MARKET DATA

Mata Uang Asia Tak Kompak: Won Melemah, Rupiah-Ringgit Menguat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
15 July 2026 10:05
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak seirama pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Sebagian mata uang Asia mampu menguat, tetapi beberapa lainnya masih tertahan di zona merah.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak lima mata uang menguat terhadap dolar AS, empat mata uang melemah, dan satu mata uang stagnan.

Penguatan paling tajam dicatatkan ringgit Malaysia yang naik 0,27% ke posisi MYR 4,065/US$. Rupiah menyusul di posisi kedua. Mata uang Garuda naik 0,22% ke posisi Rp18.040/US$. 

Yen Jepang juga menguat 0,10% ke posisi JPY 162,05/US$, disusul baht Thailand yang naik 0,06% ke THB 33,48/US$. Yuan China turut bergerak positif dengan penguatan 0,05% ke CNY 6,766/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan terdalam setelah melemah 0,13% ke posisi KRW 1.490,96/US$.

Dolar Singapura juga melemah 0,07% ke SGD 1,289/US$, sementara peso Filipina terkoreksi 0,06% ke PHP 61,609/US$. Dong Vietnam melemah tipis 0,02% ke VND 26.265/US$.

Adapun dolar Taiwan bergerak stagnan di posisi TWD 32,141/US$.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,12% ke posisi 100,798 pada pagi ini. Penguatan tipis ini terjadi setelah dolar AS sempat melemah tajam hingga 0,31% pada perdagangan terakhirnya.

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia setelah data inflasi AS periode Juni lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut sempat meredakan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Di saat bersamaan, Ketua The Fed Kevin Warsh juga memberikan testimoni perdana di hadapan Kongres AS.

Warsh mengatakan bank sentral AS tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang terus-menerus tinggi. Ia juga menyebut jika kebijakan The Fed berjalan tepat, lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir dapat menjadi bagian dari masa lalu.

Namun, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin tekanan inflasi sudah benar-benar reda. Konflik AS-Iran yang kembali memanas membuat harga energi naik dan menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap hidup.

Uto Shinohara, senior investment strategist Mesirow Currency Management, menilai prospek inflasi masih belum jelas meski data CPI AS lebih lunak.

"Dengan inflasi yang tetap berada di atas target selama bertahun-tahun, ditambah ketegangan geopolitik baru yang menjaga risiko inflasi berbasis energi tetap tinggi dan perubahan sikap Trump dari rencana biaya perlindungan 20% menuju kesepakatan perdagangan dan investasi, prospek inflasi secara luas masih tidak pasti meski laporan CPI lebih lemah," ujar Shinohara, dikutip dari Reuters.

Ketegangan di Teluk juga kembali meningkat. Pasukan AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan yang membuat lalu lintas laut melalui Selat Hormuz hampir kembali berhenti. Kondisi tersebut membuat harga minyak acuan Brent terdorong ke atas US$85 per barel.

Oleh sebab itu, investor kembali mencermati risiko inflasi dari harga energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, tekanan inflasi global dapat kembali meningkat dan mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli memang turun menjadi 16%, dari 42% pada Senin (13/7/2026), berdasarkan CME FedWatch. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini masih cukup besar, yakni sekitar 80%.

Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya mengatakan suku bunga mungkin perlu naik dalam waktu dekat jika data menunjukkan inflasi masih jauh di atas target 2%.

Shawn Snyder, economic strategist Potomac Fund Management, menilai sikap The Fed yang keras terhadap inflasi masih dapat memberi ruang bagi dolar AS untuk kembali menguat.

"Jika Chair Warsh serius bahwa lonjakan inflasi lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu, kita harus mempertimbangkan apakah siklus pengetatan ini akan menjadi sedikit lebih menyakitkan dari yang saat ini diperkirakan," ujar Snyder.

Snyder juga menambahkan jika hal tersebut terjadi maka dolar AS masih berpotensi mengalami penguatan ke depannya.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular