MARKET DATA
Newsletter

Jurus Penyelamatan Dikerahkan, Mampukah IHSG Lolos dari Badai MSCI?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 October 2026 06:25
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: REUTERS/Andrew Kelly

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Senin (19/10/2026) atau Selasa dini hari waktu Indonesia.

Wall Street menguat seiring investor kembali memburu saham teknologi setelah sektor tersebut dihantam aksi jual besar-besaran pekan lalu akibat kekhawatiran terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 1,11% ke level 26.430,89. S&P 500 menguat 0,41% dan ditutup di posisi 7.690,73. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 36,38 poin atau 0,07% ke level 51.966,03.

Saham Intel menguat 2% setelah analis JPMorgan menaikkan rekomendasi terhadap produsen cip tersebut. Advanced Micro Devices (AMD) naik 1,8%, sementara Micron Technology melonjak sekitar 3%.

 

Namun, saham CoreWeave, salah satu pemain utama di industri neocloud, berbalik arah dari penguatan sebelumnya dan ditutup turun 0,4%. Pelemahan terjadi meskipun Goldman Sachs menaikkan rekomendasi saham perusahaan tersebut.

Pekan lalu, saham CoreWeave anjlok lebih dari 25%, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak November 2025, di tengah kekhawatiran investor terhadap beban utang perusahaan.

Saham Teknologi Tertekan, Investor Mulai Cemas soal AI

Pekan lalu menjadi periode berat bagi pasar saham Amerika Serikat (AS). S&P 500 terkoreksi hampir 2%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni.

Nasdaq bahkan terpuruk 4,5%, sekaligus mengakhiri tren kenaikan selama empat pekan berturut-turut.

Sektor teknologi informasi juga merosot lebih dari 6%, mencatat kinerja mingguan terburuk sejak April 2025.

Berdasarkan data Goldman Sachs, sektor teknologi menjadi sektor global dengan aksi jual bersih terbesar pekan lalu. Bahkan, hedge fund tercatat menjual saham teknologi dalam proporsi terbesar sepanjang sejarah pencatatan data tersebut.

 

Kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi AI semakin mengemuka setelah CNBC melaporkan bahwa pendapatan Anthropic pada kuartal III-2026 mencapai US$16,8 miliar, naik dari US$11,6 miliar pada kuartal sebelumnya.

Meski pendapatan meningkat, angka tersebut justru memunculkan pertanyaan di kalangan investor mengenai kecepatan pertumbuhan bisnis AI di tengah besarnya investasi yang digelontorkan untuk membangun infrastruktur teknologi tersebut.

Tekanan juga menjalar ke pasar obligasi korporasi.

Investor mulai menghindari utang CoreWeave, sementara kontrak credit default swaps (CDS) perusahaan tersebut telah mencapai level yang mengindikasikan tekanan kredit serius.

Chief Investment Officer LNW Ron Albahary menilai pergerakan spread obligasi CoreWeave menunjukkan perubahan pandangan investor terhadap anggapan bahwa investasi AI relatif kebal terhadap kenaikan suku bunga.

Menurutnya, apabila pertumbuhan laba mulai melambat, pasar berpotensi menjadi semakin rentan.

 

"Investor akan jauh lebih selektif dalam menilai apakah perusahaan-perusahaan ini mampu menghasilkan tingkat pengembalian modal yang cukup untuk membenarkan utang yang mereka ambil," ujarnya.

Sebelum aksi jual terbaru terjadi, lanjut Albahary, investor cenderung berasumsi bahwa seluruh investasi AI akan membuahkan hasil. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Harga Minyak Bergejolak, Konflik Energi Jadi Sorotan

Di luar sektor teknologi, pelaku pasar juga mencermati perkembangan pasar minyak di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal di Teluk Persia serta aksi saling serang Rusia dan Ukraina terhadap infrastruktur energi.

Pada Minggu (18/10/2026), Ukraina menyerang terminal minyak di St. Petersburg, Rusia. Gangguan terhadap infrastruktur energi tersebut memicu kekhawatiran bahwa tekanan pasokan dapat berlangsung hingga 2027.

Kontrak berjangka minyak untuk pengiriman jangka panjang mulai bergerak naik seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Pada perdagangan Senin, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman terdekat ditutup naik 2,22% ke US$103,66 per barel. Sebaliknya, minyak mentah Brent turun 0,28% menjadi US$109,55 per barel.

Laporan Keuangan Raksasa Teknologi Jadi Penentu

Pekan ini, perhatian investor akan tertuju pada rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, termasuk Meta Platforms dan Tesla.

 

Hasil kinerja kedua perusahaan tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai prospek bisnis teknologi dan membantu menstabilkan pergerakan pasar saham setelah gejolak pekan lalu.

Bagi investor, pertanyaan utamanya kini bukan sekadar seberapa besar potensi AI, melainkan apakah pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan teknologi mampu mengimbangi besarnya investasi serta risiko utang yang menyertainya.

(evw/evw)


Most Popular
Features