MARKET DATA

Asia Tak Kompak Hadapi AS: Ringgit-Yen Menguat, Rupiah di Zona Merah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
31 August 2026 10:05
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak tak senada dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (31/8/2026). 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.17 WIB, dari sembilan mata uang Asia yang dipantau, sebanyak lima mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara empat lainnya melemah.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Ringgit naik 0,20% ke posisi MYR 4,022/US$.

Yen Jepang menyusul dengan kenaikan 0,16% ke posisi JPY 159,77/US$. Won Korea Selatan turut menguat 0,12% ke KRW 1.374,87/US$.

Dolar Singapura juga bergerak positif dengan penguatan 0,09% ke SGD 1,273/US$, sementara yuan China naik 0,06% ke CNY 6,722/US$.

Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,34% ke posisi Rp17.745/US$.

Peso Filipina dan baht Thailand juga sama-sama melemah 0,09%, masing-masing ke posisi PHP 62,281/US$ dan THB 33,15/US$. Dolar Taiwan turut terkoreksi 0,04% ke TWD 31,645/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.20 WIB terpantau melemah 0,12% ke posisi 99,581.

Namun, pelemahan DXY pagi ini terjadi setelah pada perdagangan Jumat dolar AS menguat cukup tajam. DXY sebelumnya ditutup naik 0,55%, seiring pernyataan Ketua The Federal Reserve/The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole.

Kenaikan dolar AS pada akhir pekan lalu membuat sebagian mata uang Asia masih terlihat tertekan pada perdagangan pagi ini. Beberapa mata uang baru merespons penguatan greenback tersebut setelah memasuki perdagangan hari ini, termasuk rupiah.

Dolar AS menguat pada Jumat setelah Warsh memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin diperlukan apabila The Fed menilai inflasi belum bergerak menuju target 2%.

Dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole, Warsh mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan jika inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Pernyataan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga AS.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed minimal 25 basis poin pada rapat September melonjak menjadi 57,5% setelah komentar Warsh. Sebelumnya, peluang tersebut berada di sekitar 35% sebelum pidato tersebut.

Eugene Epstein, head of trading and structured products Moneycorp, menilai pasar masih akan mencermati apakah The Fed benar-benar akan menindaklanjuti sinyal tersebut.

"Jika The Fed tidak menindaklanjutinya lagi, saya tidak ingin terlalu dramatis dengan mengatakan kredibilitasnya terkikis, tetapi menurut saya cara yang lebih tepat adalah pasar akan melihat komentarnya ke depan dengan sangat hati-hati," ujar Epstein, dikutip dari Reuters.

Dolar AS juga mencatat penguatan mingguan. Greenback naik hampir 0,9% dalam sepekan dan berada di jalur kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular