Asia Tak Kompak: Won Menguat, Rupiah-Peso Malah Ambruk Berjamaah
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak beragam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (19/10/2026). Dolar AS memang kembali terkoreksi pagi ini, tetapi greenback masih bertahan di level tinggi, membuat respons mata uang Asia belum seirama.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak empat mata uang menguat, empat melemah, dan dua lainnya stagnan terhadap dolar AS.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini. Won terapresiasi 0,28% ke posisi KRW1.330,4/US$.
Yuan China menyusul dengan penguatan 0,06%, sementara yen Jepang menguat 0,03% dan dolar Singapura naik tipis 0,02%.
Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah melemah 0,23%. Rupiah menyusul dengan pelemahan 0,22% ke posisi Rp18.040/US$.
Dolar Taiwan melemah 0,19%, sedangkan baht Thailand terkoreksi 0,09%. Sementara dong Vietnam dan ringgit Malaysia bergerak stagnan.
Dolar AS sedikit kehilangan tenaga pada perdagangan Asia pagi ini. Indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,06% ke posisi 101,777.
Pergerakan dolar pagi ini juga dipengaruhi tekanan terhadap euro setelah gejolak politik di Prancis kembali meningkat.
Aksi protes terkait biaya hidup di Prancis berubah menjadi kerusuhan pada akhir pekan. Kondisi tersebut menekan euro dan secara tidak langsung membantu menahan pelemahan dolar AS karena euro memiliki bobot terbesar dalam perhitungan DXY.
"Gejolak akhir pekan lebih berdampak pada euro melalui pasar obligasi Prancis ketimbang secara langsung," ujar Kieran Williams, kepala valuta Asia InTouch Capital Markets, dikutip dari Reuters.
Pasar juga mulai bersiap menghadapi pekan menjelang keputusan suku bunga The Federal Reserve/The Fed pada 28 Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 84% The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut.
Ekspektasi The Fed menahan bunga menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan dolar. Namun, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati menjelang keputusan bank sentral AS dan Bank Sentral Eropa pada pekan berikutnya.
Harga minyak turut memberikan sedikit kelegaan. Brent turun sekitar 1,7% ke US$108,02 per barel setelah Presiden AS Donald Trump membebaskan sejumlah sanksi dan tarif terhadap Rusia, yang berpotensi meningkatkan kembali ekspor bahan bakar Rusia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)