MARKET DATA
Newsletter

Misi Selamatkan IHSG Mulai Berhasil, Bola Panas Kini Ada di Tangan BI!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 October 2026 06:25
Petunjuk jalan Wall Street, New York, AS. (Dok. Pexels)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti berinteraksi dengan Dewan Gubernur Bank Indonesia jelang Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan September 2026 di Ruang Konferensi Pers, Gedung Thamrin Lantai 1, Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, (23/9/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup beragam pada perdagangan Selasa (20/10/2026) atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Kinerja positif sejumlah emiten dan penurunan harga minyak berhasil mengangkat sentimen pasar, mengimbangi tekanan yang masih membayangi saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 529,85 poin atau 1,02% ke level 52.495,88. Indeks S&P 500 naik 0,28% ke posisi 7.712,57. Sebaliknya, Nasdaq Composite terkoreksi tipis 0,02% ke level 26.424,82.

Penguatan Dow Jones ditopang lonjakan saham produsen produk industri dan keselamatan 3M yang melesat lebih dari 5%. Kinerja laba perusahaan tersebut melampaui ekspektasi pasar, sekaligus mendorong manajemen menaikkan proyeksi kinerja setahun penuh.

Saham perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan Northrop Grumman juga menguat lebih dari 4% setelah membukukan laba di atas perkiraan analis.

Dari pasar komoditas, harga minyak dunia terkoreksi setelah sempat menguat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,8% ke US$101,79 per barel. Sementara itu, minyak Brent melemah 0,7% ke US$108,79 per barel.

Penurunan harga minyak, yang turut diikuti pelemahan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, membantu memperbaiki sentimen investor. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.

Saham AI Masih Dibayangi Kekhawatiran

Di sisi lain, saham-saham teknologi masih menghadapi tekanan akibat kekhawatiran terhadap keberlanjutan reli AI. Investor mulai mempertanyakan besarnya utang yang digunakan perusahaan untuk membangun infrastruktur AI serta prospek permintaan yang mampu menopang investasi jumbo tersebut.

Sentimen sektor teknologi sempat tertekan setelah perusahaan AI asal Korea Selatan, Elice, anjlok lebih dari 30% dalam debut perdagangannya di bursa. Pergerakan tersebut turut membebani pasar saham Korea Selatan dan menyeret sejumlah bursa Asia-Pasifik.

Meski demikian, sejumlah saham terkait AI mulai bangkit sepanjang perdagangan. Western Digital menguat lebih dari 3%, sedangkan Seagate Technology naik lebih dari 2%. Saham CoreWeave dan Marvell Technology masing-masing menguat lebih dari 1%.

Sebelumnya, S&P 500 ditutup di zona hijau pada Senin, sementara Nasdaq Composite melesat lebih dari 1%. Penguatan tersebut menjadi upaya pemulihan setelah aksi jual pekan lalu, ketika kekhawatiran terhadap besarnya utang untuk pembangunan infrastruktur AI semakin meningkat.

Jake Behan, Kepala Pasar Modal Direxion, menilai hubungan antara kenaikan suku bunga dan pertumbuhan saham mulai menghadapi ujian.

Sepanjang tahun ini, pasar cenderung mengabaikan kenaikan suku bunga karena prospek pertumbuhan, terutama dari sektor AI, dinilai cukup kuat untuk membenarkannya. Namun, dinamika tersebut mulai berubah pada pekan lalu.

Menurut Behan, laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa (hyperscalers) dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi ujian besar berikutnya bagi reli saham AI.

Investor diperkirakan akan lebih mencermati proyeksi pengembalian investasi (return on investment/ROI), belanja pusat data, serta belanja modal (capital expenditure/capex) untuk 2027 ketimbang sekadar angka laba kuartalan.

Dengan demikian, arah saham teknologi ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan membuktikan bahwa investasi AI bernilai besar benar-benar mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan.

(evw/evw)


Most Popular
Features