bunga tidak serta-merta mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang sedang dihadapi pasar keuangan Indonesia.

"Namun, kenaikan BI-Rate bukan jaminan rupiah langsung menguat, terutama karena sumber tekanan saat ini tidak sepenuhnya berasal dari perbedaan suku bunga, tetapi juga meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar keuangan Indonesia," jelas Josua.

3. Bank Sentral China Kembali Tahan Suku Bunga

Bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC) kembali mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya pada Selasa (20/10/2026), sejalan dengan perkiraan pasar.

Mengutip Reuters, PBOC mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di level 3,00%, sementara LPR tenor lima tahun tetap sebesar 3,50%.

Keputusan tersebut membuat kedua suku bunga tidak berubah selama 17 bulan berturut-turut.

LPR tenor satu tahun banyak digunakan sebagai acuan bunga pinjaman bagi dunia usaha, sementara LPR tenor lima tahun menjadi acuan penting untuk pinjaman jangka panjang, termasuk kredit pemilikan rumah.

Keputusan PBOC kali ini sebenarnya sudah diperkirakan pelaku pasar. Dalam survei Reuters terhadap 22 pelaku pasar, seluruh responden memperkirakan kedua suku bunga tersebut akan tetap dipertahankan.

Salah satu alasan China belum terburu-buru menurunkan suku bunga adalah pertumbuhan ekonominya yang mulai menunjukkan perbaikan.

Data terbaru menunjukkan ekonomi China tumbuh 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2026, meningkat dari 4,3% pada kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut juga melampaui perkiraan pasar dan membuat target pertumbuhan ekonomi pemerintah China sebesar 4,5%-5,0% untuk sepanjang 2026 semakin mungkin tercapai.

Namun, perbaikan ekonomi China masih belum merata.

Kuatnya ekspor menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, sedangkan konsumsi masyarakat, investasi swasta, dan sektor properti masih menghadapi tekanan.

Kondisi tersebut membuat pemerintah China perlu menjaga keseimbangan antara memberikan dukungan bagi perekonomian dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Di tengah keputusan mempertahankan suku bunga, PBOC juga tengah mempertimbangkan perubahan cara menentukan arah kebijakan moneternya.

Salah satu rencana yang sedang dikaji adalah menjadikan suku bunga transaksi pinjaman antarbank bertenor satu hari atau overnight reverse repo sebagai acuan kebijakan utama, menggantikan peran suku bunga reverse repo tenor tujuh hari.

Langkah tersebut bertujuan membuat perubahan kebijakan PBOC lebih cepat memengaruhi suku bunga di pasar keuangan dan biaya pinjaman bagi masyarakat maupun dunia usaha.

Meski demikian, belum ada keputusan final mengenai perubahan tersebut.

Dengan suku bunga pinjaman yang kembali dipertahankan, perhatian pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada langkah pemerintah dan PBOC untuk memperkuat konsumsi domestik serta menjaga pertumbuhan ekonomi China hingga akhir tahun.

4. Pengangguran Inggris Turun ke 4,7%

Pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah tingkat pengangguran turun lebih besar dari perkiraan pada periode Juni hingga Agustus 2026.

Berdasarkan data Office for National Statistics (ONS) yang dirilis Selasa (20/10/2026), tingkat pengangguran Inggris turun menjadi 4,7%, dari 4,9% pada periode sebelumnya.

Angka tersebut juga lebih baik dibandingkan perkiraan pasar yang memperkirakan tingkat pengangguran masih berada di level 4,9%.

Penurunan tersebut membawa tingkat pengangguran Inggris ke posisi terendah sejak pertengahan 2025.

Jumlah pengangguran tercatat sekitar 1,71 juta orang, sedangkan jumlah penduduk yang bekerja mencapai 34,58 juta orang.

Perbaikan juga terlihat dari jumlah pekerja yang tercatat dalam sistem penggajian perusahaan. Pada September, jumlahnya bertambah sekitar 13.000 orang, setelah sebelumnya pasar memperkirakan akan terjadi penurunan.

Sementara itu, pertumbuhan upah pekerja Inggris mulai menunjukkan kenaikan.

Rata-rata upah mingguan di luar bonus meningkat 3,7% secara tahunan dalam tiga bulan hingga Agustus 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 3,6% pada periode sebelumnya.

Namun, kondisi pasar tenaga kerja Inggris belum sepenuhnya pulih.

Jumlah lowongan pekerjaan justru turun menjadi 691.000, posisi terendah di luar masa pandemi sejak 2014.

Penurunan jumlah lowongan tersebut terutama terjadi pada perusahaan-perusahaan kecil yang masih menghadapi kenaikan biaya tenaga kerja.

Mengutip Reuters, kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja Inggris mulai menunjukkan perbaikan, tetapi perusahaan masih berhati-hati dalam membuka lapangan pekerjaan baru.

Perkembangan tersebut juga menjadi perhatian bank sentral Inggris atau Bank of England (BoE), terutama menjelang keputusan suku bunga berikutnya pada 5 November 2026.

Pasar kini semakin memperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,00%, dari posisi saat ini sebesar 3,75%.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut juga dipengaruhi tekanan inflasi akibat tingginya harga energi global di tengah konflik Timur Tengah.

Penguatan pasar tenaga kerja memberi ruang bagi BoE untuk lebih fokus menjaga inflasi tanpa terlalu khawatir terhadap pelemahan ekonomi domestik.

(evw/evw)


Most Popular
Features