Yuan, Rupiah - Won Ambruk Jelang The Fed, Cuma 3 Negara Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi (29/7/2026).
Pasar cenderung menahan posisi menjelang keputusan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), sementara ketegangan Timur Tengah kembali menjaga permintaan terhadap dolar AS.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, tujuh mata uang diantaranya harus mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Sementara tiga lainnya menguat.
Rupiah kembali berada dalam jajaran mata uang yang tertekan. Mata uang Garuda melemah 0,28% ke posisi Rp18.105/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin melemah dan tembus level psikologis barunya di Rp18.100/US$.Â
Tekanan terdalam pagi ini dialami dolar Taiwan yang melemah 0,35% ke posisi TWD 32,47/US$. Peso Filipina juga terkoreksi cukup dalam, yakni 0,17% ke posisi PHP 61,547/US$.
Won Korea Selatan turun tipis 0,02% ke posisi KRW 1.453,2/US$, sementara yuan China melemah 0,01% ke CNY 6,7715/US$. Dong Vietnam dan baht Thailand sama-sama melemah 0,03%, masing-masing ke posisi VND 26.338/US$ dan THB 33,50/US$.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih mampu menguat. Ringgit Malaysia menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan 0,10% ke posisi MYR 4,085/US$.
Yen Jepang juga menguat 0,07% ke posisi JPY 163,7/US$, sementara dolar Singapura naik tipis 0,02% ke posisi SGD 1,292/US$.
Â
Pelemahan mayoritas mata uang Asia pagi ini terjadi ketika dolar AS masih berada di area tinggi. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini berada di posisi 101,405 atau melemah tipis 0,01%.
Meski DXY dalam data pagi ini terlihat terkoreksi, posisi dolar AS masih dekat dengan level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Greenback tetap mendapat dukungan dari permintaan aset aman setelah ketegangan di Timur Tengah kembali memanas.
Pergerakan mata uang pada awal perdagangan Asia juga cenderung terbatas. Investor memilih menunggu keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan pada Rabu waktu setempat.
Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 33% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Peluang tersebut membuat dolar AS tetap ditopang, meski tidak semua pelaku pasar meyakini The Fed akan langsung menaikkan suku bunga pada rapat kali ini.
Fabien Yip, analis pasar IG, menilai The Fed masih membutuhkan petunjuk lebih jelas mengenai seberapa lama risiko inflasi akan bertahan.
"Saya masih berpikir The Fed akan membutuhkan lebih banyak indikasi mengenai berapa lama risiko inflasi akan berlangsung," ujar Yip, dikutip dari Reuters.
Yip memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Rabu. Namun, ia menilai dolar AS masih akan relatif kuat karena ketidakpastian di Timur Tengah belum reda.
"Dolar AS akan relatif kuat karena ketidakpastian yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Namun, pada saat yang sama, jika melihat kebijakan bank sentral, AS tampaknya berada dalam posisi yang lebih baik untuk mempertahankan sikap hawkish dibandingkan bank sentral lainnya," ujar Yip.
Tekanan terhadap yen juga masih menjadi perhatian. Dolar AS berada di sekitar 101,43 terhadap sekeranjang mata uang utama dan sempat naik tipis terhadap yen ke JPY163,88/US$. Kondisi ini menjaga tekanan terhadap yen yang masih bergerak di sekitar level terlemah dalam 40 tahun.
Hirofumi Suzuki, chief FX strategist SMBC, menilai keputusan FOMC dan konferensi pers ketua The Fed dapat memicu penguatan dolar AS lebih lanjut.
"Ada kemungkinan keputusan kebijakan FOMC dan konferensi pers ketua The Fed dapat memicu penguatan dolar lebih lanjut, mendorong USD/JPY ke 164," ujar Suzuki, dikutip dari Reuters.
Ia juga menilai peluang intervensi valuta asing oleh otoritas Jepang cukup besar, terutama jika yen kembali melemah setelah rapat kebijakan Bank of Japan/BOJ.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google