MARKET DATA

Gelombang Buyback Serbu Bursa Saham RI: Puluhan Saham Ini Terbang

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 October 2026 11:01
Data IHSG Pasca Lebaran
Foto: Infografis/ Data IHSG Pasca Lebaran/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berbalik menguat setelah terpuruk selama dua hari perdagangan. 

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia melalui Stockbit Sekuritas per pukul 10.03 WIB, IHSG melesat 3,12% atau 156,05 poin ke 5.152,66, kembali menembus level psikologis 5.100.

Sebelumnya, IHSG anjlok sekitar 11,6% pada Jumat (16/10/2026). Penurunan berlanjut pada Senin (19/10/2026), ketika indeks sempat menyentuh 4.907,37 sebelum ditutup melemah 3,64% ke 4.996,61.

Aksi jual besar-besaran terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka kemungkinan menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

MSCI menyoroti keterbukaan kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan pasar. Jika penurunan status terjadi, Indonesia berisiko dikeluarkan dari sejumlah indeks global yang menjadi acuan dana asing.

Namun, keputusan itu belum final. Pelaku pasar masih dapat memberikan masukan hingga 30 April 2027, sementara keputusan MSCI dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Di tengah gejolak tersebut, sejumlah emiten mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham.

Danantara juga menyatakan kesiapan menambah investasi pada saham BUMN yang dinilai memiliki kondisi bisnis yang baik.

Enam Emiten Ramai-Ramai Buyback Saham: Total Capai Rp4,6 Triliun

Sedikitnya enam emiten menyiapkan anggaran buyback dengan nilai gabungan maksimal Rp4,6 triliun. Lima di antaranya terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja, sedangkan satu lainnya adalah PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA).

Dari kelompok Prajogo, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masing-masing mengalokasikan Rp1 triliun. Sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyiapkan Rp500 miliar.

TPIA berencana membeli kembali maksimal 800 juta saham atau sekitar 0,92% dari saham yang diterbitkan. Di sisi lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Grup Sinarmas menyiapkan Rp1 triliun, sementara PBSA menganggarkan Rp100 miliar.

BRPT menjadwalkan pembelian saham hingga akhir Desember 2026, sedangkan DSSA menyiapkan periode hingga 18 Januari 2027. Adapun PBSA berencana menjalankan buyback mulai 20 Oktober 2026 hingga 19 Januari 2027.

Buyback memungkinkan perusahaan membeli kembali sebagian sahamnya yang beredar di pasar. Namun, anggaran yang diumumkan merupakan batas dana maksimal, bukan berarti seluruh dana tersebut sudah dipakai untuk membeli saham.

Pengumuman tersebut beriringan dengan kenaikan sejumlah saham konglomerat. Dari lima saham yang dipantau dalam tabel pergerakan, empat menguat pada Selasa pagi.

Saham BREN memimpin dengan kenaikan 7,63% ke Rp1.975 per saham. TPIA menyusul naik 5,33%, sedangkan BRPT menguat 2,09%.

Salah satu emiten Grup Sinarmas, DSSA, juga melanjutkan kenaikan sebesar 5,48% ke Rp770 per saham. Pergerakan ini menarik karena DSSA sempat menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), yakni batas maksimal penurunan harga harian, pada Jumat lalu.

Pada Senin, DSSA bahkan dibuka di batas ARB Rp665. Namun, sahamnya berhasil keluar dari batas tersebut dan ditutup di Rp730. Dengan demikian, DSSA sudah menguat dua hari berturut-turut.

Berbeda dengan DSSA, CUAN masih berada di zona merah. Saham milik Prajogo ini sebelumnya ditutup ARB pada Jumat di Rp540 dan kembali terkena ARB pada Senin di Rp505.

Pada Selasa pagi ini, CUAN sempat turun ke Rp470 tetapi mampu bergerak naik ke Rp494. Meski sudah lepas dari batas bawah, harganya masih turun 2,18% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di luar keenam emiten tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengumumkan pelaksanaan lanjutan program buyback pada 19-21 Oktober 2026, setelah sebelumnya menjalankan pembelian kembali saham pada April dan Juni.

Saham-Saham Bank Terbang, Apakah Efek Buyback?

Saham perbankan tidak ketinggalan. Enam bank besar yang dipantau semuanya menguat, bahkan lima di antaranya naik lebih dari 5%.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin dengan kenaikan 7,44% ke Rp3.610 per saham. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menyusul dengan lonjakan hampir 7%, sementara BBRI dan BBNI sama-sama menguat lebih dari 5%.

Adapun BBCA kembali menyentuh Rp5.000, setelah sehari sebelumnya terpuruk ke Rp4.820.

Saham bank sempat menjadi sasaran penjualan besar setelah pengumuman MSCI. Pada Jumat, BBCA, BBRI, dan BMRI bahkan sempat menyentuh ARB. Sehari perdagangan berikutnya, BBCA kembali ditutup ARB, sedangkan BBRI sempat menyentuh batas tersebut.

Di tengah tekanan itu, CEO Danantara Rosan Roeslani pada Jumat (16/10/2026) menyebut penurunan harga saham sebagai peluang investasi jangka panjang.

"Kita harus tetap melihat ini suatu opportunity, optimis, kami yakini, dan kami dari Danantara siap masuk," kata Rosan.

COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria pada Senin (19/10/2026) juga membuka peluang penambahan kepemilikan saham BUMN.

"Kalau bagus ya kita beli, terutama saham-saham BUMN kan, dan nanti akan menambah kepemilikannya," ujarnya.

Meski demikian, Danantara belum menyebut saham apa yang akan dibeli maupun besaran dananya. Berbeda dari program buyback yang telah diumumkan emiten, langkah Danantara masih berupa rencana investasi.

Sejumlah investor juga mencermati apakah kenaikan harga saham akan bertahan setelah aksi jual besar dua hari sebelumnya. Apalagi, keputusan MSCI terkait status pasar Indonesia masih menunggu hasil evaluasi.

Kabar buyback dan rencana pembelian saham ini hadir bersamaan dengan penguatan sejumlah saham bank dan konglomerat. Meski memberi sentimen positif, belum dapat dipastikan seberapa besar pengaruh masing-masing kabar terhadap kenaikan harga saham pagi ini.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular