Barang Dunia Mau ke Mana? China Punya Pelabuhannya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi China dalam pengelolaan pelabuhan dunia menegaskan kuatnya posisi Negeri Tirai Bambu dalam rantai pasok global. Dengan enam dari delapan pelabuhan kontainer tersibuk dunia berada di wilayahnya, China bukan hanya menjadi pusat manufaktur, tetapi juga simpul penting pergerakan barang internasional.
Dukungan infrastruktur yang terintegrasi dengan kawasan industri dan jaringan transportasi membuat produk China lebih mudah menjangkau pasar global.
Di tengah perdagangan dunia yang semakin terhubung, pelabuhan menjadi salah satu modal strategis Beijing untuk mempertahankan pengaruhnya dalam arus barang lintas negara.
Berdasarkan peringkat Lloyd's List 2026 yang menggunakan volume penanganan kontainer sepanjang 2025, Shanghai menjadi pelabuhan tersibuk di dunia dengan 55,1 juta TEUs (twenty-foot equivalent units).
Ukuran ini menghitung kontainer satu TEU yang setara dengan kapasitas satu kontainer standar sepanjang sekitar 6,1 meter, dengan lebar 2,44 meter dan tinggi 2,59 meter.
Shanghai mempertahankan posisi nomor satu selama 16 tahun berturut-turut, dengan volume lebih dari 10 juta TEUs di atas Singapura dan lebih dari lima kali volume Los Angeles, pelabuhan kontainer tersibuk di Amerika Serikat.
Dominasi ini bukan kerja satu pelabuhan saja. Enam dari delapan pelabuhan tersibuk dunia berada di China, sementara seluruh delapan besar terletak di Asia Timur atau Asia Tenggara. Jika Hong Kong turut dihitung, pelabuhan-pelabuhan China menangani sekitar separuh gabungan volume 30 pelabuhan dalam daftar tersebut.
Shanghai juga ditopang jaringan transportasi yang menghubungkannya dengan pusat-pusat industri di sepanjang Sungai Yangtze melalui jalur air dan kereta api. Infrastruktur ini memungkinkan produsen dari wilayah pedalaman China mengirim barang ke pasar internasional.
Ketika manufaktur menyebar ke berbagai negara Asia dan hubungan dagang China dengan Asia Tenggara semakin dalam, pelabuhan-pelabuhan China tetap menjadi simpul penting rantai pasok regional.
Singapura Jadi Penghubung Jalur Pelayaran Dunia
Singapura berada di posisi kedua dengan 44,66 juta TEUs pada 2025, tetapi kekuatannya berbeda dari China. Jika pelabuhan China melayani kawasan manufaktur domestik yang luas, Singapura mengandalkan posisinya sebagai penghubung rute pelayaran internasional.
Terhubung dengan lebih dari 600 pelabuhan di seluruh dunia, Singapura berfungsi seperti bandara transit bagi kontainer. Barang dipindahkan dari satu kapal ke kapal lain sebelum melanjutkan perjalanan, sebuah proses yang dikenal sebagai transshipment.
Pelabuhan ini juga mengandalkan dermaga laut dalam dan derek halaman otomatis bertenaga listrik untuk menangani kapal kontainer berukuran besar.
Kapasitasnya akan terus diperluas melalui Tuas Port, yang dirancang untuk mengonsolidasikan operasi kontainer Singapura di satu lokasi dan ditargetkan mampu menangani 65 juta TEUs per tahun setelah rampung pada 2040-an.
AS Tertinggal Jauh
Los Angeles menjadi pelabuhan kontainer tersibuk di Amerika Serikat, tetapi hanya menempati peringkat ke-18 dunia dengan 10,24 juta TEUs pada 2025. Angkanya jauh di bawah Shanghai maupun Singapura.
Meski begitu, peringkat tersebut tidak menghapus peran strategis Los Angeles. Bersama Long Beach, pelabuhan ini membentuk kompleks San Pedro Bay yang menangani sekitar sepertiga perdagangan internasional Amerika Serikat melalui laut dalam bentuk kontainer pada 2025.
Furnitur, suku cadang kendaraan, dan elektronik menjadi beberapa komoditas impor utama yang melewati Los Angeles. Rute pelayarannya banyak terhubung dengan Asia Timur dan Asia Tenggara, memperlihatkan bagaimana barang hasil manufaktur Asia memasuki pasar rumah tangga, toko, dan bisnis Amerika.
Setelah tiba di pesisir Pasifik, kontainer juga tidak berhenti di California. Alameda Corridor, jaringan kereta api sepanjang sekitar 20 mil, menghubungkan pelabuhan Los Angeles dan Long Beach sehingga barang dapat diteruskan menuju konsumen di wilayah pedalaman Amerika Serikat.
Peta pelabuhan dunia pada akhirnya memperlihatkan China unggul dalam skala, Singapura dalam konektivitas, sementara pelabuhan California menjadi gerbang penting yang menghubungkan manufaktur Asia dengan pasar Amerika.
(mae/mae)