MARKET DATA

Mata Uang Asia Hijau Royo-Royo: Rupiah-Won Menguat, 2 Negara Menangis

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
07 July 2026 10:17
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mayoritas menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Pelemahan indeks dolar AS memberi ruang bagi sejumlah mata uang kawasan untuk bergerak ke zona hijau.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak tujuh mata uang menguat terhadap dolar AS, dua mata uang melemah, dan satu mata uang stagnan.

Rupiah ikut bergerak positif, meski penguatannya masih tipis. Mata uang Garuda naik 0,03% ke posisi Rp17.980/US$. Dengan posisi tersebut, rupiah masih berada sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.

Penguatan paling tajam pagi ini terlihat pada won Korea Selatan dan ringgit Malaysia. Keduanya sama-sama menguat 0,15% terhadap dolar AS. Won berada di posisi KRW 1.526,76/US$, sementara ringgit berada di MYR 4,076/US$.

Yen Jepang juga menguat 0,14% ke posisi JPY 161,85/US$, disusul yuan China yang naik 0,12% ke CNY 6,787/US$. Peso Filipina turut naik 0,09% ke PHP 61,395/US$, sementara dolar Singapura menguat 0,08% ke SGD 1,291/US$.

Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,16% ke posisi TWD 32,047/US$. Baht Thailand juga terkoreksi 0,06% ke THB 33,29/US$. Adapun dong Vietnam bergerak stagnan di posisi VND 26.299/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,02% ke posisi 100,829 pada pagi ini.

Pelemahan ini terjadi saat pelaku pasar kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), pada tahun ini.

Dolar AS juga berada dalam tekanan setelah data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan hasil yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut membuat pasar menilai The Fed tidak akan terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga.

Pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sekitar 29 basis poin hingga Desember tahun ini.

Angka ini turun dari sekitar 38 basis poin pada pekan sebelumnya. Artinya, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga AS mulai turun.

Carol Kong, currency strategist Commonwealth Bank of Australia, menilai harga pasar saat ini kemungkinan terlalu rendah dalam memperhitungkan arah suku bunga The Fed.

"Saya pikir harga pasar saat ini mungkin sedikit terlalu rendah. Kami masih berpikir FOMC harus mulai melakukan pengetatan mulai Desember. Pasar berpikir siklus kenaikan suku bunga akan dimulai sedikit lebih cepat dari perkiraan kami, tetapi besaran kenaikannya masih di bawah ekspektasi kami," ujar Kong, dikutip dari Reuters.

Perhatian pasar kini bergeser ke risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni yang akan dirilis pada Rabu besok waktu AS. Risalah tersebut akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Namun, Kong menilai risalah rapat kali ini bisa saja tidak terlalu banyak memberi arahan bagi pasar. Hal ini karena Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai tidak terlalu menyukai pemberian panduan ke depan atau forward guidance.

"Kami tahu bahwa Warsh tidak suka memberikan forward guidance, jadi saya pikir risalah besok mungkin akan kurang informatif dibandingkan risalah sebelumnya," ujar Kong.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular