IHSG Terendah Sejak 1 Desember 2020, Ini Perjalanan dalam 4 "Krisis"
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan tekanan jual yang masif pada awal perdagangan hari ini. Indeks acuan pasar modal domestik tersebut anjlok sebesar 5% dan sempat mendarat ke level 5.644,23 pukul 09.57 WIB.
Posisi ini mengalami kemerosotan tajam jika dibandingkan dengan penutupan pada perdagangan sebelumnya yang bertengger di level 5.941,07.
Penurunan indeks secara berkelanjutan ini mengonfirmasi bahwa IHSG telah terperosok kembali dan menyentuh level terendahnya sejak 1 Desember 2020, merefleksikan valuasi agregat pasar yang setara dengan kondisi ketidakpastian pada era pandemi COVID-19.
Sentimen Danantara dan Depresiasi Nilai Tukar Rupiah
Koreksi lanjutan pada indeks acuan ini masih dipicu oleh akumulasi sentimen makroekonomi dan institusional yang belum mereda. Efek dari penurunan prospek (outlook) Danantara Investment Management pada hari sebelumnya terus memberikan tekanan pada preferensi risiko investor institusional.
Tekanan di pasar ekuitas ini berjalan beriringan dengan depresiasi nilai tukar Rupiah yang kini telah menembus level psikologis baru, yakni di angka Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat.
Pelemahan mata uang yang signifikan ini menimbulkan kekhawatiran rasional dari para pelaku pasar terhadap potensi lonjakan beban operasional emiten yang memiliki kewajiban valuta asing dalam porsi besar.
Antisipasi Laporan S&P dan Evaluasi MSCI
Tingkat kerentanan bursa saham saat ini berada pada fase yang krusial, mengingat publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings-yang rumornya telah memicu aksi jual-belum dirilis secara resmi. Di samping itu, volatilitas pasar juga didorong oleh sikap antisipatif investor menjelang dua agenda penting dari MSCI.
Lembaga penyedia indeks global tersebut dijadwalkan akan mempublikasikan Market Accessibility Review pada tanggal 19 Juni, yang kemudian akan disusul oleh pengumuman Classification Review pada tanggal 24 Juni.
Risiko yang mengiringi potensi penyesuaian evaluasi dan klasifikasi dari MSCI tersebut secara logis mendorong investor, khususnya pemodal asing, untuk mempercepat langkah mitigasi dengan mengurangi eksposur aset berisiko di pasar modal Indonesia sebelum pengumuman dilakukan.
Periode Bergejolak Sejak Pandemi 2020
Sejak pandemi Covid-19, IHSG setidaknya mengalami gejolak hebat dalam empat periode yakni pandemi pada 2020-2021, meletusnya perang Rusia-Ukraina (Februari 2022), awal perang dagang (April 2025), dan tahun ini.
CNBC Indonesia mencatat pelemahan dalam periode krisis itu dari penutupan sebelum periode hingga titik terendah. Jarak antara periode sebelum bergejolak dibandingkan titik terendah paling buruk adalah tahun ini yakni 3.000.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google